Baru saja Vita menyandarkan bahunya di ranjang, bunyi notifikasi di HP-nya terdengar kembali. Diambil HP yang sudah ia letakkan tadi di atas meja nakas. Pesan dari nomor yang sama. “Jangan berharap loe bakalan bahagia sama Tommy. Dasar ngak tahu diri.” “Tunggu waktunya, hidup loe ngak akan tenang.” Vita mulai jengah dengan rentetan pesan ancaman yang diterimanya. Kali ini sudah pasti pesan itu memang bertujuan untuk mengancam dirinya, karena menyebutkan nama Tommy dalam isi pesan tersebut. Vita langsung menekan nomor tersebut dan menghubungi balik, ingin mencari tahu siapa yang melakukan hal seperti ini. Namun panggilannya di tolak. Percobaan kedua kali, panggilan Vita diangkat. “Halo, siapa ini? Kenapa tidak menjawab? Halo.” Kemudian suara telepon dimatikan terdengar di telinga Vit

