Mobil Farras berhenti di depan toko perlengkapan bangunan. Dia kemudian melepas sabuk pengaman.
"Tunggu, Bapak memang berapa lama tinggal di apartemen?" Farhana memiringkan kepalanya.
"Baru satu tahun."
"Hah. Dan nggak ada tempat tidur?" Farhana mengerutkan dahi.
Alih-alih menjawab, Farras malah turun. Sementara Farhana menepuk keningnya sendiri, lantaran dia baru ingat belum mengabari Satria soal hari ini tidak masuk ke kantor, dia pun segera ke luar dari dalam mobil dan mengejar Farras.
"Pak, saya boleh pinjam ponsel nggak? Buat ngabarin Satria."
Farras berhenti, kemudian merogoh ponsel. Farhana langsung tersenyum, lantaran Farras bersikap baik. Namun, tiba-tiba dia tercenung karena Farras sendiri yang mengabarkan itu pada Satria.
"Halo, Sat. Farhana yang dari Jakarta itu, dia langsung kerja buat desain apartemen saya. Mungkin semingguan atau bisa juga lebih."
[Iya baik, Pak.]
Farras kemudian menutup ponselnya. Sementara Farhana tak memberi tanggapan sebagai bentuk terima kasih. Dia langsung mengikuti Farras masuk ke dalam toko tersebut.
“Siang, Pak, Bu,” sapa penjaga toko.
“Saya pesan cat warna coklat khaki, tapi yang lebih terang,” ucap Farhana.
“Nggak! Saya mau abu misty. Bukan coklat Khaki,” ucap Farras.
“Nggak-nggak bisa, udah Pak, coklat khaki aja.”
Penjaga toko memberikan buku berisi contoh-contoh warna. “Silakan di pilih saja dulu, Bu, Pak.”
Farhana menelisik coklat yang sesuai dengan konsep desainnya. Dia kemudian menunjukkannya pada Farras.
“Nggak! Itu terlalu terang.”
“Ini nggak terlalu terang. Emang kamu mau aku kasih warna pink?” cibir Farhana.
Farras menelan liurnya kala dia dan Farhana tak sengaja bersirobok. “Dengar, aku tidak berniat membeli sofa baru yang sesuai dengan konsepmu.”
Farhana terdiam sejenak. Dia kemudian menarik napas. “Oh oke, Anda mau abu misty? Baik.” Farhana mengangguk. Dia kemudian menatap penjaga toko tersebut. “Pak, kami mau abu yang ini sama yang ini.” Farhana menunjuk abu Misty dan abu yang lebih gelap dari itu.
Farras tercenung menatap Farhana yang terkadang emosinya naik, namun terkadang rendah. Sungguh kamuflase yang baik.
“Sama yang putih, Pak.” Farhana menambahkan.
“Berapa ember, Bu?” tanya penjaga toko sembari membawakan dua ember cat berwarna abu misty.
“Kok merknya yang itu?” tanya Farhana. “Nggak! Yang itu jelek, saya mau yang bebas noda, kalau ada noda bisa dibersihkan,” tambahnya.
Farras kemudian bangkit. “Di rumahku tidak ada anak kecil yang akan merusak warna dinding. Jadi saya rasa tidak masalah yang itu saja. Lagi pula, kalau saya tidak suka dengan konsep kamu, sudah pasti kamu akan saya tendang ke pusat. Jadi jangan berpikir saya akan suka.”
Farhana tergemap. Dia kemudian menggaruk tengkuk lehernya. “Iya baik, Pak.”
“Sudah itu saja, Pak. Tolong kirimkan ke--” Farhana menoleh pada Farras dan membuka telapak tangannya. “Alamatmu mana?”
Farras mengeluarkan secarik kertas dan meletakkannya di atas tangan Farhana.
Setelah membayar semua, kini mereka meluncur ke sebuah mall untuk mencari aksesoris rumah dan perlengkapan lainnya.
Farhana memilihkan Farras meja makan kecil untuk area sudut dengan stool dan daun meja lipat. “Ini bagus, Pak. Bapak, ‘kan tinggal sendiri, jadi ini sangat cocok dan tidak memakan banyak tempat.”
Farras suka dengan selera unik Farhana. “Ini hanya dua kursi?”
“Iya. Buat apa terlalu banyak kursi, nggak ada yang duduknya juga, ‘kan?” komentar Farhana. “Orang jomblo juga,” gumamnya.
“Kalau begitu tidak perlu pakai meja makan. Saya bisa makan di sofa.” Farras mengedikkan bahu.
Farhana menarik napas. Dia mengerti mungkin Farras sangat simpel. “Kalau Bapak tidak suka, ya tidak apa-apa.”
“Ya sudah ambil!”
Farhana mengacungkan jari telunjuk pada SPG furniture itu. Wanita cantik dengan tubuh langsing itu pun kemudian mengangguk dan mencatat pesanan mereka.
Farhana juga memilihkan cermin tinggi, meja bulat dan lampu gantung. Sementara Farras sendiri yang memilih tempat tidur. Meski Farhana sempat heran, kenapa Farras tidak membeli tempat tidur sejak dulu dan malah bertahan tidur di sofa, namun, keheranan itu tidak membutuhkan jawaban, lagipula itu urusan Farras, entah apakah badannya sakit atau tidak, Farhana tidak peduli.
Farhana juga sibuk memilih dresser vertikal dengan empat buah laci, dia akan meletakkan ini di kamar Farras. Farhana juga berencana membeli ottoman. Wallpaper dinding dan beberapa lukisan alam untuk memanjakan mata.
Tujuannya untuk mendesain kamar Farras terlebih dahulu, agar bosnya itu bisa tidur dengan nyaman. Farhana menatap arlojinya, waktu sudah bergulir dan menunjukkan jam makan siang.
“Sepertinya sudah ini dulu, ya, Pak.” Farhana mendekat. Dia tidak menyebutkan kalau sebenarnya dia capek dan butuh istirahat, karena dia tidak ingin dicap tidak profesional. Sebenarnya di tempat lain, jika dia diminta untuk mendesain, si pemilik rumah tidak akan mengikutinya berkeliling ke tempat furniture, sudah pasti mereka menyerahkan semua pada Farhana. Namun, Farras adalah bosnya dan dia sendiri yang memilih tempat mana yang pas untuk membeli keperluan apartemennya. Lagipula Farhana belum tahu daerah Bandung, kalau tidak seperti ini, mungkin saja kejadiannya akan sama seperti kemarin, dia tidak bisa pulang, apalagi dia belum punya ponsel.
Setelah semuanya selesai. Mereka kemudian berjalan bersebelahan namun sedikit berjauhan, lantaran Farhana tidak pernah suka aroma parfum Farras.
Farras biasa saja, lagipula dia tidak begitu peduli. Namun, tiba-tiba Farhana mepet ke arahnya.
“Hana?” ucap seorang pria yang kini berdiri di depannya bersama seorang wanita.
Farhana menatap tangan pria itu yang bergandengan dengan pasangannya. “Gavin?” Farhana segera memeluk lengan Farras dengan erat.
Gavin menatap wajah pria di sebelah Farhana. “Jadi, waktu itu kamu beneran selingkuh dariku?”
Farhana tergemap, kemudian dia menoleh pada Farras. Namun, tiba-tiba dia meringis, lantaran baru ingat Farras adalah orang yang membuat hubungannya dengan Gavin berakhir. “Nggak gitu, Vin,” sanggah Farhana.
“Kalau iya, juga nggak apa-apa. Kenalin, ini Maria, dia istriku dan sedang mengandung anakku.”
Mata Farhana membola, jantungnya mencelus, sementara bibirnya bergerak pelan. “Selamat ya, Vin.” Senyumnya terkesan begitu getir. Ketika sang mantan sudah menemukan orang yang tepat, sementara dirinya masih seperti ini, bahkan cintanya bertepuk sebelah tangan.
“Terima kasih, kami permisi.” Pria itu melenggang pergi bersama istrinya.
Lutut Farhana tiba-tiba lemas. Bibir bawahnya menganjur. “Kenapa Gavin bisa nikah muda?” tanyanya pada diri sendiri.
Farras menatap wanita yang masih memeluk lengannya. Sedetik kemudian Farhana memukul lengan pria itu. "Ini semua gara-gara kamu," ucap Farhana kesal.
Farras mengerutkan dahi. "Aku?"
Farhana menoleh. "Iya, dari awal kedatangan kamu dalam hidupku. Kamu itu hanya pembawa sial!" Farhana mengentakkan kaki, kemudian melenggang pergi.
"Dasar cewek sint*ng!" Farras segera mengejar Farhana. "Dengar!" Dia kemudian menarik tangan Farhana. "Kalau Tuhan punya cara lain buat kamu berpisah dengan cowok tadi, kenapa jadi aku yang salah?"
Farhana mengernyitkan hidung. Kemudian berbalik dan satu tamparan dia layangkan tepat di pipi Farras. "Kalau waktu itu kamu nggak cium aku di depan dia, aku pasti masih sama dia!"
Farhana telah menyalakan api. Kali ini kemarahan Farras sudah di ubun-ubun. Farhana telah berani menamparnya untuk yang ketiga kalinya di tempat umum pula. Sungguh tidak akan ada lagi yang keempat, kelima dan seterusnya.
Farras kemudian mendekat dan merengkuh Farhana ke dalam belenggunya. "Kamu terlalu yakin, sementara kamu tidak mengintrospeksi diri. Lihat saja kamu akan dapatkan pembalasan yang setimpal dariku, camkan itu!" ucap Farras tepat di telinga Farhana.
Farhana mencoba menjauh. Namun, Farras tak akan melepaskannya. “Tak akan ada cinta untuk perempuan seperti kamu. Aku bersumpah!” ucap Farras penuh penekanan.
Jantung Farhana berdebar kencang. Dia benar-benar telah membuat Farras marah padanya, lalu bagaimana dengan pekerjaannya, apa sebaiknya dia kembali ke Jakarta saja?
“Aku minta maaf, aku emosi,” sesal Farhana.
“Aku tahu sikap manismu hanya untuk berpura-pura, inilah kamu yang asli. Kamu itu w************n!” Lagi-lagi Farras mengucapkan kalimat yang menusuk ke relung hati Farhana.
Farhana tahu, dia memang salah karena tidak bisa mengendalikan emosi dan selalu saja terbawa perasaan, entah itu mengenai hal yang sudah berlalu atau hal yang sedang dia rasakan saat ini.
Farras masih mencengkram pinggulnya, hingga dia merasa tubuhnya terlalu menempel dengan Farras. Farhana memejamkan mata, saat tangan Farras yang lain mencengkram dagunya, hingga Farhana merasa rahangnya panas dan perih.
Napasnya terengah, sedetik kemudian dia membuka mata dan berujar, “Maaf, kalau begitu saya akan kembali ke Jakarta. Saya tidak masalah, kalau bapak mau pecat saya.”
Farras mendorong kasar dagu Farhana. “Enak saja, saya sudah bayar mahal padamu. Kamu harus kembalikan semuanya.”
“Iya, pasti saya kembalikan, kalau begitu biarkan saya pergi untuk cari ATM, nanti saya kembalikan uang Bapak.”
Kali ini Farras mendorong tubuh Farhana. Hingga punggungnya mengenai rolling door, dan dia meringis saat lengannya mengenai gagang rolling door tersebut. “Aww--”
Kegaduhan yang Farras ciptakan di tempat umum telah memancing para pengunjung mall untuk berkumpul. “Sedang apa kalian? Pergi!” teriak Farras.
Farhana masih memegangi lengannya sakit. Farras benar-benar telah berubah menjadi makhluk yang mengerikan bak monster.
“Kenapa masih di sini? Pergi! Ini urusan saya dengan wanita kurang ajar ini yang sudah membawa lari uang saya. Kalian mau ganti, hm?” Tangan Farras menunjuk mereka semua yang perlahan meninggalkan kerumunan. “Argh …,” teriaknya.
Farhana semakin ketakutan, dia terus mundur saat Farras terus melangkahkan kaki dan mendekat padanya. “Pak saya mohon, Pak.” Farhana mengatupkan kedua tangannya. “Saya minta maaf,” lirihnya.
Farras kemudian menarik tangan Farhana dan berlalu dari mall. Dia membawa wanita itu ke dalam mobilnya. Kemudian membanting pintu saat Farhana sudah di dalam. Farhana terkesiap. Kali ini bulir air mata turun melintas, dia segera menyekanya sebelum Farras melihat dan mengira kalau dia lemah.
Farhana benar-benar takut, apa yang akan terjadi padanya setelah ini? Dia merasa lengannya lebam akibat mengenai gagang pintu rolling door. Apa dia kurang berdoa dan kurang meminta perlindungan, sehingga dia dipertemukan dengan pria seperti Farras? Atau apakah ini cara Tuhan, agar Farhana tidak betah di Bandung dan kembali pulang ke Jakarta. Apakah ini salah satu bentuk ketidak ridhoan ibunya, sehingga Tuhan hadirkan Farras sebagai ancaman?
Pertanyaan tersebut terus terngiang di kepala Farhana. Hingga dia tidak sadar Farras tengah menjalankan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata untuk menakut-nakutinya.
Tiba-tiba air mata kembali turun dari sudut matanya. Dia ingat sang ibu, mungkin saja ibunya memang tidak meridhai kepergiannya ke Bandung. Mungkin memang sudah saatnya dia menjalankan wasiat ayahnya. Namun, sayang sekali Farras terlanjur menahannya di sini.
“Nggak usah nangis!” Farras mendelik. “Air mata kamu tidak mempan untuk saya.”
“Saya cuma lagi ingat sama ibu saya,” jawab Farhana sembari menyeka air matanya. “Saya--”
Farras berdecak. “Kamu inget ibu kamu karena kamu lagi susah, iya? Karena saya di sini buat kamu menderita, iya?” tebaknya.
Farhana tertunduk.
“Saya yakin, anak seperti kamu tidak ada sedikitpun ingat orang tua kalau dalam keadaan senang, iya, ‘kan?” Farras melirik wanita itu sekilas. “Baiklah saya akan buat kamu untuk terus mengingat ibu kamu.”
Farhana mengangkat wajahnya dan menatap pria itu. “Tolong jangan lakukan itu.” Tangan Farhana kembali mengatup. “Aku mohon.”
“Permohonanmu, tidak berarti apapun,” ucap Farras tanpa menoleh padanya. Farhana kembali tertunduk. Dia menyesal karena telah menentang ibu dan kakaknya. Jika saja Farhana tidak lakukan itu, mungkin dia tidak akan terjebak di sini bersama pria berparas tampan, namun berhati dingin dan kejam.
Farras menghentikan kendaraannya di depan apartemennya. Farhana ragu untuk ikut turun bersama pria itu. Bagaimana kalau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padanya. Farhana terus melantunkan doa, memohon perlindungan pada yang Maha Kuasa.
“Cepat turun!” Ketukan di kaca jendela membuat Farhana terkesiap. Gadis itu membuka sabuk pengamannya dengan sangat pelan dan lambat. Farhana berusaha berpikir positif. Namun, melihat seringai Farras, pikiran-pikiran buruk terus saja merajainya.
“Tuhan, semoga dia tidak memperkosaku,” ucapnya seraya membuka pintu mobil. Farhana melihat Farras yang sedang berdiri di depan pintu. Dia kemudian mengayun kaki dan turun dari mobil.
Farhana menjauhkan tangannya saat Farras hendak menariknya. Namun, mata Farras yang menghujamkan tatapan tajam membuat Farhana mengalah. Farras menarik tangannya dengan mencengkram kuat-kuat hingga Farhana meringis.
“Senyum,” desisnya tepat di telinga Farhana. “Jangan pasang wajah jelekmu di depanku.”
Farhana mencoba mengurai senyumnya. Namun, itu terkesan pahit saat Farras melihatnya. “Yang tulus,” ucap Farras sembari kembali menguatkan cengkramannya.
Farhana mengerjapkan mata kemudian tersenyum sebaik mungkin.
“Bagus!”
Farhana mimpi apa, hingga harus menjadi tawanan pria tak beradab seperti Farras? Langkahnya terasa sangat berat, meski begitu dia terus mengayun kaki. Jantungnya berkali-kali berdebar dengan hebat, seolah meberitahunya untuk segera lari.
“Siang, Pak Bos ,” sapa Agus.
“Siang, Gus.” Farras memberikan pria itu senyum terbaiknya. Dia tidak ingin terlihat kejam di depan orang-orang, terutama di depan Siwi, dia hanya ingin menunjukkan kalau saat ini dia bahagia bersama Farhana.
Farhana hanya bisa tertunduk, dia tidak ingin orang lain tahu kalau matanya sembab, atau kalau tidak Farras akan marah dan berulah lagi padanya.
“Kapan nikah, Pak Bos?” tanya Agus.
Farras kemudian menoleh sekilas pada Farhana. “Belum tahu, Gus. Belum ada rencana. Saya belum ada niat untuk nikah dalam waktu dekat.”
Agus hanya bisa mengangguk. “Saya hanya tinggal duduk manis menunggu undangan ya, Pak Bos.”
Farras tersenyum. “Nah itu tahu. Mari Gus.” Farras melenggang pergi bersama Farhana yang tetap tertunduk.
Sial sekali nasib Farhana. Di saat menderita seperti ini, ponselnya mati. Dia tidak bisa mengabari siapa-siapa. Uang dari Farras bahkan belum tersentuh sama sekali.