TIMBANGAN YANG PATAH

1015 Words
Ketukan palu dari hakim tidak lagi mencerminkan keadilan bagi Kim Ji-yong. Baginya, bunyi itu adalah suara peti mati yang sedang dipasang paku dengan keras. "Dikarenakan tidak adanya bukti yang cukup, terdakwa dinyatakan tidak bersalah atas semua tuduhan. Sidang ditutup." TOK! TOK! TOK! Ji-yong berdiri kaku di depan meja jaksa. Di hadapannya, Choi Tae-jun, putra seorang pengusaha besar yang baru saja melarikan diri setelah menewaskan sebuah keluarga, dengan perlahan bangkit. Tae-jun tidak langsung pergi. Dia sengaja melangkah melewati meja Ji-yong, berhenti sejenak, dan membungkuk sedikit seolah ingin berbisik sesuatu yang dekat. "Terima kasih atas kerja kerasmu, Jaksa Kim," bisik Tae-jun dengan aroma parfum mahal yang menyengat. "Jika kamu ingin memenjarakanku di lain waktu, pastikan untuk membeli hakimnya. Oh, aku dengar keluarga korban memerlukan bantuan untuk biaya rumah sakit? Sampaikan padanya, aku akan mengirimkan bunga. Bunga plastik agar tidak layu, sama seperti kemiskinan mereka." Tae-jun tertawa, lalu pergi diikuti oleh tim pengacara termahal di Seoul. Ji-yong mengencangkan kepalan tangannya di bawah meja hingga kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Di balik pandangan kosong Ji-yong, dia menyimpan tekad kelam, menunggu saat, dan merancang langkah-langkah yang akan menghancurkan kebongkaran hukum yang tidak adil itu. Suara hatinya berteriak, memohon keadilan yang telah direnggut secara terbuka. Dia menoleh ke bangku penonton. Seorang wanita tua, ibu dari korban, terjatuh pingsan di lantai dingin pengadilan. Pemandangan tersebut menusuk lebih dalam daripada hinaan mana pun. Tubuh renta yang terjatuh, jeritan tertekan, dan lantai pengadilan yang tetap dingin. Ji-yong menyadari, keadilan tidak mati hari ini. Ia dibunuh secara perlahan, disaksikan oleh banyak orang. Tidak ada yang membantu, karena semua telah terbiasa. Di saat itu, nurani Ji-yong benar-benar hancur. Jika hukum hanya melayani mereka yang kaya, maka ketakutan akan menjadi bahasa baru. Tak seorang pun peduli. Wartawan justru berkerumun di sekitar Tae-jun, meminta komentar tentang "keberhasilan hukum" itu. Hujan turun seperti tumpahan tinta hitam di trotoar saat Ji-yong melangkah keluar dari gedung pengadilan. Ia melepas lencana jaksanya, memandangi perhiasan itu dengan tatapan kosong sebelum menyimpannya ke dalam saku. Ia masuk ke mobil hitamnya, menyalakan mesin, tetapi tidak langsung bergerak. Di kursi penumpang, ada tablet dengan layarnya menyala redup. "Kau sudah melihatnya?" suara wanita terdengar dari speaker. Itu adalah Lee Da-in, seorang peretas dengan identitas yang bahkan Ji-yong rahasiakan dari publik. "Sistemnya rusak, Da-in. Mereka tidak hanya mencuri bukti, tetapi juga merampas martabat orang," Ji-yong berkata dengan nada berat dan dingin. "Aku telah menemukan orang yang kau cari," lanjut Da-in. Sebuah profil muncul di layar tablet. "Namanya Kang Do-gi, berusia 28 tahun. Dia adalah mantan tentara khusus yang baru saja bebas setelah dipenjara karena kasus k*******n serius. Saat ini, dia bekerja sebagai pengantar barang di area kumuh." Ji-yong melihat foto di layarnya. Seorang pria dengan mata yang tampak lebih mati dibandingkan mayat, tetapi memiliki pundak lebar dan tangan yang tampak kuat. "Kirimkan koordinatnya," perintah Ji-yong. --- Di lokasi lain, g**g Nam-dong pukul 23:15. Malam itu, Seoul tampak seperti mesin besar yang tidak pernah berhenti. Kang Do-gi meluncur dengan motornya di trotoar yang penuh retakan, tatapannya tajam mengawasi jalan meski ia membawa beban yang berat. Ia menghirup napas dalam-dalam, membiarkan angin dingin yang tajam mencampur dengan aroma asap knalpot dan sisa-sisa air hujan memenuhi rongga dadanya. Ia hampir saja memotong jalan menuju jalur cepat ketika langkahnya terhenti. Di antara gedung-gedung tinggi yang basah dan gelap, suasana terasa mendadak berbeda. Ji-yong menyerahkan sebuah kartu kecil hitam dengan logo tengkorak yang samar. Di tengah-tengah kerumunan tersebut, seorang kurir kecil terjatuh, menggigil saat berusaha melindungi kotak kirimannya yang sudah sobek. Do-gi berhenti tepat di batas cahaya yang ada. Ia belum bergerak, tetapi jari-jarinya perlahan-lahan menggenggam tali tasnya dan melepas pelindung kepalanya. "Hei, Kurir! Pergi saja jika kau ingin selamat!" teriak salah satu pengganggu sambil mengacungkan pisau lipat. Do-gi turun dari motornya. Ia berjalan mendekati kurir itu dan membantunya berdiri. Setelah kurir kecil itu melarikan diri sekuat tenaga, Do-gi berhadapan dengan para pengacau tersebut. Langkahnya mantap dan penuh keyakinan. Memperlihatkan luka panjang di alis kiri. “Aku datang membawa sebuah kiriman,” kata Do-gi dengan nada datar dan tenang. “Kiriman apa, bodoh?” Do-gi melemparkan helmnya ke tanah. KLANG! Suara logam yang menghantam aspal membuat para pengacau itu terkejut. Ia menerjang, mengubah lorong sempit menjadi arena pertarungan yang sunyi dan sangat mematikan. “Sebuah paket rasa sakit. Siapa yang mau menerima lebih dulu?” Pengacau pertama maju menyerang. Do-gi tidak menghindar. Dengan gerakan yang sangat cepat, ia menggenggam pergelangan tangan lawannya dan memutarnya hingga terdengar KRAK tulang yang patah menyayat malam. Tanpa henti, sebuah tendangan tepat mengenai ulu hati pria itu, membuatnya jatuh dan memuntahkan isi perutnya. Tiga orang lainnya maju bersamaan. Do-gi tetap tenang. Ia bergerak seperti bayangan di bawah cahaya redup. Serangannya cepat dan mematikan. Satu pukulan kiri membuat rahang lawan kedua hancur. Sebuah bantingan keras mengakibatkan lawan ketiga terjatuh ke dinding bata sampai pingsan. Dalam waktu kurang dari dua menit, lorong itu menjadi sunyi. Yang terdengar hanya suara kesakitan di tengah genangan air merah. Do-gi berbalik untuk mengambil motornya ketika melihat sedan hitam terparkir di ujung lorong. Kim Ji-yong berdiri di sana dengan payung hitam, mengamatinya sejak awal. "Kang Do-gi," sapa Ji-yong dari kejauhan. "Sayang sekali, bukan? Kau memiliki bakat yang diabaikan oleh dunia yang tidak adil ini." Do-gi memandangi pria di depannya, siap menghadapi. "Siapa kau? Polisi?" "Bukan. Aku adalah seseorang yang ingin menawarkanmu sesuatu yang lebih baik daripada sekadar mengantarkan barang,” Ji-yong menunjukkan foto Choi Tae-jun dari ponselnya. "Namanya Choi Tae-jun. Hukum baru saja membebaskannya. Aku ingin kau mengantarkan sesuatu untuknya." Do-gi menyempitkan matanya. "Aku tidak membunuh orang." Ji-yong tersenyum, tetapi senyumnya tidak terlihat tulus. "Tentu saja. Aku paham itu. Aku juga tidak meminta agar kau membunuhnya. Namun, aku ingin kau membuatnya merasa seolah lebih baik jika ia mati daripada harus berhadapan denganmu." Ji-yong menyerahkan sebuah kartu hitam kecil dengan logo kepala hantu yang samar. "Selamat datang di Ghost Dispatch, Do-gi. Pesanan pertamamu baru saja tiba." Sejak malam itu, Seoul bukan lagi sekadar sebuah kota. Ia berubah menjadi tempat menunggu. Aturan untuk memilih tetap diam, keadilan berpindah tempat. Di belakang mesin motor yang beroperasi, sebuah pengantaran dimulai, tanpa bukti, tanpa saksi, hanya ketakutan yang datang tepat waktu, mengetuk pintu orang-orang yang merasa aman terlalu lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD