Di ruang tv Diandra dan Rio santai santai sambil makan kripik singkong pemberian Papi tadi. Hanya suara tv yang memenuhi ruangan ini.
Tangan Rio terselip di lengan Diandra dan memeluknya manja. Kepalanya juga menyender maja di bahu istrinya. Kenyamanan mana lagi yang hendak Rio dustakan?
"Kak denger sesuatu ga?" Kata Diandra.
"Heh? Ga tu. Bunyi apa emang?"
"Bunyi cacing cacing perut Diandra yang minta di beri asupan makanan"
Rio memasang tampang datarnya. Di kirain bunyi ketawa mbak kunti atau mbak suzana yang minta di tusukan sate. Ternyata bunyi perut keroncongan. Padahal Rio sudah parno tadi. Dan berniat ngadain acara yasinan di rumah.
Sedangkan Diandra menekan nekan pipi Rio berusaha membuat suaminya tidak cemberut lagi. Bukanya senyum Rio malah memanyunkan bibirnya.
Diandra tertawa pelan. Ih coba liat deh. Suaminya manis banget sih kalau lagi ngambek. Mirip boneka chucky hahaha. Kurang pisau di tanganya aja.
Rio lantas berdiri mengulurkan tanganya. Masih dalam wajah yang cemberut tentunya.
Arah pandangan Daindra turun menatap tangan Rio heran. Ngapain julurin tangan begitu? Macam tim SAR ngasih pertolongan orang masuk jurang aja.
Mata Rio menyorot Diandra tajam. Menggoyangkan tanganya kebas.
"Ini di tujukan buat aku kan?"
"Apa sosok lain di belakang aku?"
Diandra bergidik ngeri mengusap tengkuknya. Tidak merinding sih cuman takut aja tiba tiba kepala mbak kunti mucul.
"Tangan Kakak udah pegel ini Ya Allah" keluh Rio seraya menggerakan tangan ke kanan dan ke kiri. Terus menjulurkan tanganya lagi.
"Oh... buat Diandra toh"
Diandra membulatkan mulutnya.
"Ya emang buat siapa lagi Sayang ku. Bebeb ku" Geram Rio.
Golok mana golok?! Makin hari kadar kelolaan Diandra semakin memburuk saja. Perlukah di bawa ke psikiater. Takutnya waktu bawa anak anak jalan ke suatu tempat. Malah baby embuls di tinggal.
WTF
Rio menggelengkan kepalanya. Pemikiran bodoh macam apa itu. Se-lola lolanya Diandra. Tidak mungkin lah dia meninggalkan baby embuls atau melupakanya. Tapi kalau khilaf ya Wallahualam.
"Bengong mulu ih Kakak. Mau kemana sih?"
"Lah katanya tadi laper. Cari makanan di luar lah. Kan enggak masak"
"Ohh" Diandra membentuk huruf 'o' di mulut mungilnya itu.
Setelah itu mereka berjalan ke garasi. Tempat di mana mobil terpakir.
"Tunggu sini bentar beb aku mau ambil mobil" Kata Rio lalu berlari lari kecil menuju garasi yang tidak terlalu jauh dari tempat Diandra berdiri kini.
Diandra mendongakan kepalanya. Menatap bintang yang bertaburan di atas langit. Berlomba lomba menunjukan kepada manusia cahayanya yang paling indah.
Telunjuk Diandra teragkat menghitung jumlah bintang yang ada di atas langit.
"Mata kamu bisa juling sayang menghitung bintang sebanyak itu" tegur Rio yang sudah bersender manis di mobil mewah miliknya yang baru beberapa hari nangkring di garasinya.
"Masuk ke mobil nanti masuk angin" kata Rio lagi.
Dia berlari kecil ke sisi pintu sebelah kiri. Lalu di bukanya pintu itu. Matanya menatap Diandra seakan mengisyaratkan istrinya itu untuk cepat masuk ke dalam mobil.
Tanpa banyak bicara lagi. Diandra menghampiri Rio dan masuk ke dalam mobil. Di susul Rio yang sekarang sudah duduk di balik kemudi.
"Makan apa nih?" Tanya Rio.
Diandra mengetukan jari telunjuknya di kening. Padahal tadi dia sudah memikirkan destinasi kuliner yang akan memanjakan lidahnya malam ini. Eh kok malah lupa. Saking aysyiknya menghitung bintang yang jelas jelas tidak bisa di hitung.
"Apa aja deh"
"Gimana kalau restauran Jepang yang baru buka itu" usul Rio.
"Kalau di restauran mewah makananya sedikit tapi harganya selangit. Mendingan makan di pinggir jalan yuk"
Rio mendecih kesal. Bukanya dia sombong dan merasa orang kaya banget. Tapi dia tidak terlalu percaya kebersihan makanan yang di jual di pinggir jalan. Gimana kalau sakit perut?
"Nggak akan sakit perut kok" Diandra mengusap lengan Rio pelan. Seakan tau apa yang tengah di fikirkan suaminya.
"Makan ayam geprek di sana enak kok. Murah porsinya banyak di jamin enak dan bersih deh"
"Hummm oke deh. Beneran bersih kan Yang?" Tanya Rio masih ragu.
"Udah ah jalan nggak sabar makan ayam gepreknya Pak Jali" Diandra bertepuk tangan membayangkan rasa ayam geprek yang pedas menggigit lidahnya.
"Jadi udah sering makan di sana?"
"Iya sering banget waktu SMA sama Mich, Zela, Zelo, sama Bulan. Dan biasanya makanya juga malam minggu begini"
"Oh ya?"
Rio mengacak rambut Diandra pelan. Antusias sekali istrinya ini makan di pinggiran jalan. Kalau bukan permintaan Diandra Rio tidak akan pernah mau makan di pinggir jalan.
Sekali saja. Yahh sekali saja Rio. Demi Diandra tersayang. Pikir Rio dalam hati.
"Ayo jalan Kak" Diandra menggoyangkan lengan Rio.
Rio mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Diandra. Sontak Diandra memundurkan tubuhnya sampai membentur kaca mobil.
"Ap-apa yang mau Kakak lakuin?"
"Seat-belt kamu belum di pasang. Keselamatan itu yang utama" nasihat Rio dengan wajahnya yang berjarak beberapa centi dari wajah Diandra yang memerah karena malu.
Yehh di kirain Diandra tadi suaminya mau nyosor seperti biasa. Ternyata tidak. Kenapa kecewa ya?
Tanpa sadar Diandra memanyunkan bibirnya. Melihat ekspresi Diandra. Rio terkekeh pelan.
"Berharap lebih dari di pasangin seat-belt hm?" Tanya Rio dengan menyeringai.
"Enggak kok"
"Cini cini aku cium Sayang muachhh" Rio mencium pipi Diandra sampai memerah.
"Hehe"
Seperti kehilangan akal. Diandra malah nyengir kuda dan memainkan ujung kaosnya.
Tangan Rio terjulur menggapai tangan Diandra ke atas pangkuanya. Dan akhirnya dia menyetir dengan satu tangan.
Ayam geprek kita OTW!!!
****
"Wa'alaikumsalam Mi, kenapa? Baby embuls nggak papa kan?"
"Rewel nih baby embulsnya nyaraiin kamu terus"
"Momi tu hiks hiks"
"Tu denger kan di?"
Diandra menoleh pada Rio yang bertanya tanya.
"Mami lagi ada di mana?"
"Perjalanan ke rumah kamu"
"Nah kebetulan. Diandra sama Kak Rio lagi ada di warung ayam gepreknya Pak Jali nih. Papi Mami kesini aja sekalian makan"
"Iya oke oke Mami ke sana. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam Mi. Hati hati ya pelan pelan pelan aja"
Setelah sambungan di putus. Diandra memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana hot pants nya.
"Kenapa? Tadi Mami kan?" Tanya Rio seraya memegang bahu Diandra.
"Mami mau kesini Kak. Baby embuls rewel mau ketemu Mommynya"
"Paling kangen sama Daddynya"
"Jelas jelas tadi mereka manggil Momi Momi Kak" Dandra terkekeh pelan menyadari raut masam Rio.
Setelah itu mereka keluar dari mobil dan masuk ke dalam warung kecil milik Pak Jali yang cukup ramai. Tautan tangan Rio sedari tadi tidak lepas dari Diandra. Takut istrinya di lirik cowok lain.
Dan benar saja. Baru saja mereka masuk sudah banyak pasang mata yang tertuju kepada istrinya. Rio menoleh ke istrinya untuk memastikan apakah dandanan Diandra terlihat mencolok.
Rio mendecih pelan. Dandananya sih tidak mencolok. Tapi wajah cantik istrinya itu yang terlalu mencolok di antara yang lain.
Mereka memutuskan duduk di bagian paling pojok. Di sana mejanya sangat lebar dan banyak kursinya. Jadi saat Mami Papi beserta baby embuls datang bisa gabung meja.
"Pesen apa Mas Mbak?" Anak perempuan Pak Jali datang ke meja Rio dan Diandra.
"Ayam gepreknya 4 porsi ya. Sama es teh nya 4 juga" ucap Diandra lancar. Rio nya mah diam saja sambil memerhatikan seluruh isi di warung tenda ini.
Benar kata Diandra. Warung kecil ini bersih dan terlihat higienis. Pak Jali saja sampai menggunakan sarung tangan untuk menjaga kebersihan.
"Gimana Kak tempatnya? Bersih kan?"
"Iya bersih Yang" jawab Rio mengacungkan jempolnya.
Rio menyapukan pandanganya jepada pengunjung yang asik menyantap makanan. Tapi ada satu pengunjung yang memakai topi dan dari tampilanya dari kalangan orang kaya. Pria itu terus terusan menatap ke arah mejanya.
Sehingga Rio mengernyitkan kening tidak suka. Kenapa pria itu sampai segitunya? Makananya saja sampai di angurin.
"Sudahlah!" Rio masa bodoh saja.
"Itu mobil Papi Kak" Seru Diandra menunjuk ke depan. Di mana mobil audi sedang mencari tempat parkiran.
"Kakak ke sana dulu Yang"
Setelah itu Rio berlari lari kecil menjemput baby embulsnya yang sudah seharian ini di culik mertua.
Sedangkan Diandra duduk manis di tempatnya menunggu pesanan datang.
Tiba tiba saja ada seorang pria bertopi yang meletakan note berbentuk live di mejanya. Seelah itu berlari keluar tenda dengan terburu buru.
Diandra melirik note itu dengan dahi mengernyit. Sebelum Rio datang sebaiknya dia membukanya saja lah.
Aku senang bisa melihatmu malam ini Di
Entah sampai kapan aku melihatmu dari jarak jauh
Aku pengen banget sentuh pipi kamu
Gandeng tangan kamu seperti yang di lakuin pria tadi
Tapi waktunya belum tepat
Saat waktunya tepat nanti aku bakalan nunjukin diri aku ke kamu
Dan aku bakalan rebut kamu dari tangan suami kamu
Tunggu aku saat tahun baru ya Dii
Saat itu kamu akan menjadi miliku seutuhnya
Karena akulah sebenarnya yang mencintai kamu secara tulus Di
I love you
EX
"Ini beneran gila!" Kesal Diandra seraya membuang kertas itu setelah di bejek bejek sampai tidak keruan.
EX? Bukankah itu yang juga mengirimi bunga, snack, dan coklat ke ruma Diandra tadi pagi?
Diandra mengelus lenganya sendiri serta mendesah keras. Dia merasa sedang di awasi sekarang ini. Diandra jadi takut.
"MOMI MOMI MOMI ATU TANGEN MOMI"
Suara cadel nan imut itu menyentak Diandra dari rasa ketakutanya. Dia tersenyum manis dan mengambil alih Nate.
"Mommy juga kangen Nate sama Mike"
"Ish anak kamu tuh Di biang kerok banget tau. Masa dia pukul anak orang di zoo tadi sampai anak orang nangis kejer. Pusing deh pala Mami" keluh Mami seraya duduk di hadapan Diandra dan Rio diikuti Papi yang hanya tersenyum.
Tidak berubah. Masih jadi Papi yang irit ngomong. Pikir Diandra.
"Ih pasti Nate nih"
"Iya Di bener sekali. Biang keroknya Nate"
Nate menjulurkan lidahnya pada Mami.
"Enggak boleh gitu sayang sama grandma" ucap Rio gemas sendiri melihat tingkah Nate yang memang nakal.
Tidak lama pesanan pun datang. Mereka segera menyantapnya dengan khidmat. Menikmati ayam geprek yang memang mantap.
Sedangkan Mike dan Nate asik dengan cookies nya.
"Weehh gak nyangka ketemu big familiy disini"
Suara familiar itu menyapa keluarga Diandra. Semua mendongak dan menatap Bulan dan Zelo yang berdiri di samping menjanya.
"Aaaa Bulan Zelo Diandra kangen!" Histeris Diandra saat melihat kedua temanya itu.
Diandra bangkit memeluk Bulan dan Zelo bergantian. Dengan senyum yang tidak kunjung luntur dari bibirnya.
"Aduh bestfriend nya anak Mami. Sini sini duduk biar Mami yang traktirin" ajak Mami Diandra.
"Beneran Tan?"
"Ya dungs ayo duduk dan pesan"
Mereka berdua pun duduk. Diandra melirik tangan Bulan yang berada dalam genggaman Zelo. Fix ini ada yang menyimpang.
"Kok Zela sama Mich nggak ikut? Biasanya kan rame rame" pancing Diandra.
"Itu anu Di" gagap Bulan seraya menggaruk tengkuknya.
"Hehe kita malmingan dong. Kan kita udah jadian" ucap Zelo bangga.
"Beneran? Wah selamat ya"
"Jantan juga lo Zel. Gue kira nggak doyan perempuan" ejek Rio sambil terpingkal pingkal.
"Enak aja Kak Rio. Aku jantan taukk. Mau aku tunjukin di sini?"
"Eh gila ya lo. Ada anak anak gue ini. Plis jangan racunin otak anak gue sama otak lo yang somvlak itu"
"Udah udah ah berantem mulu jaya anak kecil. Cepet di makan Zel ayamnya" ujar Mami menengahi.
Zelo pun mulai menyantap ayamnya.
"Uhhh mau gendong dong Dii" ujar Bulan menunjuk Mike.
Bukanya Mike malah Nate yang minta di gendong Bulan. Dasar baby yang satu ini. Tidak bisa lihat cewek cantik sedikit saja langsung nemplok.
"Ndong"
"Haha... pipi dede mu Dii besar banget kek bakpao. Aku bawa pulang yah?" Ujar Bulan seraya mengecup pipi Nate.
"Tanya ni sama Bapaknya" Diandra melirik Rio.
Pria itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum manis. "ENG-GAK!"
"Pelit Kak Rio mah" Bulan menyerahkan Nate dan menyantap makananya.
Beberapa menit kemudian mereka sudah bubaran dan pulang ke rumah masing masing. Tapi kalau Zelo dan Bulan paling masih malmingan.
Yang muda yang b******a cieh. Yang punya anak mah langsung pulang.
*****
"Sayang piyama aku tolong siapin ya. Aku mau mandi" Rio mengecup kening Diandra.
"Jangan lama lama mandinya nanti masuk angin" peringat Diandra.
Rio terkekeh pelan. Hatinya sangat senang kalau Diandra perhatian begini. Rio rela deh masuk angin demi di kerokin sama Diandra dan di manjain.
"Siap!" Rio membentuk tanda hormat lalu beranjak ke kamar mandi.
****
Diandra menata piyama Rio di atas kasur. Lalu dia berdiri menghampiri kalender. Beberapa minggu lagi perayaan tahun baru. Itu berarti dirinya akan....
Tidak! Sampai kapan pun Diandra tidak akan mau berpisah dari suami sebaik Rio. Dan sebenarnya siapa orang di balik topi itu? Stalker kah? Atau secreet admire?
"Ada masalah?" Tanya Rio dengan suara baritonya.
Diandra membalik badanya. Matanya bertabrakan dengan mata Rio.
Demi apa!!! Diandra mau pingsan sekarang juga. Panggil ambulance tolong.
Di depan sana Rio hanya memakai handuk putih yang melilit di pinggangnya. Menampakan kotak kotak enam yang ada di perutnya. Rambut suaminya itu masih basah dan beberapa tetesan airnya menjatuhi lantai.
Errr.... so sexy husband.
"Dii?" Rio mengambil celana piyamanya dan tanpa tau malu melepaskan handuknya dan memakai celananya.
Sontak Diandra memejam karena dia masih malu melihat ahh lupakan!
"Sini deh" Rio mengibaskan tangan di udara. Memanggil Diandra untuk mendekat.
Dengan perasaan campur aduk Diandra mendekat. Dan Rio langsung menarik tubuhnya. Sehingga wangi Rio yang maskulin memenuhi indera penciumanya.
"Kancingin dong" tunjuk Rio pada kancing kancingnya yang belum di kaitkan.
Diandra mengaitkan satu persatu kancing piyama Rio. Sedangkan suaminya itu asik memandangi wajahnya.
"Udah nih"
"Yaudah sayang good night ya. Aku ngantuk banget" Rio mencium pipi Diandra lalu membaringkan tubuhnya di kasur.
Diandra berjalan ke.kamar mandi dan mencuci wajahnya serta mengganti bajunya dengan piyama.
Setelah itu dia keluar dan melihat Rio yang sudah pulas tertidur. Sebelum tidur Diandra memoleskan krim malam di wajahnya. Dan okut berbaring di sebelah Rio tanpa melakukan pergerakan apapun. Karena takut suaminya terbangun.
"Nggak ada pelukan buat suamimu hm? Masa di kasih punggung?"
Diandra terkejut dan membalikan tubuhnya menghadap suaminya yang dia punggungi.
"Sini dong" Rio merentangkan tanganya dan mendekap Diandra dalam pelukanya erat.
Mereka saling tatap. Rio menyelipkan rambut Diandra ke belakan telinga. Lalu mencium kening Diandra.
"Seandainya ada seseorang yang merebut Diandra dari sisi Kak Rio gimana? Kakak melepaskan Diandra atau berjuang untuk Diandra" tanya Diandra ambigu.
Rio mengeraskan rahangnya. Membelai puncak kepala Diandra dengan perasaan bergejolak. Pasti ini ada hubunganya dengan si Mr. EX itu.
"Kakak pilih opsi yang kedua. Seberat apapun perjuangan Kakak itu. Kakak tetep pilih opsi kedua. Entah apa jadinya Dii Kakak tanpa kamu" ucap Rio sarat akan kesedihan.
"Makasih Kak. Makasih udah kasih kepercayaan cinta Kakak buat Diandra"
"Kembali kasih Sayang. Udah ya nggak usah mikir apa apa lagi. Good night.. have a nice dream. Jangan lupa mimpiin aku loh"
Rio menggigit hidung Diandra lalu mereka pun jatuh ke alam mimpi.
*****