#08 - Harapan di Ujung Pedang

1219 Words
Beno hanyut dalam diam. Ia hanya bisa merenung. Berbagai pikiran buruk tentang hari esok berkelebat di kepalanya, memaksa untuk dipikirkan satu persatu, bukan hanya dilewatkan dan dianggap angin lalu. Pikiran-pikiran itu berkecamuk saling berlomba untuk mengambil posisi agar menjadi hal utama yang harus dipikirkan oleh cowok berusia tujuh belas tahun itu. Setelah cukup lama terdiam—memikirkan hal apa yang harus menjadi prioritasnya untuk dipikirkan—Beno kemudian memutuskan untuk berpikir keras mencari jalan keluar di antara rasa putus asanya. “Bagaimana caraku agar bisa keluar dari tempat aneh ini? Apa mungkin jika aku mati di sini, maka aku akan kembali ke dunia nyata?” renungnya. *** “Heh, bangun!” Sebuah suara nyaring dan berat mampu memekakkan telinga Beno. Memaksa untuk terbangun dari tidur lelapnya. Beno membuka mata perlahan, sambil menahan rasa sakit di kepalanya yang berkedut-kedut akibat terkejut bangun. Perlahan cowok itu menggerakkan tubuhnya untuk duduk bersandar pada dinding yang lembab di biliknya. Sambil memicingkan mata, Beno menatap ke arah pintu bilik yang kini tertutup oleh tubuh seseorang. Beno memfokuskan penglihatannya. Sosok itu berdiri tegap di depan pintu, menghalangi cahaya yang masuk. “Bangun, pengacau!” Suara menggelegar itu terdengar lagi, kali ini disertai dengan sebuah suara debuman kayu yang ditendang dengan kuat. Sepertinya kayu itu sangat kokoh, dilihat dari kerasnya suara tendangan, yang tak mampu membuat kayu itu bergeser barang satu sentipun dari tempatnya. Beno menatap ke arah sumber suara menggelegar itu dengan perasaan terkejut dan sedikit was-was. Tubuh sosok itu tak jauh berbeda dengan Beno. Bahu yang tegap membuatnya tampak cocok memakai baju prajurit. Ditambah dengan hidung mancung, mata tajam dan alis hitamnya yang tebal—sangat tak sesuai dengan suaranya yang berat dan menggelegar—juga dengan kulit yang putih bersih membuatnya terlihat rupawan. Beno mengingat-ingat rupa sosok itu. Ia merasa sempat bertemu dengannya semalam di hutan. Jika Beno tak salah ingat, nama sosok itu adalah Baron—salah satu pasukan si gadis berambut merah—yang kemarin ikut menggiringnya hingga keluar dari hutan itu bersama dengan si gorilla bersayap biru. Beno sempat memperhatikan wajah lelaki muda itu sebelum matanya ditutupi kain tadi malam. “Bisakah kamu memperlakukanku dengan sedikit lebih lembut? Aku punya jantung yang sangat lemah,” bohong Beno dengan wajah pura-pura memelas. Beno berusaha membuat-buat alasan agar Baron dan seluruh orang yang menangkapnya kemarin mau meringankan hukumannya. Baron hanya melengos. Tampaknya ia tak termakan kebohongan Beno. “Dasar! Wajah saja yang polos dan baik, tapi sikapnya sangat dingin,” gerutu Beno dalam hati. Suara kekehan di bilik sebelah membuat Beno mengerutkan keningnya. Beno melirik ke arah bilik itu dengan tatapan sewot, begitu juga dengan si Baron. “Cih! Kau berbohong agar mendapat keringanan hukuman, ‘kan?” Gadis kelelawar di sebelah biliknya melemparkan tebakannya dengan nada mengejek. Rupanya gadis itu mengetahui kebohongan Beno. Beno hanya mengerlingkan matanya. Ia terlalu malas jika harus berurusan dengan gadis kelelawar yang semalam ketus padanya itu. Beno tak sudi jika dikatai bodoh lagi oleh gadis kelelawar aneh yang menyebalkan dan sok tahu itu. “Gadis itu adalah tawanan dari kerajaan Vordeen. Ia merupakan seorang penyihir yang bisa membaca pikiran seseorang.” Sebuah suara menyeletuk, menerangkan siapa sosok gadis kelelawar itu tanpa ditanya Beno. Beno menoleh ke sumber suara. Ternyata suara itu berasal dari seorang bocah berambut hitam legam yang entah datang dari mana. Bocah itu tersenyum ke arah Beno sambil memamerkan deretan gigi putihnya. Mata hitamnya yang menyipit ketika tersenyum, menandakan ketulusan senyumannya pada Beno. Beno mengamati bocah ramah itu dengan saksama. Tinggi bocah itu hanya sekitar pinggang Beno. Beno menaksir usianya mungkin sekitar sembilan tahun. Wajah bulat bocah itu sangat mirip seperti Baron. Ah! Beno berani bertaruh bahwa bocah ini adalah adik Baron. “Bran! Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak seharusnya masuk ke tempat ini!” bentak Baron pada bocah itu. Baron tampak sedikit terkejut dengan kehadiran bocah yang dipanggilnya Bran itu. “Adikmu? Wah, ternyata dia lebih ramah dari pada kamu, ya.” Beno terkekeh mengolok Baron. “Bukan urusanmu.” Baron menjawab ketus sambil menatap sinis ke arah Beno. Baron kesal mendengar ejekan Beno. Bocah yang dipanggil Bran itu hanya melengos. Tak lama kemudian ia menatap ke arah Beno sambil tersenyum. “Dia memang abangku. Sikapnya memang galak, tapi aku berani jamin, hatinya sangat baik. Uhm … omong-omong apa yang kau lakukan di sini?” bocah itu bertanya pada Beno dengan santai, seolah sudah mengenal Beno cukup lama. Bocah itu lalu melihat-lihat sekelilingnya, memerhatikan setiap sudut bangunan yang terbuat dari tanah itu sambil sesekali berdecak, entah karena apa. Belum sempat Beno menjawab pertanyaan Bran, namun Baron lebih dahulu menarik tangan bocah itu untuk pergi dari sana. Baron kemudian memberikan perintah kepada salah satu dari dua penjaga yang berdiri tak jauh darinya untuk membawa Beno turut keluar dari sana. Sambil menodongkan tombaknya, kedua penjaga itu menyuruh Beno untuk berjalan keluar dari ruang penjara bawah tanah tersebut. "Ehm, ma ... maaf, Tuan Penjaga," pancing Beno saat dilihatnya Baron dan Bran sudah cukup jauh. Beno memang sengaja menjaga jarak dengan Baron dan adiknya, agar ia bisa memancing kelengahan kedua penjaga yang mengawalnya. “Apa?” jawab salah satu penjaga dengan tegas. Kedua penjaga itu tampaknya tak melonggarkan penjagaannya sedikitpun pada Beno. “Aku mau dibawa kemana ya?” Beno bertanya sambil memasang wajah polosnya. Padahal ia sudah tahu sebelumnya bahwa akan diadili, seperti yang dikatakan oleh gadis kelelawar dan gorilla bersayap biru tadi malam. “Lihat saja nanti. Kau akan tahu sendiri,” jawab salah satu penjaga sambil terus mengawal Beno untuk melangkah maju tanpa menurunkan tombaknya sedikitpun. "s**l! Mereka bahkan tak menunjukkan kelengahan barang sedikitpun!" rutuk Beno dalam hati. *** Saat ini Beno sedang berdiri di atas panggung alun-alun sambil menatap tali yang telah tergantung di depan wajahnya. Tali itu berukuran sebesar ibu jari, berwarna hitam kecokelatan dan tampak kuat. Tali itu tergantung pada sepasang kayu dengan warna cokelat tua yang berdiri saling berseberangan, berbentuk seperti sebuah gerbang. Tak jauh di depan sana, beribu pasang mata menatap ke arahnya dengan bermacam-macam ekspresi. Sebagian menatap Beno dengan sorot kasihan dan sebagian lagi menatapnya sinis. Juga ada yang menatap dengan sorot mengejek ke arah Beno. Laki-laki dan perempuan, makhluk aneh dan manusia, tua dan muda berkumpul di sana. Tatapan mereka tertuju pada satu titik, yaitu dirinya. Beno tahu benar apa yang mereka pikirkan. Tak lain dan tak bukan, pasti mereka menganggap Beno sebagai seorang pengacau dan mata-mata, sama seperti tuduhan yang dilemparkan si gadis berambut merah padanya. Sebagian lagi mungkin merasa iba padanya karena sebentar lagi harus kehilangan nyawa di tiang gantungan. Dan sebagian lagi mungkin, ada yang mengejek Beno karena tertangkap seperti seorang pecundang. “Wah, melihat respon mereka, memang tidak salah jika aku berpikiran bahwa si gadis berambut merah itu merupakan tokoh penting di tempat ini,” gumam Beno sambil berdecak kagum. Sesaat ia terkagum dengan pengaruh si gadis berambut merah terhadap makhluk-mahluk di tempat ini. Beno menahan napas saat tubuhnya didorong secara paksa mendekat ke arah tali pada tiang gantungan itu. Matanya melihat kesana-kemari untuk mencari celah melarikan diri. Namun seberapa besar pun usahanya saat ini, tetap tak ada celah yang dapat digunakan Beno untuk melarikan diri. Seketika sekelebat bayangan mamanya melintas di otak Beno. Makan malam yang sudah disiapkan mamanya, yang bahkan belum disentuh Beno seujung jari pun. Juga persiapan UN yang selama ini dilakukannya dengan mati-matian, menjadi sia-sia. “Semua ini karena buku terkutuk itu!” rutuk Beno dalam hati. Beno yang merasa tak terima jika usahanya belajar mati-matian demi UN menjadi sia-sia, lantas berontak. Para penjaga yang memegang tangan Beno terlempar beberapa langkah ke belakang. Tali yang terikat di kedua tangan cowok itu terbuka. Beno sedikit terkejut dengan kekuatan yang keluar dari tubuhnya secara tiba-tiba. “Lagi? Dari mana datangnya kekuatan ini?” gumam Beno sedikit bingung dengan kekuatan aneh miliknya. #####
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD