The Princess and The Savage

783 Words
Mata Blair menunjukan kemarahan. Perlahan, dia menurunkan tangannya dan berjalan mendekat. “Jangan pernah berpikir bahwa pernikahan ini akan membuatmu lari dariku.” Dengan jarak sedekat itu, bisikan penghinaan itu menusuk telinga Leah bagai ular. “Hari dimana aku naik tahta… aku akan menjadi orang pertama yang membawamu kembali ke Ibukota.” Itu adalah ancaman, tetapi Leah tidak merasa ketakutan. Malah, tawa pelan keluar dari mulutnya, seolah menusuk Pangeran tersebut. Leah ingin membalas perkataannya tetapi sadar bahwa bertukar kata dengan orang tidak masuk akal hanya akan menghabiskan waktunya. Tanpa salam perpisahan, dia naik keatas kereta kuda, benar-benar mengabaikan Blair. Ketika pintu kereta ditutup, Blair berteriak dan menggedor pintu dengan tinjunya. Tetapi Leah tidak dapat lagi mendengar umpatan dan hinaannya lagi, lebih tepatnya Leah memilih untuk tidak mendengarnya lagi. Apapun yang dikatakan Pangeran, kata-katanya hanya omong kosong. Kereta kuda mulai berjalan dan seiring dengan berjalannya roda, air mata turun dari mata Leah. Dia membuka jendela sedikit dan melihat keluar. Istana Estia mulai terlihat menjauh dari pandangannya, dari genggamannya. Itu adalah tempat dia hidup selama hidupnya, tapi dia sudah tidak lagi merasakan penyesalan atau kesedihan. Leah tidak pernah merasakan kepemilikan pada tempat itu sejak awal. Tetapi, ada perasaan tertinggal yang kini mengganggunya. “…” Dia menggigit bibir bawahnya dan menutup jendela. Dia tidak tahu kenapa dia terus memikirkannya. Pria angkuh, jahil dan tidak dapat dipahaminya. Dari apa yang Leah dengar, pria itu sudah meninggalkan istana sehari yang lalu. Ah! Leah memarahi dirinya sendiri. Bodoh baginya untuk merindukan hubungan yang telah rusak. Tetapi, meskipun dia mengutuki kebodohannya sendiri, dia tetap tidak bisa menghempaskan pikiran tersebut dari benaknya. Selagi Leah tenggelam dalam pikirannya, kereta kuda sudah meninggalkan Ibukota dan sampai di pinggiran kota. Hilanglah rumah-rumah, yang menyapanya kini adalah hamparan hijau yang membentang luas. Pemandangan yang luas, tetapi tetap tidak dapat menarik perhatiannya. Leah hanya dapat kembali duduk di kursinya dengan perasaan menyedihkan. Leah harap waktu dapat berjalan dengan cepat sehingga hidupnya yang membosankan dan tidak berguna ini dapat berakhir dengan lebih cepat. Tidak ada hal lain yang mampu dia lakukan, Leah menutup matanya, tiba-tiba, dia merasakan ada perubahan di udara. Bunyi terompet ditengah keheningan muncul. Suara yang memekakan telinga membuat langsung membuat Leah duduk dengan tegak, bulu kuduknya berdiri. Bunyi terompet muncul secara terus menerus. Dadanya berdegup kencang pada suara berisik yang muncul bergantian dihamparan yang tenang. Leah menarik jendelanya dan melihat keluar. Melihat pemandangan didepannya, dia meneguk ludahnya sendiri. Puluhan pria menunggani kuda berjalan menuju arahnya. Prajurit Kerajaan yang menjaga kereta kudanya berteriak terburu-buru. “Ini penyergapan!” Dititik ini, kereta kuda mulai berjalan dengan cepat. Tetapi, pemburu itu bergerak dengan cepat dan lincah. Mereka mampu menyusul dan mengepung area sekitarnya. Suara pedang yang dikeluarkan dan teriakan bercampur di udara. Secara tiba-tiba, tali mencekik leher prajurit yang menjaga Leah dari luar. Prajurit tersebut jatuh dari kudanya, kepalanya mengenai tanah dan berdarah. Panahan mulai berjatuhan, membuat kuda-kuda menjadi liar dan tidak terkontrol. Ketika Leah melihat keluar jendela, dia melihat pengendali kereta kudanya jatuh ke tanah. Leah menutup matanya dengan erat. Keretanya, hanya dengan kuda yang menariknya, mulai bergerak tidak beraturan. Tak lama, Leah merasakan dunianya berbalik. “…” Dia terkesiap. Keretanya terbalik dengan parah, rodanya rusak, pintunya terkoyak hingga terbuka. Selain goresan yang melukai kulitnya, dia merasa beruntung dapat selamat dari kejadian itu. Hanya, dia merasa pusing, dan ketika dia sudah lebih sadar, Leah keluar dengan mendorong pintu yang sudah rusak itu. Leah merangkak keluar dari kendaraannya yang sudah hancur, hidungnya mencium bau darah yang terbawa angin. Dia melihat sekelilingnya. Prajurit Kerajaan bertarung dengan para penyergap diatas lautan darah. Tetapi, itu adalah pertarungan yang sia-sia. Prajurit Kerajaan terus terdorong seolah-olah mereka bukan apa-apa. Satu prajurit berteriak dengan serak “Berani-beraninya kau, Barbar-“ Dia tidak bisa berbicara pada akhirnya. Ada pedang yang memotong lehernya. Dari lehernya darah mengalir jatuh ke rumput. Melihat itu, Leah menutup mulut dengan tangannya, berusaha menahan teriakan. Gambaran penyusup itu tercetak dimatanya. Mata-mata yang bersinar, rambut gelap, dan tato pada kulit kecoklatan. Orang-orang yang menyerang prosesi Kerajaan ini adalah barbarian, para Kurkan. Diantara para pria buas itu, satu sosok menonjol mulai muncul. Pria tinggi yang menunggangi kuda raksaksa berjalan kearah Leah. Dibawah rambut coklat gelapnya, mata berwarna emas itu menghujam Leah. Saat pandangan mereka bertemu, Leah merasa tercekik. Dengan terengah, Leah membuka mulutnya. “Kenapa…” Bisikannya, hampir tidak terdengar, dengan cepat tenggelam dalam tawa pria itu. “Tidakkah kau ingat?” Pria tersebut mengulurkan tangannya, menarik Leah dari tanah dan membawanya keatas kuda, duduk didepannya. Leah berusaha melawan, memutar badannya, tetapi kekuatannya kalah oleh pria itu. Tangan besarnya memegang pinggangnya dengan kukuh, sehingga perlawan Leah tidak membuahkan hasil. Pria itu tersenyum miring, bergumam diatas kepalanya. Kata-katanya membuat bulu kuduk Leah berdiri. “Sudah kubilang, aku akan menghancurkan hidupmu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD