Red-Light District

902 Words
Kurkan jarang dipanggil dengan nama mereka. Sebagian besar negara membencinya, menganggap meraka sebagai Barbarian atau binatang buas. Hal ini dikarenakan ras mereka yang diketahui mewarisi darah binatang buas-tidak manusiawi dan tidak memiliki sopan santun. Mereka impulsif dan makhluk yang berbahaya. Tetapi ada satu hal yang diirikan oleh manusia atas mereka, kemampuan fisik dan keindahannya. Kebuasan mereka tertutupi oleh penampilan luar biasa yang diberikan oleh Tuhan. Kesenjangan ini membuat Kurkan terkenal. Bahkan, diantara para b***k, yang terbaik selalu Kurkan. Bahkan di Estia, meskipun p********n sudah dilarang, Kurkan tetap diperjualbelikan secara diam-diam. Bahkan, Putri Leah sudah beberapa kali melihat Kurkan yang dijual sebagai b***k, tapi ini pertama kalinya dia melihat Kurkan dengan aura yang mengesankan. Pikirannya berkabut, tetapi dia yakin akan satu hal. Pria di depannya tidak cocok sebagai pria bayaran ataupun candaan. Setiap bagian tubuhnya menguarkan otoritas, Leah bahkan bisa membayangkan pria ini melihat rendah seseorang dari atas. “…” Insting menggerakan tubuhnya. Leah mundur, tetapi tak lama, punggungnya menyentuh tembok. Dia bisa merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya karena hal itu. Pria dipojok itu melihat Leah dengan tatapan geli di matanya. Dengan santai dan perlahan, dia berjalan melewati jarak diantara keduanya. Dia berjalan hingga sangat dekat, tubuh mereka hampir bersentuhan. Secara langsung, Leah merasa terkungkung, tetapi hanya bisa berdiri kaku ditempatnya. Disaat seperti ini, Leah merasa hanya untuk bernapas saja sudah pekerjaan yang melelahkan. Dengan satu jari panjang, pria itu membuka tudung kepala Leah. Dia memiliki indra yang tajam dan tidak ada yang bisa dia lewatkan. Pria itu mengerutkan keningnya, melihat rambut murah dan kaku yang Leah gunakan sebagai wig, dan mulai melepaskannya. Tanpa ada yang menghalangi, rambuh perak Leah perlahan turun hingga ke pinggangnya. Pria itu menyipitkan matanya dan melihat Leah. Tatapannya seolah menyengat kulitnya yang terbuka. Meskipun Leah masih menggunakan pakaiannya, dia merasa telanjang. Leher jenjang, tulang selangkanya sedikit terlihat dari pakaiannya yang kusut dan dadanya yang kecil terlihat naik turun karena tarikan napasnya, pria itu mempelajari itu semua. Tidak sulit baginya untuk menyimpulkan bahwa wanita ini bukanlah rakyat biasa. “Aku tidak percaya bahwa wanita terhormat sepertimu mengunjungi daerah ini. Apakah ini yang disukai para bangsawan?” Leah menegakan bahunya yang kaku. Dibanding membantah perkataannya, Leah membuka bibirnya dan mengatakan apa yang ada dipikirannya. “Kurasa kamu tidak tahu apa tujuanku mengikutimu…” Leah mendongak, melihat pria itu dan merasa dirinya mati perlahan. Dia mendapatkan pria yang salah! Tapi bagaimana caranya menjelaskan pada pria itu kesalahannya tanpa membongkar identitasnya? “Tujuan?” Bibir pria itu tersenyum mengejek, mengerti tujuan sesungguhnya. “Apa yang salah dengan itu? Aku hanya ingin mencari kesenangan sambil memastikan identitasku tetap tersembunyi.” “…” Pria itu tidak bisa berkata-kata. Tidak setiap hari seorang bangsawan dengan usaha yang gagal untuk menyembunyikan identitasnya, datang ketempat ini. Dia menyembunyikan sesuatu. Meskipun pria itu masih memiliki banyak pertanyaan untuk dijawab, dia tidak menekannya lebih lanjut. Disisi lain, diamnya pria itu membuat Leah semakin gelisah, jantungnya berdegup kencang di dadanya. Dia tau bahwa saat ini, mukanya akan mirip dengan tomat merah. Dipenuhi dengan rasa malu, dia menurunkan pandangannya. Mungkin, pria itu sedang mencari suatu hiburan malam ini. Leah, yang mengira pria itu adalah penjaja seks, telah menarik perhatiannya. Bahasa tubuhnya mengatakan bahwa pria itu tidak ingin melepaskan Leah dalam waktu dekat. Diam-diam, Leah sudah memutuskan tindakan selanjutnya. Lagipula, dia tidak akan bertemu dengan pria ini lagi. Jika ini adalah salah satu cara untuk merusak kesucian Keluarga Kerajaan, maka dia tetap harus melakukannya. Dengan tangannya yang gemetaran, dia mencengkram ujung roknya. Dari awal, dia sudah bertekad untuk melakukan ini meskipun dia tau dia bisa mati. Sehingga, di titik ini, sudah tidak ada alasan lagi baginya untuk merasa takut. Leah perlahan melihat keatas dan bertemu dengan pandangan pria itu, dia menyadari bahwa pupil pria itu mengecil dan terkejut. Untuk menyaksikan keanehan ini dalam jarak dekat merupakan suatu hal yang menakjubkan. Leah terperangkap dalam pandangan itu, dia tidak menyadari waktu yang terus berjalan sampai kekehan pelan pria itu menyadarkannya. Leah mendorong pria itu, berusaha memberi jarak diantara mereka. Tetapi kekuatan tangannya tidak berguna, pria itu tidak bergerak. Bahkan senyumnya semakin melebar melihat usahanya. Dia menikmati ini. “Jangan menerka-nerka. Aku hanya mencari seseorang yang bisa kubayar dan melakukan seks dengannya.” Ucap Leah kesal. Dimatanya, Leah bukanlah wanita baik-baik, jadi, mengapa dia harus bertingkah demikian? Pria itu hanya tertawa atas kata-kata ketusnya. Dia bertanya kembali dengan nada geli, “Jadi, apakah aku harus memanggilmu Nyonya?” Pria ini angkuh. Dia menggertakan giginya dan membuka kaitan gaunnya dengan tangan gemetar. Dia hanya ingin ini segera berakhir. Ketika dia berusaha untuk membuka pakaiannya, pria itu berbisik di telinganya, membuat tangannya berhenti. “Aku yang seharusnya melakukan itu.” Sebelum Leah sempat protes, tangan besar itu mengangkat badannya dengan mudah. Pria itu memperlakukannya seolah dia hanyalah anak kecil! Dalam pelukannya, Leah terlihat penuh dengan rasa malu. “Apakah kamu takut?” tanyanya. Jawaban Leah tidak terdengar karena begitu dia selesai bertanya, dia melemparkannya ke ranjang dan naik keatasnya. Kasur berdecit dibawah berat badannya. Jarinya memegang dagu Leah dan ibu jarinya mengusap bibir bawahnya. “Kenapa kamu berani datang ke tempat ini?” Suara itu terdengar di telinganya dan membuat tubuh Leah bergidik. Tetapi, intimidasi pria itu tidak dapat menghancurkan alasan dari kunjungannya saat ini. “Lakukan saja apa yang aku perintahkan padamu.” Leah menaikan satu alisnya dan pura-pura berani. “Jangan khawatir, aku berjanji akan membayarmu.” Mendengar itu, pria itu berkata dengan lembut, matanya bersinar jahil. “Buka kakimu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD