Tumbangnya Sang Raja

1099 Words
“Panah?” Jiang Wan, sangat terkejut melihat panah berapi sedang jatuh ke arah dirinya dan yang menjadi target utama adalah kereta sang raja. Satu persatu, anak panah sudah menyentuh beberapa bagian kereta. Bahkan para prajurit juga terkena panah itu. Jiang Wan segera mengambil tindakan, untuk melindungi kereta sang raja. Bergegas dia memacu kuda, namun di saat dia hendak pergi seorang pria tiba-tiba muncul dari arah jam tiga.   Pria itu memakai topeng yang menutupi wajahnya, dengan cepat dia menerjang Jiang Wan dan kudanya. Pertempuran tidak bisa dielakkan. “Uh! Siapa kau?” Jiang Wan benar-benar marah melihat, orang tersebut. “Aku adalah, hantu malam yang akan menghabisi seluruh orang yang ada di sini!”   Jiang Wan meruncingkan alisnya. “Jangan konyol kau!” Jiang Wan maju dengan sangat cepat, menggunakan kudanya. Satu ayunan sangat cepat, dilakukan oleh Jiang Wan menggunakan pedang. “Things!” Pria itu juga mengeluarkan pedangnya, dan menahan serangan Jiang Wan. Mereka saling beradu tenaga, untuk mempertahankan pedangnya. Jiang Wan tampak kesulitan untuk tetap mempertahankan pedangnya, sementara pria yang sedang dilawan olehnya tidak merasakan kesulitan yang berarti. Dalam beberapa menit, kemudian pria bermasker itu menyentak Jiang Wan, hingga kuda milik Jiang Wan mundur beberapa langkah. “Crash!”   Di saat itu juga, pria tersebut memacu kudanya demi memberikan satu tebasan maut di tubuh Jiang Wan.   Darah muncrat dengan sangat banyak. “Arrgh!” Jiang Wan, melotot kaget. Tidak menyangka kalau dirinya akan terkena serangan dari pria itu. “Sial apa yang harus aku lakukan? Setidaknya, aku ingin Raja Ezraf, tetap selamat!” Jiang Wan mulai melirik ke arah kereta. Betapa terkejutnya Jiang Wan, karena baru saja dirinya melihat pengemudi kereta, telah dibunuh oleh anggota dari pria bermasker itu. Kemudian, kereta kuda dibawa oleh pria asing.  “Oi…!” Jiang Wan, tidak tinggal diam. Meski luka di tubuhnya terasa sangat nyeri dirinya, memacu kuda untuk mengejar kereta. “Astaga, apa yang terjadi malam ini?” Jiang Wan merasa sangat ketakutan, jika memang ini semua adalah mimpi, maka dia tidak ingin melihatnya lagi namun kenyataannya. Semua itu bukanlah mimpi. “Jiang Wan!” Sang raja mengeluarkan kepalanya.   Dengan kegigihannya Jiang Wan, berhasil berada di samping kereta itu. Meski jalur yang sedang dilewati, merupakan area di pinggir bukit. “Yang Mulia! Bersabarlah! Aku akan menyelamatkan diri Anda!” Jiang Wan sudah tidak perduli dengan tubuhnya, dirinya hanya ingin Raja Ezraf, berhasil selamat dari maut. “Sudah cukup! Kau tidak perlu melakukan hal itu!” “Eh?” Jiang Wan menoleh kaget ke arah Raja Ezraf. “Apa yang Anda bicarakan!” Raja Ezraf, tersenyum manis. Lalu dia menatap rembulan yang menyinari wajahnya. “Aku rasa, malam ini adalah terakhir, di mana aku akan melihat bulan purnama!” Ungkapan itu, seperti seseorang yang akan melepaskan segalanya. “Yang Mulia, jangan berbicara seperti itu!” Jiang Wan dengan berani membentak rajanya itu, meski perbuatannya terkesan, sangat kurang ajar. Namun tidak pantas, bagi seorang raja berkata untuk menyerah. “Kita bisa melewati masalah ini dengan sangat baik. Hingga kita kembali ke istana!” “Hehehe…!” Raja Ezraf, tertawa kecil. “Tidak apa! Aku rasa, memang sudah seharusnya aku pergi meninggalkan dunia ini! Jiang Wan, jika seandainya aku mati! Aku ingin kau memberikan ini kepada putriku!” Raja Ezraf menjulurkan tangannya kepada Jiang Wan.   Jiang Wan mengambil scroll yang ada di tangan Raja Ezraf. “Yang Mulia! Anda tidak perlu memberikan ini kepada saya, Anda hanya perlu kembali ke kerajaan, dengan begitu malam ini hanya mimpi buruk yang bisa dilewati!” Jiang Wan tidak ingin menyerah meski kesulitan di hadapannya sudah tampak sangat jelas. Dari arah belakang, beberapa suara langkah kaki kuda terdengar sangat nyaring. Suara tersebut, berasal dari kelompok pria bermasker tadi. “Sial! Mereka pasti sudah menghabisi seluruh pasukan!” Jiang Wan, merasa semakin panik. Pasukan yang bersamanya hanya sekitar 50 orang, sementara unit di bagian selatan berjumlah sekitar 300 orang, pembagian itu dilakukan demi menyembunyikan keberadaan Raja Ezraf, namun semuanya gagal.   Saat ini, Raja Ezraf dan Jiang Wan sedang berada di ambang kematian. “Bagaimana aku bisa, membawa Yang Mulia keluar dari situasi ini?”   Sekarang jalur, yang dimasuki oleh Jiang Wan sangat sempit mustahil bagi dirinya untuk tetap berada di samping kereta. Terpaksa Jiang Wan, mundur ke belakang. Konsekuensi yang harus diterima oleh Jiang Wan, dirinya harus berhadapan dengan kelompok pria bermasker yang ada di belakang. Pria bermasker itu dan pasukan mulai mempercepat laju kuda mereka. “Things!” Satu ayunan pedang diarahkan kepada Jiang Wan. Pria itu sudah tidak begitu kuat lagi, terlalu banyak darah yang keluar dari luka yang diterima olehnya. “Brack!” Tidak beberapa lama, ketika berada di tikungan tajam, suara nyaring terdengar dari arah depan. Selagi masih sibuk menahan pedang yang hendak berayun kepada dirinya, Jiang Wan merasa sangat terkejut ketika menoleh ke arah suara aneh itu. “Yang Mulia!” teriak Jiang Wan dengan histeris. Ternyata suara itu berasal dari kereta yang sedang berguling dari bukit. “Oi… ke mana kau itu melihat!” Pria bermasker, membentak Jiang Wan. Jiang Wan lalu menoleh ke arah pria bermasker itu. Pria bermasker itu mengeluarkan pedang lain, dengan sangat cepat dia mengarahkan pedang itu kepada Jiang Wan. Jiang Wan hanya, memiliki satu pedang mustahil bagi dirinya untuk menahan serangan pedang yang kedua. “Crash!” Terpaksa, tubuhnya harus mendapatkan luka lagi. Akibat hal tersebut, Jiang Wan kehilangan fokus untuk mengendalikan kuda miliknya. Dia lalu terjatuh dari atas bukit tepat, di tempat kereta raja yang jatuh. Para kelompok pria bermasker, berhenti dan menatap lokasi tempat jatuhnya Jiang Wan. “Ketua, apakah kita harus menyusulnya?” tanya pria botak anggota kelompok tersebut. “Tidak perlu, kita hanya perlu melaporkan kalau tugas sudah terlaksana. Dengan begini, semuanya sudah usai!” Setelah berkata seperti itu, mereka mulai meninggalkan lokasi. ***   Setelah terjatuh dari bukit yang cukup tinggi, beberapa kali tubuh Jiang Wan terbentur batu dan pepohonan. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. “Aku tidak akan mati, di sini! Aku harus, segera menemui Raja Ezraf!” Jiang Wan memaksakan seluruh otot di tubuhnya untuk mendekati kereta kuda yang membawa Raja Ezraf. Kondisi kereta itu, sangat memprihatinkan. Beberapa bagian kereta sudah hancur, akibat benturan ketika jatuh. Jiang Wan tidak bisa berharap, banyak kalau Raja Ezraf akan baik-baik saja setelah jatuh bersama kereta miliknya. Tapi tetap saja, dia memutuskan untuk memeriksa isi dari kereta. “Yang Mulia!” Jiang Wan mengerahkan tenaganya untuk membuka pintu kereta. Saat pintu terbuka, Jiang Wan harus terdiam, melihat kondisi Raja Ezraf yang benar-benar sangat mengerikan. Kepala Raja Ezraf, berdarah. Darah masih terus mengucur, ketika Jiang Wan melihatnya. “J-Jiang Wan!” Raja Ezraf membuka matanya, dan mengangkat tangan kanannya dengan suara yang lirih. _To Be Continued__
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD