"Aa'‼‼ Kok aku nggak dibangunin sih."
Kara grusak-grusuk di kamar. Mengambil barang-barang yang harus dipersipkannya untuk dibawa ke kampus. Mandi ala kadarnya, yang penting basah. Pake kaos aja yang penting bisa cepet masuk badan. Dan pake celana dong pastinya. Pokoknya tema OOTD hari ini simpel sesimpel-simpelnya.
Semua ini gara-gara pak dosennya yang nggajak lembur ibadah ala-ala pasangan yang berlabel halal hingga hampir pagi. Jadi ya gini, bangun kesiangan. Nggak sempet nyiapin sarapan. Dan pake baju ala kadar. Sangat bukan Kara sekali.
Eh, tapi jika dinget-inget salah Kara juga sih ya... siapa suruh goda-goda nempel kayak tadi malem. Sedangkan si biang kerok yang mengajaknya lebur malah anteng-anteng nikmatin teh anget dipagi hari. Nggak tau apa ya ini istrinya lagi kerepotan.
"A' nanti sarapan di kampus nggak papa ya?? Aku nggak sempet kalo nyiapin sarapan." ucap Kara sambil memasukkan bukunya dengan tergesa.
"Iya." Udah, cuma gitu.
"Aku berangkat dulu ya A'. Assalamualikum." Kara mencium tangan suaminya. Pamitan. Tapi Fatih tak melepaskan tangan Kara. Digenggamnya tangan Kara tak ingin lepas. Malah kini jari-jari tangan mereka sudah terjalin menyatu.
"Bareng aja." ajak Fatih sambil menarik tangan Kara ke depan.
"Nanti telat kalo bareng Aa' pake mobil. Nggak ah. Aku mau naik motor aja." Memang sesekali Kara menaiki motornya saat jam kuliahya tidak sama dengan jadwal mengajar Fatih. Atau saat Fatih harus tugas keluar.
"Nggak." Fatih tetap memaksa Kara masuk ke dalam mobil. Kemudian disusulnya masuk ke bagian kemudi.
Fatih memberikan Kara kotak makan sebelum memakai seatbelt dan menjalankan mobilnya. Kara yang melihat itu jelas terheran-heran. Nggak sadar kalo sejak dari meja makan Fatih membawa tempat makan yang biasa dia bawa kalo sekiranya dia tidak bisa ke kantin.
Kara membuka kotak makan tersebut dan menemukan makanan favoritnya saat keadan terlambat seperti ini. Ya ampun... suaminya ini ternyata masih tetap perhatian dengan perutnya. Duh, makin cintaaaa.
Kara memakan roti tersebut dan sesekali menyuapi suaminya. Walaupun sempat ditolak Fatih, Kara tetep kekeh memasukkan roti kedalam mulut suaminya. Yaiyalah mosok dimakan sendiri, sedangkan dia tau kalo suaminya belum sarapan. Jahat dong Kara jadi istri.
Masih di tengah jalan, roti isi butan Fatih telah habis ludes. Kara mengangsurkan s**u kotak yang sempat dia ambil dari kukas ke mulut Fatih.
Fatih langsung meminumnya dari tangan Kara. Beralasan kedua tangannya masih fokus mengemudi dan tak bisa digunakan untuk memegang. Alasan. Tapi Kara tak ambil pusing dengan sikap manja Fatih yang kalo lagi kumat kayak gini. Sudah biasa.
"Nanti kamu selesai jam berapa?" Fatih menolehkan kepalanya menatap Kara.
"Jam tiga. Kalo Aa'?"
"Jam empat baru selesai. Kamu nggak papakan nunggu?"
"Ya nggak papa sih. Tapi A', nanti aku mau ke toko buku. Apa aku pulang dulu aja ya naik ojol?"
"Nggak. Nggak boleh. Nanti nunggu aja di kantor."
"Nggak mau ah." Tolak Kara langsung
"Kenapa?" Fatih mengangkat alisnya heran.
"Malu aku. Nanti kalo ketemu Pak Yogi atau dosen lain bisa digodain lagi aku kayak waktu itu. Nggak, nggak mau."
Ingatan Kara kembali ke kejadian beberapa hari sejak dia baru menikah dengan Fatih. Dia ke ruangan Fatih untuk mengambil Flashdisk yang terbawa oleh suaminya itu. Tapi saat sampai disana, banyak dosen-dosen yang menggodanya. Terutama Pak Yogi. Dosen yang seumuran Fatih. Malu. Sampai saat ini Kara masih trauma kalo disuruh ke ruangan dosen. Apalagi kalo sendiri. Bikin trauma. Ya gini nasib jadi istri dari dosennya sendiri.
Pernikahan mereka awalnya memang membuat geger satu kampus. Bahkan mungkin sampai ke telinga kampus tetangga. Mereka memang tak menyembunyikan status pernikahan mereka. Buat apa disembunyikan. Toh itu bukan aib kan?? Walaupun awalnya orang-orang sempat bertanya-tanya tentang perikahan dadakan mereka. Kenapa mendadak sekali?? Jawaban Kara tentu mendapat sambutan kurang puas bagi sipenanya. "Kejutan". Apanya yang kejutan. Kabar yang terdengar masih sebulanan lagi tapi undangan mereka terima berminggu-minggu lebih awal. Ckckckc.
Tapi Kara tak peduli. Kan emang dari awal dia tidak peduli dengan manusia-manusia yang julid tentang hubungan mereka. Manusia-manusia kurang kerjaan seperti mereka lebih baik hempaskan saja.
Sedangkan Fatih, istrinya sendiri aja kadang dicuekin apalagi para hibah lovers yang membicarakan hubungannya. Tapi Kara dan Fatih selalu bersyukur orang-orang tak ada yag tau alasan utama mereka dinikahkan cepat. Dan seiring berjalan waktu, orang-oarang sudah mulai terbiasa dengan hubungan mereka. Bahkan nggak kaget kalo liat Fatih atau Kara jalan bareng di luar maupun di dalam kampus.
"Alhamdulillah nggak telat." Masih ada waktu 10 menit sebelum kelasnya mulai. Kara bersyukur suaminya ini mau mengemudikan mobilnya lebih cepat dari biasanya.
"A' sini deketan. Sun dulu." Fatih yang baru mematikan mobilnya memandang Kara lama. Mengerjap-ngerjapkan matanya. Tadi jalan disuruh buru-buru, giliran udah sampe masih sempet-sempetnya minta cium.
Tak mendapat respon dari Fatih, Kara menarik tangan suaminya itu. Memegang rahangnya dan memberikan ciuman di kening dan pipi. Dilanjutkan dengan kembali mencium tangan Fatih. Padahal Kara pengen cium bibir. Tapi takutnya kebawa perasaan dan ada yang memergoki mereka. Kan nggak lucu kalo citra mereka hancur gara-gara napsu semata. Dan tentunya Kara tak rela reputasi Fatih hancur karna hanya keinginannya itu. Yah gagal deh morning kiss ala-ala couple goals jaman jigeum.
Kara langsung keluar saat ingat kelasnya akan dimulai sebentar lagi. Duh, alamat bakal dapet tempat duduk di depan ini.
******
"A' tadi mamak telpon, weekend disuruh ke rumah. Ada arisan katanya."
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan ke toko buku di salah satu mall yang baru dibangun di kota mereka.
"Iya."
"Nginep ya A'. Kesananya sabtu, nanti pulang malem senin."
"Iya."
"A' bisa nggak sih kalo jawab jangan singkat-singkat gitu." Fatih menatap Kara sebentar, kemudian fokus kembali ke kemudinya.
"Emang harusnya gimana?"
"Ya jawab, iya sayang. Terus apa gitu. Yang penting nggak singkt-singkat."
"iya."
"Nah kan. Baru juga diomongin." Kara manyun. Menatap Fatih kesal
"Iya sayang. " Saat mengatakan itu, Kara bisa melihat pipi hingga telinga Fatih memerah menahan malu. Bahkan tingkah Fatih jadi keliatan malu-malu meong setelahnya.
"Aduh, efek jarang dipanggil sayang sama Aa' ya gini. Jantung ku deg-degan nggak mau berenti. Ya ampun A'... perutku jadi melilit." Kara memegang perutnya. Apa yang dia katakan nggak bohong. Padahal dulu saat sama mantan-mantannya dia biasa saja kalo dipanggil sayang. Tapi ini sama Fatih rasanya beda. Efek Fatih yang terlalu cuek nih. Dimanisin dikit jadi gini.
Fatih yang mendengar itu hanya nyengir dan menggaruk kepala belakangnya.
"Uluh-uluh suamiku." Kara mencubit-cubit lengan Fatih gemas. Hanya cubitan-cubitan kecil yang tentunya tak akan membuat Fatih merasa sakit.
"A' main tebak-tebakan yuk."
"Mobil-mobil apa yang bisa bikin baper??" Fatih mengerutkan keningnya. Terlihat berpikir.
"Nggak tau. Mobil apa?"
"Mobilang I love youuuuu....." Kara tertawa saat dilihatnya Fatih mengalihkan pandangannya kesamping sambil menahan senyum. Namun saat perhatiannya kembali ke depan-
"Ya Allah A', AWAS- !!!"
Brakk!!