Rumit Part 17

1911 Words
Jam dinding menjunjukkan pukul 22.00 WIB. Ara memiringkan posisi tubuhnya menghadap kekasihnya. El sudah tidur dengan posisi miring menghadapnya. Dia mengusap lembut wajah pria itu. Perlahan dia meneteskan air mata. Dia menangis tanpa suara. Isak tangis yang ingin keluar dari mulutnya dia redam. Dia sangat mencintai lelaki itu. Dia tidak ingin kehilangannya. Pria itu seperti malaikat yang datang menolongnya. Sejak kecil dia hidup sebatang kara. Tidak punya siapapun. Dia juga harus bertahan hidup dengan berjuang sendirian. Hidup di jalanan sehingga dia sampai pada titik paling rendah yaitu dia terjebak menjadi wanita malam. Dia terpaksa harus kehilangan kehormatannya demi menyambung hidupnya. Sejak usia 16 tahun dia sudah menjadi gadis malam. Dia harus menamani p****************g. Dia juga dilecehkan dan mendapatkan kekerasan. Namun, semua kepahitan itu berakhir sejak dia bertemu kekasihnya. El pria baik yang dia temukan. Pria itu menyelamatkannya. Pria itu yang mengubah hidupnya. Pria itu yang memberikannya kebahagian. Sayangnya, semua tidak berjalan semanis itu. El pria terhormat. Memiliki keluarga yang terpandang sehingga dia sulit menyatu dengan pria itu. Bahkan sampai detik ini dia hanya menjadi kekasih pria itu. Tidak lebih. Hanya sebatas pacar! Sampai pada detk inipun dia tidak tahu keluarga El seperti apa. Pria itu terus saja meyembunyikannya. Merahasiakannya seolah hubungan mereka ini tidaklah begitu penting. Dia yang tadinya merasa spesial kini perlahan-lahan merasa dia ini sebernya tidak terlalu istimewa bagi kekasihnya. Dia yakin pria yang sebenar-benarnya cinta itu pasti memperjuangkan wanitanya. Tetapi El tidak melakukan itu. Meskipun El selalu memberikan alasan yang kuat dan janji-janji yang manis, tapi dia meragukan itu semua. “Kamu sebenarnya mencintai aku atau tidak, El?” “Aku butuh kepastian kamu. Aku sudah terlalu lama menunggu. Hiks …” “Jika memang bukan aku yang kamu mau, aku sebaiknya pergi.” “Lebih baik aku seperti dulu. Aku bahagia sama kamu tapi aku juga perlu kepastian kamu. Aku tidak ingin kamu sekedar menjadikan aku tempat persinggahan. Aku ingin kamu sepenuhnya jadi milik aku.” “Jika memang terlalu berat untuk kamu, kamu bilang. Jangan biarkan aku terus menunggu. Hiks …” El membuka matanya. Dia terbangun dan mendapati Ara yang menangis. “Kamu kenapa?” tanyanya sambil memeluk wanita itu. Dia sering mendapati kekasihnya itu menangis tengah malam. Jadi sudah terbiasa. “Gapapa,” jawab Ara. “Tidur lagi ya,” pinta El sembari mengelus-elus punggung kekasihnya. “Setiap kali kamu memeluk aku, aku selalu merasa bahwa kamu itu bukan milik aku,” ucap Ara dalam hati. *** Pagi. Ara membuka tirai jendela. Cahaya matahari masuk dan menyinari wajah El. El mengerjapkan matanya. Dia terbangun dan melihat kekasihnya yang berdiri di depan jendela. Wanita itu tersenyum manis padanya. El mendudukan diri. Ara menghampirinya. “Good morning, Sayang,” sapa wanita itu. “Morning.” Ara mengecup bibir El. “Ayo bangun.” “Jam berapa sekarang?” “Tujuh.” “Siapkan pakaian aku.” El beranjak pergi mandi. Ara ke lemari. Dia mengambil pakaian untuk kekasihnya lalu menyimpannya di atas kasur. Tidak beberapa menit kemudian El selesai mandi. Dia membantu El berpakaian. Dia juga memasangkan El dasi dan menyisirkan rambut pria itu. El sudah rapi. Dia menghadap kekasihnya lalu memeluknya. “Aku berangkat dulu ya.” “Kamu nggak sarapan dulu?” “Nanti aja. Aku buru-buru.” “Hati-hati ya, kalau sampai jangan lupa kabarin aku.” El mengangguk. Ara memberikan tas El kepada kekasihnya itu. El mengecup puncak kepala Ara lalu tersenyum lebar. Ara mengatar El sampai ke mobil. Ketika El sudah mau beranjak pergi dia melambaikan tangan sambil mengukir senyum. El sudah pergi, dia kembali ke apartemennya. Sampai apartemen raut wajah Ara yang tadi tampak ceria di depan kekasihnya kini berubah menjadi muram. Dia masuk ke kamar. Dia duduk di depan cermin melihat bayangan dirinya. “Apa yang kamu harapkan?” “Dia itu tidak sungguh-sungguh dengan kamu.” “Dia hanya mempermainkan kamu.” “Dia tidak mungkin jadi milik kamu.” “Kalian itu seperti langit dan bumi.” “Dia begitu jauh. Kamu nggak akan bisa menggapainya.” “Kalian itu berbeda.” “Kamu siapa?” “Kamu hanya barang murah.” “Keegoisan kamu hanya akan menghancurkan dia dengan keluarganya.” Ara menundukkan kepalanya. “Tapi aku mencintainya.” “Aku ingin mendapatkannya.” “Dia satu-satunya yang aku miliki.” “Apa aku juga harus kehilangan dia?” Dia menitikkan air mata. “Hiks…” “Hiks…” “Hiks…” “Tuhan… apa Kau tidak bisa menolongkku? Untuk kali ini aja tolong aku. Tolong persatukan aku dengan orang yang aku cintai. Aku mohon… hiks…” *** El tiba di Bandara. Lama menunggu akhirnya dia bertemu dengan kedua orang tuanya. Ketika mereka bertemu tak ada senyum yang El ukir untuk 2 manusia yang sudah membuatnya ada di dunia ini. Mamahnya langsung memeluknya dengan erat sedangkan pria yang dia panggil dengan papah tidak saling menyapa. Mereka begitu diingin seperti 2 orang asing. “Kamu makin tampan aja,” puji Miranda-mamah El. El tidak menanggapi. “Gimana kabar Zahra?” tanya Miranda. “Dia baik,” jawab El singkat. Bukannya nanya kabar anak sendiri, malah yang ditanya orang lain. Sangat menyebalkan. “Anak kamu gimana?” “Baik.” “Kamu kenapa sih dingin banget sama mamah?” “Mamah udah tau alasannya, gak usah nanya lagi.” Miranda menghele napas panjang. Putranya itu masih saja marah dengannya padahal masalahnya sudah lama berlalu. “Ayo,” ajak pria yang berwajah dingin. Dia Argantara-papah El. Miranda dan El menyusul pria itu. Sampai di mobil El memasukkan barang-barang orang tuanya ke bagasi. Sedangkan kedua orang tuanya sudah duduk santai di mobil. “Bikin repot,” gumam El sambil menutup bagasi. Dia kemudian masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesin mobil. “Kita langsung ke Surabaya,” ucap Dirgantara. El menoleh memandang pria beraut wajah dingin itu. “Apa harus seburu-buru itu?” “Kenapa memangnya?” El menghela napas kasar. Dia malas debat sehingga dia diam dan menuruti keinginan papahnya. Jujur dia capek jika harus berpergian jauh. Bukan satu jam dua jam dari Jakarta ke Surabaya. Kecuali menggunakan pesawat. Jika pakai mobil akan menghabiskan waktu 9-10 jam. Sunggu melelahkan. “Kalian kenapa nggak langsung ke Surabaya aja sih?” “Kalau kami langsung ke Surabaya kamu pasti nggak akan menyusul kami,” jawab Miranda. Ucapan mamahnya benar. Orang tuanya ternyata sudah tahu akan niat busuknya. “Tapi aku capek jika harus menyetir selama 9 jam. Kalian pikir dari Jakarta ke Surabaya itu dekat.” “Sudah tau jauh kenapa kamu nggak pindah aja ke Jakarta,” sahut Dirgantara. “Zahranya yang nggak mau,” balas El. “Zahranya yang gak mau atau kamunya yang nggak mau!” El mengepal tangannya. Setiap kali bicara dengan papahnya dia selalu jadi emosian. “Udah, gak usah pada berantem. Ayo El, jalan. Kita pulang dulu ke rumah. Nanti sore kita berangkat ke Surabaya pakai pesawat. Kamu tenang aja. Kami nggak akan menyusahkan kamu. Tiketnya juga sudah kami beli,” ucap Miranda panjang lebar. “Jadi mereka mengerjaiku,” batin El. “Ayo jalan!” pinta Dirgantara. “Iya!” sahut El kesal. Orang tuanya itu sangat tidak sabaran sekali. *** El dan kedua orang tuanya tiba di rumah. Mereka disambut oleh Arga dan istrinya. Ketika Dirgantara dan Miranda ke kamar mereka. El mengambil kesempatan untuk menemui pamannya dan mengajak pria itu bicara. “Om, aku mau ngomong sama Om sebentar.” “Mau ngomong apa?” “Penting.” Arga mengikuti ponakannya yang mengajaknya ke halaman belakang. Sampai sana mereka bicara 4 mata. “Aku mohon sama Om, jangan kasih tau papah soal wanita itu,” pinta El. “Jadi, kamu mau Om merahasiakannya?” El mengangguk. Arga menarik kerah baju El. “Mau berapa lama lagi, ha? Mau berapa lama lagi kamu menyelingkuhi istri kamu?” El menepis tangan pria itu. “Om nggak usah ikut campur urusan aku! Aku cuma minta Om tutup mulut!” Arga menunjuk wajah ponakannya itu. “Kamu pikir kamu akan bisa terus menyembunyikan wanita itu?” “Dia bukan orang ketiga dalam hubunganku dengan Zahra! Justru Zahra lah orang ketiga dihubungan kami!” tegas El. Dia kemudian melenggang pergi meninggalkan pamannya. Arga geleng-geleng kepala melihat ponakannya. Dia bingung dengan ponakannya itu. Sudah dapat istri yang baik malah dia sia-siakan. Malah cinta ke wanita yang jelas-jelas bukan wanita terhormat. “El, kamu kenapa?” tanya istri Arga yang tidak sengaja berpapasan dengan ponakan suaminya. Dia melihat wajah El yang tampak kesal jadi timbul tanya di benaknya. “Saya gapapa!” jawab El ketus. “Astagfirullah…” ucap istri Arga sambil ngelus d**a. “Sayang,” panggil Arga yang bertemu istrinya. “Eh, Mas.” “Kamu ngapain di sini?” “Tadi aku nyari kamu. Eh ketemu sama El, dia kayanya lagi kesal. Wajahnya kaya orang habis marah.” “Kamu nggak diapa-apain, kan?” “Enggak, cuma tadi pas aku tanya dia kenapa. Dia jawabnya ketus banget.” “Anak itu memang emosian orangnya. Maafin ya." "Iya gapapa Mas." *** Istri Arga menghidangkan makanan ditemani sang anak yang usianya 10 tahun. Anak laki-laki yang namanya Alif. El dan kedua orang tuanya pun ke meja makan. Mereka makan siang bersama. Banyak hal yang Dirgantara obrolkan bersama Arga. Begitu pun dengan Miranda yang berbincang-bincang pada istri Arga. Sedangkan El diam saja seperti Alif yang hanya sibuk dengan makanannya. El makan tanpa ikut bicara karena tidak ada yang mengajaknya mengobrol. Jadi untuk apa dia ikut ngomong. Lagian dia malas bicara pada papahnya maupun pamannya. “Gimana kabar istri kamu, El?” Hingga Pertanyaan terlontar dari Arga. El menelan makannya lalu menatap pria itu dan semua orang menatapnya. Dia yakin pamannya sengaja nanya soal Zahra. Pasti untuk basa-basi dan memojokkannya. “Gimana kabarnya istri kamu?” Arga mengulang pertanyaan. Ponakannya bukannya menjawab malah manatap dirinya. Mungkin pria itu tak mendengar jelas pertanyaannya. “Dia baik,” jawab El lalu menundukkan pandangannya. “Kapan mau kamu ajak ke sini?” tanya Arga lagi. El mengangkat pandangannya. “Kapan-kapan.” “Kami yang akan ke sana hari ini,” jawab Miranda menambahkan. “Ohh, kapan?” tanya Arga. “Hari ini, sebentar lagi,” jawab Dirgantara. “Anakmu sudah umur berapa, El?” tanya istri Arga. Pertanyaan itu membuat El berpikir keras. Dia tidak tahu usia putranya dan dia menebak-nebak dalam pikirannya. Dia takut salah jawab sehingga orang-orang akan terheran denganya. “Dia… dia berusia 6 tahun,” jawabnya asal. Semoga saja jawabannya benar. “6 tahun? Bukannya 7 Kak,” tanya Alif pada sepupunya yang umurnya sangat jauh di atasnya. Jawaban anak kecil itu membuat orang-orang menatap El. “Seingat mamah Zidan usianya 7 tahun. Kamu gimana sih kok bisa lupa,” omel Miranda. “Jangan bilang kamu nggak tau tanggal lahir anak kamu,” timbal Dirgantara. El diam saja. Memang benar kata papahnya jika dia tidak tahu tanggal lahir anaknya. Lagian dia malas mengingatnya. Untuk apa juga dia tahu karena menurutnya tidak ada yang spesial dari anak itu. “Kak El nggak tahu ulang tahun Zidan kapan?” tanya Alif. “Bukan tidak tahu tapi lupa,” ngeles El. “Ohhh,” balas Alif. "Kukira gak tau. Pah, tau gak ulang tahunku?" "Taulah, 13 Desember, kan?" tanya Arga. "Yap, betul. Jangan lupa hadiahnya ya nanti." "Dasar," balas Arga. Semua tertawa kecuali El. Dirgantara dan Miranda melanjutkan makannya. Sebenarnya banyak yang ingin mereka bicarakan tentang putranya mengenai hubungannya dengan Zahra. Tetapi karena ada anak kecil di sini sehingga mereka urungi niat itu. Sebaiknya dibicarakan tanpa ada orang lain. Tidak baik juga masalah diketahui banyak orang. Apalagi anak kecil. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD