Meminta restu pada ayah Listya tak semudah ketika mamanya Listya menerimanya sebagai seorang kekasih Listya. Apalagi tatapan mencemooh yang Papa Herman berikan padanya benar-benar membuat Sandi harus banyak-banyak bersabar agar emosinya tak tumpah ketika pria paruh baya itu menatapnya penuh celaan. Tak hanya itu saja, kata-kata pedas dari Papa Herman seakan menjadi kicauan burung berisik di telinga Sandi. Inginnya ia menulikan telinganya, tetapi hal itu jelas saja tak sopan. Sebagai seorang pria gentle yang ingin memenangkan hati calon ayah mertuanya, jelas saja Sandi harus bersikap baik terlepas semua kata-kata buruk itu terus ia dapatkan. Tidak ada yang tak mungkin di dunia ini, hati Listya saja bisa ia luluhkan, begitupun juga hati ayah dari wanita yang ia cintai. Ia yakin, ia pasti bis

