“Kamar tulip no 17,” ucap Fahri pada istrinya lewat sambungan telepon. [Ya Allah, Han. Cepat sembuh.] jawab Diana di balik telepon. Fahri menoleh pada ibunya yang sedang duduk termangu di depan ranjang tempat Farhana membaringkan tubuh lemahnya. Rahmi masih tidak menyangka, anaknya akan menginap di rumah sakit. “Nanti aku telepon lagi,” ucapnya pada Diana. Belum selesai istrinya itu menjawab. Fahri sudah terlanjur memutus panggilannya. Setelah menyimpan ponsel ke dalam saku celananya, Fahri mendekat pada ibunya. “Ibu nggak usah pikirin biaya rumah sakit,” ucapnya sembari membelai punggung sang Ibu. “Insya Allah akan ada rejeki buat Farhana. Rahmi mengangguk, meski sebenarnya isi kepalanya penuh dengan kekhawatiran-kekhawatiran akan hal itu. Sesekali dia langsung menyeka air matanya

