22. Tamu tak diundang

1712 Words
Aku senang. Seharusnya aku senang bukan main saat Rafael mengatakan dia menyayangiku dan matanya yang tajam itu lurus kepadaku saat mengatakannya. Tapi sepanjang perjalanan aku diam saja. Tidak meledak-meledak emosinya seperti biasanya jika saat terlalu senang. Dan, Rafael juga diam sibuk menyetir. Aku diam karena masih memikirkan kemungkinan terburuk bahwa semua yang terjadi sore ini adalah mimpi lagi. Yang lebih aku takutkan. Aku takut akan menyambut hari esok kalau semuanya tidak seperti yang aku mimpikan. Ternyata kejadian ucapan Rafael tadi di UKS bukan hanya mimpiku. Tapi sangat menyakitkan jika diabaikan lagi olehnya. Aku bingung, tentu saja mengapa Rafael tiba-tiba mengatakan sayang padaku. Kalau aku jelas menyayanginya, karena sudah menyukainya sejak lama. Namun dia, Rafael baru banget mengenalku. Apa diam-diam cowok itu sering menguntit tanpa sepengetahuan sejak lama dan baru kali ini berkesempatan mengenalku? Sehingga saat dia mulai mengenalku, nyatanya dia sudah sayang padaku. Yang aku tidak pernah sangka bahwa kita berdua sama-sama sayang. Apa aku korban cerita fiksi remaja? Ini Rafael loh, cowok yang sering aku khayalin menjadi pacarku. Sampai di rumah aku menahan hawa panas yang menjalar di wajah dan senyum-senyum sendirian. Untungnya rumahku kosong melompong, kalau dilihat Aidan atau Calista bisa jadi mereka ngatain diriku sudah tidak waras. Lamunanku kembali mengingat pertama kalinya bertemu dengan Rafael dan akhirnya jatuh cinta. Saat kelas 10 aku tidak memiliki teman dekat. Temanku satu-satunya adalah buku. Buku horor. Teman sebangkuku di kelas memiliki geng sendiri yang tidak mungkin aku ikut gabung karena mereka geng populer. Teman sebangkuku sebenarnya sejenisku, anak yang biasa-biasa saja. Dia mau bergabung ke geng tersebut asal bisa disuruh-suruh dan dijadiin bahan lucu-lucuan. Aku diajak bergabung, namun melihat dirinya yang sering ditertawakan entah mengapa aku jadi lebih suka menyingkir. Menjadi anak baru aku sangat senang sekali sudah bisa pakai seragam yang beda, dan ketemu kakak kelas yang ganteng. Aku hanya mengagumi cowok-cowok keren itu dari jauh layaknya fangirling cowok fiksi. Kalian pasti tahu kan, kalau cowok fiksi itu keren? Aku yang korban cerita-cerita fiksi ini suka membayangkan cowok keren itu mau sama aku. Aku baru benar-benar mulai menyukai cowok, yaitu Rafael. Kami tidak sengaja papasan. Dia, meski masih junior sepertiku, auranya sudah terlihat jauh lebih dewasa dan menawan. Rafael seketika terkenal di kalangan cewek-cewek. Aku menyukainya dari jauh saja tanpa berharap lebih, kalau pun berharap lebih sudah pasti aku lagi mengkhayal. Aku sering memperhatikan Rafael yang jalan sambil tertawa bercanda dengan teman-temannya. Rafael main basket dengan rambut basah karena keringatnya. Dia sempurna dalam fisik, cewek mana pun tidak ada yang bakal bilang dia jelek. Seperti biasa aku hanya bisa menggigit bibir di balik buku sambil curi-curi pandang menonton dari kursi pinggir lapangan. Apa sih yang bisa aku harapkan, dalam mimpi saja bisa kenalan apalagi dekat dengan Rafael. Aku tidak menyangka bahwa rasa sukaku dengannya cukup besar. Aku cemburu melihat cewek-cewek yang bisa berada dekat di sekitarnya. Yang paling aku tidak sukai adalah kehadiran Alisha. Cewek eksis di angkatanku itu yang berhasil menarik hati Rafael. Mereka dekat sekali dilihat dari status atau postingan media sosialnya. Aku iri. Oke, seharusnya aku mengaca dulu. Namun, cewek biasa saja yang menyukai cowok ganteng itu sudah banyak. Kenaikan kelas hidupku tidak monoton lagi, karena bertemu dengan orang baru yang lebih menyenangkan dari teman kelas sebelumnya. Aku datang lebih awal di hari pertama sekolah supaya bisa milih bangku. Aku milih yang agak belakang supaya bisa curi waktu buat baca atau main ponsel di dalam kelas. Satu per satu kursi kelas mulai terisi, tidak ada cewek yang mau duduk di sebelahku. Sampai akhirnya ada tiga cowok berisik dan suaranya keras menuju ke barisanku. Cowok paling tinggi yang hidungnya kayak perosotan memilih duduk di kursi barisan pojok bersama cowok pendek dengan mata sipit. Cowok satunya yang bertampang paling kalem celingukan mencari tempat. Setelah adu mulut dengan dua temannya yang lain, dia memilih kursi di sebelah kananku. Tiba-tiba dia bangun dari duduknya bawa tas dan pindah ke kursi sebelahku. “Lo duduk sama siapa?” “Sendirian,” jawabku. “Gue di sini ya duduk sama lo?” Ya, itulah awal aku mengenal Joshua Diantoro. Cewek-cewek di belakangku penasaran tiba-tiba aku duduk dengan cowok. Mereka menanyakan apakah aku sudah dekat dengan Jojo. Kami jadi berkenalan. Rina dan Della sering banget ngomongin cowok, tapi mereka akan selalu mengajakku untuk gabung bergosip bersama. Aku yang tidak paham amat soal cowok cuma dengerin. Berkat Jojo, kami pun kenalan dengan Dika dan Rayn. Begitulah ceritanya. Aku tertawa pelan mengingat semuanya yang sudah berlalu. Ting .... Tong .... Aku terperanjat mendengar suara bel dipencet. Ngapain Aidan dan Calista pake mencet bel segala, biasanya juga asal masuk aja. Aku melepas tas dan sepatu bergegas untuk membukakan pintu segera. Tidak percaya melihat siapa orang di baliknya. Aku terperangah melihat siapa orang di balik pintu itu. Alvin berdiri di depan pintu tinggi menjulang masih memakai seragam. Cowok itu hanya mencangklongkan tasnya di satu lengan dan menatapku datar. Aku mengerutkan dahi menahan agar tidak mendengus. Tapi akhirnya kelepasan juga. "Lo ngapain di sini?" "Mau ... minta makan." Tidak ada jawaban yang lebih enak didengar lagi? *** "Lo pulang aja, nggak boleh masuk. Tahu nggak Abang gue ngadu ke ortu. Malamnya gue diomelin sampe kuping panas dan diancang-ancang nggak boleh bawa cowok lagi ke rumah kalo kita berduaan," kataku ini cukup panjang untuk ditangkap oleh Alvin. Aku tidak tahu dia paham atau tidak. Cowok itu masih memandangiku lempeng. "Bahaya banget, bahaya. Lo tetep normal kan meski kayak robot datar gini? Gue dituduh mulai bandel, karena ngajak cowok buat berduaan doang!" "Kita nggak berdua," Alvin menatapku serius. Manik matanya yang hitam mengintip di sela-sela kelopak matanya yang nyaris bersentuhan. Mata yang lucu dan menarik. "Maksud?" Aku tidak melihat dia bawa orang lain atau hewan (kali saja ternyata dia bawa kucing atau guguk). Nyatanya dia sendirian. Atau, ternyata dia bersama makhluk astral? Sebaiknya aku tidak memperbolehkan dia masuk. Gawat banget kalau dia ninggalin hantu di rumah ini. "Gue dan lo, berdua jadinya." "Kita rame-rame." "Rame?" Aku memiringkan kepala tidak paham. "Di rumah lo banyak penunggunya, jadi di dalam kita nggak berduaan amat," jelas Alvin membaca raut wajah frustrasiku. Aku menganga dan merinding. Aku melangkah maju sedikit karena ada hawa aneh di belakangku. Jangan bilang selama ini saat baca cerita hantu, mereka nemenin? "Sumpah?" tanyaku gagap. Alvin mengangguk santai. "Lo bisa ngelihat?" Cowok itu mendecak. "Iya. Jadi gimana, boleh masuk nggak? Masa lo biarin tamu berdiri?" "Enggak! Lo pulang sana! Nggak boleh ada tamu cowok," ketusku mengusir. Alvin membenarkan tas di lengan kanannya itu, dia melihat ke dalam dengan mendongakkan kepalanya sedikit. "Tuh, ada yang nyamperin minta ditemenin." Ditakut-takutin dengan orang yang punya wajah dan hawa mistis membuatku langsung ketakutan setengah mati. "ARGGGH! LO NAKUTIN!" Aku sudah nemplok memegang lengan Alvin dan menggoyangkannya. Dia berusaha melepas tanganku dengan wajah jijik. "IH, LO SIH BILANG KALO ADA YANG NGGAK KELIHATAN!" "Apaan si deket-deket? Gue mau pulang. Tadi ngusir nyuruh gue pergi." Alvin menepis tanganku yang masih berusaha menyentuh lengannya. "Dadah, selamat diajak main sama mereka!" Alvin beranjak mau meninggalkan teras ini. "Lo tuh jahat sumpah, abis bilang rumah gue berhantu, terus gue ditinggal gitu aja!" seruku memelas, nadanya memprihatinkan. Pasalnya aku lagi ketakutan beneran. Kebelet pipis pula. "Gue sendirian." "Di dalem banyak teman lo tuh," jawabnya snatai melengos mau pergi. "Nggak bakal kesepian." "Ya udah, lo boleh masuk deh." Aku mendorong dia supaya mendekat ke pintu. "Ayo, masuk! Tapi, telepon nyokap gue dulu yak, lo harus izin biar nggak ada masalah lagi." Aku menyuruhnya dengan ide bagus, cowok itu terlihat berpikir. Aku anggap diamnya adalah tanda setuju. *** "Nggak bisa masak selain mie dan pasta?" Kalimat nyebelin Alvin sambil menatapku judes di depan kulkas. Kami sedang di dapur memutar otak mau makan apa sore ini. Jujur aku juga lapar banget. Kalau aku sih ceplok telur juga bisa. Tapi dia tidak mau. Dasar preman sok borjuis. Aku menggeram menahan kekesalan. Kita cuma berdua di sini. Aku takut jika dia mengamuk dan melakukan sesuatu yang mengancam jiwaku tidak ada saksi. Aku akan mati mengenaskan di rumah kosong ini. Ah, lebih baik aku tidak nyolot balik ke cowok yang nyeremin ini. Alhasil dia memesan makanan menelepon masakan Padang delivery. Aku langsung senang bukan main akan disuguhi makanan Padang sore ini. Biasanya aku tidak pernah makan enak pulang sekolah. Alvin menangkap raut bahagiaku saat aku yang menerima paket dan Alvin yang membayarnya. Aku menutupi senyuman semringah berubah jadi gugup karena ditatap tajam oleh cowok itu. Tidak butuh waktu yang lama kami langsung menikmati masakan Padang yang terdiri dari nasi putih, hangat, dan wangi. Sayur. Daging rendang. Daun singkong. Dan sambal cabai hijau. Aku melirik Alvin yang duduknya agak menjauh. Agak asing melihat cowok itu makan dengan tangannya. Saat bertemu mata dia akan melengos. Mulai jemu karena sering aku lihatin dia berkata, "Jangan liat-liat. Nggak suka kalo makan diliatin. Liatin gue nggak bakal bikin lo kenyang." Oke, lebih baik aku habisin makanan ini dulu baru memancing Alvin bercerita. Sangat aneh melihat dia sekarang jadi sok akrab bahkan betah main di rumahku, padahal katanya banyak hantu seliweran. Kata Jojo, Alvin hanya betah deket sama orang yang membuatnya nyaman. Apa aku termasuk? Atau, dia hanya oportunis mengambil kesempatan dalam kesempitan, karena tidak tahu lagi mau ke mana. Entahlah. Alvin tidak bisa ditebak. Selesai acara makan-makan Alvin masih tampak betah duduk di sofa dengan mata lurus menatap layar TV. Rasanya tadi Alvin yang bilang mau menumpang makan, tapi dia yang membayar pesanan masakan tersebut. Aku mengeluarkan uang dua puluh ribuan dari saku dan menyorongkan ke arahnya. "Gue ganti." Aku tersenyum kecil. "Harganya 50 ribu." Alvin menjawab mengalihkan tatapannya dari TV. Aku melongo sesaat baru tersadar, ucapan dia seperti aku yang harus ganti semuanya. dia minta dibayarin. Oke, aku yang meminta dia di sini. salahin dia yang cerita ada hantu menungguku. Aku mengganti uangnya dengan lembaran biru masih rapi. "Nih, gue baik gue bayarin." "Bercanda," Alvin mendecak. "Simpen lagi aja uangnya." What? Aku menekan kening dan memijatnya berirama usai Alvin mengatakan dia hanya bercanda. Ada nada bercandanya, 'kah? Apa dia memang robot yang syarafnya diputus jadi datar banget begini? "Makasih." Aku mendecih. Saat mau mengalihkan pandangan ke layar TV yang menampilkan video musik Adara, aku melihat sebuah benda mengkilat di leher cowok itu. Dia tidak menyadari tingkahku, karena asyik nonton. "Kalung lo bagus." Ucapanku membuatnya tersentak dan segera menyembunyikan benda itu ke balik kaus putihnya. Aku merenung seperti pernah melihat benda itu. Di mana ya? TBC *** 20 Okt 2021
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD