Rumit Part 19

1009 Words
Ara terus melihat layar ponselnya. dia menunggu notifikasi masuk dari kekasihnya. Sudah beberapa jam menunggu tapi dia juga tidak mendapat kabar dari pria itu. Padahal dia sudah sempat bilang jika pria itu sampai di Bandara tolong beritahu dia agar dia tidak cemas. Tetapi sampai sekarang El juga tidak menghubunginya. Apa pria itu lupa atau sengaja? Ara mencoba menghubungi duluan. Dia chat tapi pesan hanya centang satu. Dia telfon dan ternyata nomornya tidak aktif. Dia menghela napas kasar. “Pembohong!” Dia meletakkan ponselnya di meja. Dia merasa kesal. Dia ke kamar mengganti pakainannya. Dari pada dia suntuk di apaertemen lebih baik dia pergi keluar mencari udara segar. Selesai mengganti pakaiannya dia menghubungi teman lamanya yang dulu satu tempat kerja dengannya. Sudah lama dia tidak ketemu temannya itu. Meski bukan teman baik tapi bisa dibilang cukup dekat. Dia pergi menggunakan taksi. Dia janjian dengan temannya di tempat karauke. Tiba di sana temannya belum datang. 15 menit menunggu akhirnya temannya itu tiba juga. “Hai,” sapa seorang perempuan perambut pirang-Kristin. “Haii,” sapa Ara balik sambil menghampiri Kristin. Mereka pelukan dan cepika cepiki. Sehabis itu mereka masuk ke tempat karauke. Setelah selesai administrasi mereka langsung di bawa ke ruangan. Tepatnya di lantai 3. Di tempat ini banyak pengunjung. Mulai dari anak remaja sampai orang tua. Dan tentu kebanyakan membawa pasangannya. Mereka masuk di ruangan yang berukuran cukup besar. Tempatnya cukup gelap dan dipenuhi lampu warna-warni. Pokoknya identik benget dengan tempat-tempat karauke pada umumnya. Namun, di sini ruangnnya sangat tertutup. Tidak ada kamera. Kelihatannya jika berbuat m***m di sini pun tidak akan ada yang tahu. Mungkin memang sengaja karena di sini memang tempat dunia malam meskipun tak jarang pula orang datang di siang hari. Tak hanya pasangan yang bisa menyewa tempat ini. Semua orang bisa walaupun tidak punya pasangan. Mereka duduk dekat-dekatan. Kristin pun menyetel lagu yang nadanya sendu. Volume suaranya hanya diputar kecil karena mereka ingin mengobrol dulu sebelum gila-gilaan. “Kamu apa kabar, Ra?” tanya Kristin. “Kayanya kamu makin cantik aja, kamu sudah seperti wanita kaya.” Melihat penampilan Ara yang sudah berubah membuatnya memuji. Wanita itu tambah cantik dan pakaiannya juga bagus. Terlihat mahal. Tidak hanya baju, tas, sepatu, dan perhiasan yang Ara pakai juga sangat terlihat mewah. Ara tertawa. “Aku selalu baik dan aku biasa aja kok. Tetap gini-gini aja. Kabar kamu gimana?” Kristin menghela napas panjang. “Hidup aku nggak ada yang spesial, Ra. Sama aja kaya dulu. Dan sekarang pelangganku pun berkurang. Mungkin faktor usia. Aku sudah nggak muda lagi. Para pria mungkin tidak tertarik sama aku. Maklum banyak anak baru. Mana usianya masih pada remaja. Kadang aku kasihan pada mereka. Tapi namanya juga hidup, keras.” “Yang sabar ya.” “Gimana kabar si dia?” “Dia siapa?” “Ya cowok itu. Cowok yang buat kamu bisa lepas dari dunia malam.” “Ohh dia. Dia baik-baik aja sih.” “Masih kamu sama dia?” “Ya masih. Tapi…” “Kenapa? Apa dia sudah berubah?” “Enggak sih, cuma aku capek aja.” “Capek kenapa?” “Kadang aku merasa spesial banget bagi dia. Tapi kadang aku juga ngerasa bahwa dia nggak serius sama aku.” “Dia nggak ngasih kamu kepastian ya?” Ara mengangguk. “Dia janji sih tapi aku kurang yakin.” Kristin menghela napas lagi. “Memang susah sih Ra, pekerjaan kita ini pasti dipandang sebelah mata. Pasti susah diterima oleh orang-orang. Jadi laki-laki pasti mikir berkali-kali untuk nikahin kita.” “Ya, kamu benar.” “Dia belum kenalin kamu sama orang tuanya?” Ara menganguk. “Hubungan aku dan dia masih jadi rahasia. Aku bahkan gak tau orang tuanya kaya gimana. Aku selalu ada niat untuk ketemu mereka, tapi dilarang.” “Laki-laki semacam itu kamu harus waspada Ra, bisa jadi dia menyembunnyikan sesuatu dari kamu.” “Oh ya? Contohnya apa?” “Emm… banyak hal.” Kristin tidak enak jika dia harus ngomong bahwa bisa saja El sudah memiliki pasangan. Dia tidak mau temannya sakit hati jadi dia tidak berani mengatakannya. “Aku sih berharapnya kami segera menikah.” “Dia sudah bilang mau nikah sama kamu?” “Sudah. Itupun karena aku desak dia. Jika nggak, mungkin dia nggak akan jadi menikahi aku. Kadang-kadang aku meragukan dia. Aku ngerasa dia tidak mencintai aku. Dia hanya menolong aku karena dia orang baik. Dia memperlakukan aku dengan istrimewa bisa jadi karena atas dasar peduli sesama manusia. Atau karena kasihan sama aku. Entah lah, aku cuma nebak-nebak aja.” “Tapi kamu sudah termasuk beruntung bertemu pria seperti dia. Lihat aku, aku selalu ketemu om-om hidung belang. Mana ketika ketahuan istrinya aku yang disalahkan. Padahal tugasku cuma melayani pelanggan. Urusan perselingkuhan bukan salah aku, jelas yang salah suaminya yang nggak pandai bersyukur punya istri. Malah main dengan wanita lain. Tapi kalau nggak ada laki-laki kaya gitu aku nggak akan ada kerjaan sih. Cari kerja sekarang susah.” “Iya kamu benar. Kalau nggak ada cowok nakal kaya gitu mata pencarian kita ya gak akan ada.” “Btw, kamu nggak ada niatan kerja lagi? Bos selalu nanyain kamu. Katanya banyak pelanggan yang kangen sama kamu.” “Gak deh. Mungkin selama aku masih sama El aku nggak akan kerja begituan lagi. El sangat melarang aku. Dia menyuruh aku di rumah aja. Melakukan hal positif dan jaga kesehatan. Cukup itu tanpa perlu kerja. Dia menjamin hidup aku. Lumayan enak tapi tetap ada pahitnya. Kami nggak terlalu sering bersama. Apalagi ketika orang tuanya ada, maka kami sangat sulit bertemu.” “Enak kamu. Kira-kira kapan aku bisa nemu cowok kaya gitu ya?” “Kapan-kapan.” Mereka berdua tertawa. "Semoga secepatnya deh, Ra." "Amin. Tenang, pasti aku doain kok." “Kita nyanyi aja lah,” ajak Kristin. Ara mengangguk setuju. Kristin memilih lagu. Ketika sudah mendapatkan lagu yang dia mau. Dia pun mulai bernyanyi bersama Ara. Lagu yang dinyayikan sesuatu hati. Lagu patah hati yang mengiris hati. Mereka berdua sangat menghayati sampai waktu berlalu dan 2 jam penyewaan mereka akhirnya berakhir. Mereka kemudian pergi makan sambil cerita-cerita. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD