PART. 1 MENCOBA IKHLAS

1006 Words
Citra tersedu, air matanya tidak berhenti mengalir. Tadi malam, keperawanannya sudah ia serahkan pada Cakra. Pria yang lebih tua tujuh belas tahun darinya. Pria yang tadi malam juga, sudah menikahinya. Menikah tanpa ada setitikpun cinta di antara mereka. Sebuah pernikahan yang diatur, hanya untuk kepentingan satu pihak belaka. Pernikahan, yang membuat Citra menjadi istri muda. Istri yang hanya diminta untuk mengandung, dan melahirkan generasi penerus bagi keluarga Cakra Haditama. Bukan istri untuk disayangi, apalagi dicintai. Cakra, sudah memiliki istri. Dia, dan Tami, istrinya, sudah menikah selama tujuh tahun, namun belum juga memiliki keturunan. Cakra memang bukan anak tunggal, tapi adiknya meninggal karena kecelakaan. Hanya pada Cakra, orang tuanya berharap bisa memiliki cucu. Karena itulah, diatur pernikahan Cakra, dan Citra. Untuk memenuhi keinginan orang tua Cakra, yang mendambakan cucu, dari darah daging Cakra sendiri. Citra berusaha bangun dari berbaring. Diturunkan kakinya ke lantai. Pakaian yang ia kenakan saat akad nikah, teronggok di atas lantai. Citra berusaha menahan tangis, namun yang terjadi dadanya terasa sangat sesak. Kedua telapak tangan Citra menggenggam tepi kasur. Tubuhnya sedikit membungkuk. Wajahnya menunduk dalam, lalu wajahnya mendongak ia lepaskan tangis untuk mengurai sesak di d**a. Pipinya basah oleh air mata. Sejak kelas satu SMP ia sudah yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal dalam musibah banjir bandang di kampung halaman mereka. Lalu ia dibawa paman, dan bibinya yang bekerja di Jakarta. Ia disekolahkan sampai tamat SMA. Citra tidak bisa melanjutkan pendidikan, karena masih ada tiga anak pamannya, yang harus dibiayai pendidikannya. Citra diberi modal oleh pamannya, untuk berjualan gado-gado di depan rumah. Citra menerima nasibnya dengan lapang d**a, baginya yang penting ia tidak menjadi beban bagi paman, dan bibinya. Dari hasil berjualan ia bisa menghidupi dirinya, juga bisa sedikit membantu biaya sekolah sepupunya. Sampai satu Minggu lalu, pamannya memohon, agar Citra bersedia, menjadi istri muda anak dari majikan paman, dan bibinya. Dengan menerima tawaran itu, maka orang tua majikan pamannya, akan menanggung biaya pendidikan ketiga sepupu Citra sampai sarjana. Citra tak sanggup menolak permohonan paman, dan bibinya. Ia merasa berhutang budi, yang tidak akan pernah bisa ia bayar pada mereka. Mengenang semua itu, Citra mengelus dadanya. 'Ikhlas, Citra ....' batinnya. Citra masih menangis sesenggukan. Apa yang terjadi padanya, bukanlah pernikahan impian. Pernikahan ini hanya menjadikannya boneka. Bukan istri yang mempunyai hak seperti istri lainnya. Citra merasa, ia hanya punya kewajiban, yang harus ia jalani, sampai apa yang diinginkan, oleh orang yang membayarnya, bisa ia berikan. Citra berharap ia segera hamil, agar cepat tuntas tugasnya, dan ia bisa menghirup kembali alam kebebasan. Karena dari sejak menikah tadi malam, ia tidak diijinkan ke luar rumah. Ia terpenjara dalam rumah mewah milik Tami, dan Cakra. 'Jika karena pernikahan ini, aku harus menanggung dosa, aku mohon ampuni aku, Tuhan. Ampuni dosaku ...." Citra menegakkan tubuh, diseka air mata di pipi. Ditatap pahanya yang berhiaskan noda merah. Noda merah dari darah perawan, yang terenggut bukan oleh pria yang ia cinta, apa lagi mencintainya. Citra memejamkan mata. Ditarik dalam napas, agar sesak di d**a bisa sirna. "Ikhlas ... ikhlas ... ikhlas, Citra," gumam Citra pada dirinya sendiri. Citra mengusap d**a, air mata kembali jatuh di pipinya. Ingin sekali Citra ikhlas menerima apa yang terjadi padanya, tapi itu baru sekedar harapan, karena dadanya masih terasa sesak, oleh nasib yang menimpanya. Perlahan, Citra berusaha berdiri dari duduk. Tubuhnya sedikit limbung, ia berpegangan pada dinding kamar, lalu melangkah perlahan, dengan berpegangan pada dinding kamar. Citra sampai di depan pintu kamar mandi dengan menyeret langkah. Dibuka pintu kamar mandi, ia melangkah masuk, dan langsung berdiri di bawah shower. Dinyalakan shower, setelah mengatur suhu air. Kakinya terasa lemas, Citra jatuh terduduk di lantai kamar mandi yang dingin, punggungnya bersandar di dinding kamar mandi yang juga terasa dingin. Citra tidak ingin lagi menangis, namun air mata tidak juga mau berhenti ke luar dari matanya, yang menjadi satu dengan air shower yang membasahi dari kepala, sampai ke seluruh tubuhnya. Citra menangis sekerasnya, untuk menumpahkan rasa yang menghimpit perasaannya. Namun ia tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, atas nasib yang harus ia terima. Menikah dengan seorang pria, berusia lebih tua tujuh belas tahun darinya. Seorang pria beristri, yang menikahinya hanya karena ingin memiliki keturunan. Pria yang tak punya rasa apapun padanya. Dan sudah memberikan malam pertama, yang jauh dari kata indah padanya. Cakra, pria itu tak banyak bicara. Ia memperlakukan Citra tidak kasar, tapi juga tidak lembut. Bagi Citra, apa yang dilakukan Cakra, terasa bagai sesuatu yang terpaksa dilakukan. Citra tahu, bukan keinginan Cakra untuk menikah dengan dirinya. Bukan keinginan Cakra, untuk memiliki keturunan, selain dari istri yang dicinta. Semua karena keinginan kedua orang tuanya. Yang tidak sabar untuk menimang cucu, dari darah daging putranya. Padahal yang Citra dengar, hasil pemeriksaan atas kesehatan Tami, baik-baik saja. Tami tidak mandul. Hanya belum waktunya saja untuk menerima kepercayaan dari Sang Maha Pencipta. Citra masih menangis di bawah shower. Teringat akan pertemuannya dengan Tami, istri Cakra beberapa hari sebelum akad nikah. Citra yakin, Tami tidak ikhlas Cakra menikah lagi, karena pada dasarnya, tak ada istri yang siap untuk dimadu. Meski Tami terlihat tegar, tapi Citra bisa melihat luka di dalam tatapan matanya. Citra juga merasakan ada benci yang ditujukan padanya. Hal itu, membuat Citra sedikit cemas, karena mereka akan tinggal satu rumah. Sampai dirinya mengandung, lalu melahirkan. Melahirkan anak, yang akan diakui sebagai anak Cakra, dan Tami, pada orang di luar sana. Anak yang mungkin tidak akan pernah diberitahu siapa ibu yang sudah mengandung, dan melahirkannya. Tangis Citra semakin nyaring. Memikirkan, ia tidak akan punya hak apapun atas darah daging yang ia lahirkan. Ia hanya mengandung, dan melahirkan, setelah itu, ia dituntut untuk pergi, dan kembali pada kehidupannya yang biasa. Tak ada tempat baginya di rumah ini lagi nantinya. Tak ada tempat baginya, di dalam hidup anaknya. Tak ada .... Citra menumpahkan tangis sepuasnya. Diusap dadanya dengan gerakan kasar, terlalu sakit apa yang ia rasakan saat ini. Sakit lahir, sakit batin. Sakit pikiran, sakit perasaan, sakit badan. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia sudah menerima ini dengan segala perjanjian yang mengikuti. Ia tak bisa mundur lagi. Ia juga tidak bisa lari, karena ini menyangkut nasib paman, bibinya, dan ketiga sepupunya. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD