Bab 8

1881 Words
Farhana berdiri di depan sebuah apartemen, dia hanya harus naik ke lantai 5 dan mencari unit nomor 207. Perlahan kakinya terus mengayun pelan. Sejujurnya Farhana ragu. Namun, dia juga tidak ingin disebut kalah sebelum berperang.  Lift melesat menuju lantai 5. Beberapa menit berlalu, akhirnya Farhana sampai di depan unit nomor 207. Tangannya terulur dan menekan bell. Lima detik kemudian pintu terbuka.  Farhana terkesiap dan segera mundur, dia kembali menyamakan alamat tempatnya berada dengan yang tertera di dalam secarik kertas tersebut. "Benar," gumamnya.  "Kamu yang kemarin, 'kan?" tanya pria berkaos putih polos itu.  Farhana menelan liurnya yang mendadak tercekat seraya mengangguk. "Jadi Bapak?"  'Mati aku, Siap-siap balik ke Jakarta, kawin, punya anak dari orang yang sama sekali tidak aku cintai,' gumam Farhana dalam hati.  "Jadi kamu, orang yang dikirim dari pusat itu?"  Farhana kembali mengangguk sembari melangkah maju dan mengikuti pria itu masuk. Dia kemudian menatap telapak tangannya yang kemarin sempat dia gunakan untuk menampar pria yang kini berjalan membelakanginya.  "Mampus," gumam Farhana.  "Sudah tahu apa tugas kamu?" tanya Farras seraya berbalik.  Farhana tertunduk, dia malu sekali lantaran Farras tak mengungkit kejadian soal kemarin. Namun, Farhana manusia yang memiliki hati selembut sutra. "Pak, soal kemarin saya minta maaf," ucapnya sembari tertunduk dan menggaruk tengkuk lehernya. Daripada dipecat, Farhana lebih baik mengakui kesalahannya.  Farras mengangkat satu alisnya. "Jika kamu pikir, saya memaafkan kamu soal kejadian kemarin–" Farras mendekatkan hidungnya ke cuping telinga Farhana, "kamu salah."  Farhana segera menjauhkan wajahnya dari Farras. "Saya tahu, Pak. Saya salah." Farhana terus tertunduk. "Saya minta maaf," ucapnya.  Farras segera menahan dagu Farhana dan mengangkatnya. Perlahan wajahnya mendekat. Namun, sebelum sesuatu terjadi, Farhana segera melayangkan telapak tangannya ke bibir pria itu. "Aku tahu kamu Arga, orang yang lima tahun lalu per–"  Farhana tiba-tiba tergemap karena Farras membungkam mulutnya dengan telapak tangan. "Kalau kamu ingin selamat, sebaiknya kamu diam, terutama di depan Oma." Dia mendorong wajah Farhana dengan kasar.  Farhana meringis. Harusnya sejak awal dia pura-pura saja tidak mengenal pria itu. Kenapa Tuhan harus pertemukan pria itu lagi dengannya. Farras kemudian melenggang pergi. Dia menunjuk setiap sudut ruangan yang masih kosong. "Sebaiknya kamu mulai bekerja. Kita profesional saja, tidak usah mengungkit hal yang sudah berlalu."  Farhana berdecak kesal. Sepertinya para pria memang seperti itu. Ada baiknya, Farhana harus lebih berhati-hati terhadap Farras. Lima tahun yang lalu Farras berhasil merenggut ciuman pertamanya. Entah besok atau lusa, apa yang Farhana bayangkan membuatnya bergidik ngeri.  Farras berbalik kemudian mendekat. "Waktu kamu satu jam, konsepnya harus sudah dipersiapkan." Dia melangkah kemudian menoleh. "Ingat, hanya satu jam dan saya akan segera kembali." Pria itu kemudian menyambar jas yang teronggok di sofa.  Farhana mendengkus. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang hanya ada sofa saja di ruang tamu, selebihnya, kosong. "Ini kenapa sih, kerjaanku banyak banget jadinya," keluhnya. "Huft  …." Farhana mulai mencatat apa saja yang dibutuhkan untuk seluruh ruangan ini. Dari mulai lemari, bufet dan hal-hal kecil untuk mendekorasi seluruh ruangan tersebut.  Farhana juga membuat sketsa sebagai gambaran yang bisa disuguhkan untuk bosnya itu. Dia berharap dengan begini Farras akan suka pada apa yang dia rencanakan untuk ruangan ini. Dia tak berharap akan menjadi dekat setelah ini, justru dia berharap akan terbebas dari makhluk angkuh itu.  Satu jam terasa sangat singkat dan dia sudah membuat draf tentang apa saja yang akan di dipersiapkan untuk besok. Mulai dari cat, lampu dan pernak-pernik lainnya.  Tiba-tiba dia mendapat pesan singkat dari Nesya.  [Han, aku sudah ketemu sama orang yang mau dijodohin sama kamu.] Jantung Farhana mencelus, haruskah dia dengar dan tahu siapa orang itu? Namun, Farhana seperti tidak ingin mendengar apapun soal pria itu, entah itu nama ataupun wujud dan rupa pria tersebut.  [Makasih ya, Nes.] [Kamu mau lihat orang itu? Nanti aku kirim fotonya, dia lagi makan di depanku. Ganteng!] Nesya mengirim emoticon tertawa.  Farhana malah mencebik. Apa hal yang lucu dari ini, Nesya sudah tahu jawabannya, Farhana sama sekali tidak ingin tahu. Maka dia pun mengirimkan balasan.  [Lain kali aja deh, Nes. Aku belum siap.] Setelah balasan terakhir Farhana, Nesya tak lagi menjawab pesannya. Tiba-tiba Farhana merasa tenggorokannya sangat kering. Beruntung dia selalu menyediakan air mineral dalam tasnya. Dia tahu tak semua orang bersikap seramah Oma Yuli.  "Bagaimana?" tanya Farras tiba-tiba. Membuat Farhana terbatuk dan tersedak, hingga air dalam mulutnya mengenai kertas dan menghancurkan apa yang sudah dia gambar sedari tadi. Farhana berteriak, kemudian bangkit. “Anda bisa nggak sih, nggak usah ngagetin saya,” pekiknya seraya bangkit. Farras mengerutkan dahi. “Berani kamu sama saya? Kamu lupa siapa saya?” Farhana mengangkat dagunya ke atas. “Tentu saya tidak lupa siapa Anda. Arga, orang yang melakukan pelecehan terhadap anak dibawah umur, di tempat umum pula,” cerocosnya. Farras segera mencengkram rahang Farhana. “Hati-hati dengan ucapanmu, aku bisa saja melaporkanmu dengan tindakan pencemaran nama baik,” ucapnya sembari menepiskan wajah Farhana.  Wanita itu meringis kesakitan. Kedua tangannya memegangi rahang yang sudah memerah dan perih akibat cengkraman Farras. Farhana tidak menyangka ada orang sekasar dia. Apakah Farhana harus menyerah karena hal sepele seperti ini? Tidak! Sungguh Farhana tidak ingin pulang dengan tangan kosong, dia harus bisa membanggakan keluarga dengan pencapaiannya.  “Saya minta maaf,” lirih Farhana seraya tertunduk.  Farras segera berbalik. “Bagus.” Kedua tangannya dilipat di depan. Wajahnya terangkat dengan angkuh. “Saya tahu kamu pasti butuh pekerjaan ini, ‘kan?”  Alih-alih menjawab Farhana malah semakin menundukkan wajahnya. Dalam hati dia terus menggerutu. Dia bersumpah tidak akan sudi jika harus berurusan lagi dengan orang yang berbahaya seperti Farras.  “Jawab!” pekik pria itu. “Kalau sekiranya kamu nggak butuh, buat apa kamu masih di sini?” Farras mengangkat kepala Farhana dengan menarik rambut wanita itu ke belakang. “Kalau begitu kamu pergi!” pekiknya sembari menepiskan kepala wanita itu.  Farhana terjatuh dan kembali meringis. “Saya memang butuh, Pak, tapi--” Ingin Farhana teriak kalau dia juga tidak ingin diinjak-injak seperti ini. Dia kemudian menarik napas. “Saya--” Farras kemudian berjongkok di depan Farhana dan menyentuh pipi wanita itu. Dia tersenyum dengan angkuh. Namun, Farhana lebih memilih memejamkan mata, daripada harus melihat wajah arogan Farras.  Tak salah memang wanita di depannya ini semakin cantik setelah lima tahun berlalu, tapi dia tetap menyebalkan. Farras bersumpah tidak akan melepaskannya lagi, setelah sumpah serapah yang wanita itu ucapkan, hingga berhasil menjadi sebuah kutukan baginya. Farras kemudian bangkit dan segera membelakangi Farhana, seolah dia sedang menyembunyikan kegugupannya. Lalu dia menarik napas dan berujar, “Dengar, bekerjalah dengan baik dan jangan pernah buat saya marah!” Farras memperingatkan. Farhana menatap punggung pria itu. “Iya, Pak,” gumamnya. Dia seharusnya senang, lantaran Farras tidak memulangkannya ke pusat, itu artinya Farhana bisa naik jabatan. Namun, baginya ini terlalu riskan, apalagi dengan sikap Farras yang terlalu pemarah, sementara Farhana juga bukan orang yang sabar.  Wanita itu kemudian  bangkit. “Ini hasil desain saya, maaf basah,” ucap Farhana. Dia bukan wanita yang berubah baik dalam hitungan detik, dia hanya sedang mencoba untuk melunak, agar tidak mendapat kekerasan dari pria sint*ng itu lagi. Farras segera menyambar kertas yang diberikan Farhana. Sungguh dia tidak bisa bersikap lebih lembut. Farhana curiga, mungkin dulu Farras suka tawuran, atau jangan-jangan geng motor.  “Bagus,” puji Farras. Namun, Farhana merasa kata tersebut bukan dari hati pria itu. Pasalnya dia melihat sendiri Farras melewati desainnya tanpa memperhatikan setiap detailnya. “Besok datang jam tujuh, bawa konsep yang lebih baik dari ini.” Dia kemudian melempar kertas tersebut ke lantai, lalu pergi ke luar.  Farhana mendengkus. Dia pikir Farras sedikit melunak, namun, sepertinya itu tidak akan pernah terjadi. Farhana memungut kertas tersebut. Dan segera ke luar dari tempat terkutuk itu. Semoga besok dia bisa lebih sabar menghadapi Farras.  Farhana hendak memesan ojek online sembari berjalan menuju lift. Tiba-tiba dia tak sengaja menabrak punggung Farras yang dengan bodohnya pria itu sengaja berhenti saat dia tahu Farhana berjalan di belakangnya.  Farhana tercenung saat ponselnya terjatuh dan terbagi menjadi tiga bagian. “Kamu--” Tiba-tiba dia mengerang saat melihat wajah menyebalkan Farras menatapnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. “Kesialan apa lagi ini?” gumamnya sembari  memunguti ponselnya yang rusak.  Sementara itu Farras tetap berdiri di depannya. Farhana sempat menatap tajam sepatu mengkilap pria itu. “Ini gila sih,” gumamnya lagi. Farhana kemudian bangkit. “Permisi, Pak saya duluan,” ucapnya. Farhana tidak yakin bisa menahan amarahnya lagi, dari pada bisikan gaib terus merayunya untuk berselisih kembali dengan Farras, alangkah lebih baik, jika Farhana segera enyah dari hadapan pria itu.  Farhana belum sempat mengkonfirmasi pesanan ojek, terus bagaimana sekarang? Farhana bahkan tidak tahu caranya pulang, sementara ponselnya mati. Hatinya kesal sekali! Kedatangan Farras dalam hidupnya adalah malapetaka.  Kini Farhana berdiri di depan apartemen. Berharap semoga malaikat datang membantu, atau kalau tidak sekalian saja malaikat pencabut nyawa yang datang, dia bersumpah akan menghantui pria tak beradab itu.  Sementara dari jauh Farras terus memperhatikan wanita itu. Senyum sinisnya berkali-kali tersungging. Dia ingin sekali melihat wanita itu menderita, sama seperti dirinya selama lima tahun terakhir ini. Menurutnya ini semua karena kutukan  yang Farhana ucapkan.  Farhana mengedarkan pandangan. Kemelut telah membuatnya frustasi. Matahari perlahan terbenam, sementara awan hitam berarak, tetes demi tetes air mulai membasahi permukaan tanah yang dia pijak. Terpaksa Farhana berteduh di pos satpam. Entah sampai kapan dia akan di sini, sungguh otaknya terlalu keruh untuk berpikir.  "Neng dari mana?" tanya Satpam seraya mendekat dan memberikan kursi plastik untuk Farhana duduk.  "Makasih, Pak." Farhana tersenyum kaku. Dia kemudian mendaratkan bokongnya. "Saya dari Jakarta, Pak. Baru kemarin saya ke sini." Farhana tertunduk seraya menghela napas. "Saya nggak tahu jalan pulang," imbuhnya.  Hujan semakin deras, angin mengantarkannya ke tempat Farhana berada sehingga sepatu yang dipakai wanita itu kebasahan. Begini sekali nasibnya, Farhana merasa menjadi orang yang paling menderita, harusnya saat ini dia tiduran di kasur empuk Oma Yuli. Bukan malah di sini terjebak hujan. Sementara alamat rumah Oma Yuli tertera di ponselnya yang sudah mati. Seharusnya kalau cuma jatuh ponselnya tidak akan langsung mati, memang dasar sudah jelek mau diapakan lagi. "Neng tinggal di mana?" tanya satpam yang kini berdiri di belakangnya.  "Saya kos di rumah Oma Yuli. Di--" Farhana tampak berpikir. Namun, bukan alamat rumah Oma Yuli yang dia ingat. "Pak counter hape di mana?" "Oh di sana, Neng." Pak Satpam menunjuk ke kanannya.  "Oh gitu." Farhana kemudian bangkit. "Saya boleh pinjem payung nggak, Pak? Nanti saya balik lagi ke sini, maksud saya besok, Pak, saya janji."  Kening pria bertubuh gemuk itu mengkerut.  "Saya desain interior apartemen pak Farras."  "Sebentar." Satpam itu mengambil payung yang menggantung dekat pintu. "Pakai aja, Neng."  “Makasih, ya, Pak.” Farhana bangkit dan membuka lebar payung tersebut. “Saya permisi dulu, Pak.” Gadis itu kemudian berlalu dari tempat tersebut, dia berjalan ke tempat yang di sana terdapat berjejer-jejer toko.  Farhana menghela napas. Dia kemudian kembali dengan dengan hati yang sedih, konter ponsel baru saja tutup. Seharusnya dia datang lima menit yang lalu.  “Pak.” Farhana meletakkan payung tersebut di lantai. “Konter sudah tutup,” ucapnya lesu.  “Lah, biasanya sampai jam sembilan, Neng. Masa jam tujuh udah tutup. Nggak biasanya.” Sudahlah Farhana tidak ingin menduga-duga, saat ini hatinya benar-benar kacau. Dia mengentakkan kaki dan berlari menuju lobi apartemen. Tiba-tiba tubuhnya tak sengaja menabrak Farras. “Kamu lagi?” pekik pria itu.  Farhana menatap pria itu dengan tajam. Tak pedulilah jika besok dia tak jadi kerja yang penting sekarang dia bisa istirahat, atau tidur sekalian. Sekali-kali memang dia harus belajar menjadi si tebal muka. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD