Diandra membuka matanya saat aroma minyak kayu putih memenuhi indra penciumanya. Ia duduk bersandar di sofa dan memegang kepalanya yang berdenyut.
Ada aroma lain yang juga membuatnya tenang dan tidak merasa pusing lagi. Aroma yang khas yang membuat Diandra jatuh cinta setiap saat.
Sebuah tangan kekar melingkari bahunya. Seketika Diandra menyandarkan kepalanya di bahu Rio.
"Gimana sayang udah enakan?" Tanya Rio mengusap usap bahu Diandra.
"Lumayan"
"Ayo cek ke dokter buat memastikan" Diandra memajukan bibirnya
Menggeleng dan memeluk suaminya. Menyembunyikan kepalanya di d**a bidang Rio.
"Biar kita tau aja Sayang" bujuk Rio lebih keras. Soalnya dia penasaran banget. Kalau beneran hamil kan bisa buat program kesebelasan baby embuls yang unchh membahana.
"Ih enggak mau! Kakak aja sana yang periksa sendiri"
"Lah? Kan yang hamil bukan Kakak Sayang"
"Yaudah Kakak aja yang hamil sana. Yang ngerasain mual muntah setiap mau makan mau apa apa gak nafsu. Pengen ini itu yang gak wajar. Kakak aja gih sana"
"Kalau bisa sih aku aja yang hamil sayang. Tapi sudah kodratnya cewek yang hamil cowoknya sebagai pihak penghamilin" Rio mengusap rambut Diandra. Ngegemesin banget sih istrinya ini. Mana ada sih suami yang hamil? Kecuali ada kelainan. Nah ini kan Rio normal.
"Memangnya kamu gak mau hamil lagi? Tapi misalnya kamu emang lagi hamil gimana?" Alis Rio berkerut menunggu jawaban Diandra. Nanti kalau istrinya itu suruh buang ke panti asuhan gimana? Huaa Rio gak mau sampai darah dagingnya terlantar.
"Gak papa sih sebenarnya"
"Makanya ayok ke dokter"
"Gak ah! Diandra pengen bubur ayam yang jualan di pinggir jalan pake gerobak"
Kini giliran Rio yang pengen pingsan. Tengah hari mana ada kang bubur ayam. Cobaan apalagi ini ya Allah.
"Tengah hari kan kang bubur pulang semua Sayangku. Kecuali yang di rumah makan"
"Maunya yang pake gerobak"
"Percaya deh sama Kakak gak ada Sayang" Rio mengacak rambutnya frustasi. Kenapa wajah Diandra harus seperti itu? Kenapa!! Ini namanya cobaan terberat.
"Hiks... Pasti Diandra ngerepotin yah? Iya maaf Diandra gak pengen lagi"
Aduh ini kok malah istrinya nangis. Rio harus apa? Masa dia ubek ubek satu Jakarta untuk nemuin Kang Bubur? Ah iya itu jalan satu satunya.
"Yaudah deh Kakak cariin udah dong gak usah nangis lagi cantiknya jadi hilang" ucap Rio menenangkan sambil mengusap air mata Diandra menggunakan ibu jarinya.
"Ikut"
"Kakak anter kamu ke rumah aja yah Sayang? Biar Kakak yang cari sendiri. Nanti kamu kecapean"
"Gak mau! Maunya ikut kemanapun Kakak pergi"
Rio memggaruk tengkuknya. Kenapa istrinya jadi manja begini? Beneran hamilkah? Tapi hamil yang pertama biasa aja. Malah marah marah terus.
Bukanya Rio tidak suka. Tapi aneh aja Diandranya yang mandiri berubah 180 derajat menjadi manja. Tapi Rio suka sih manjain Diandra hehe.
"Kalau kecapean gimana hmm? Kita nyarinya muter muter jalan kesana kemari loh" ancam Rio supaya Diandra memutuskan tidak ikut dan istirahat di rumah saja.
"Siapa bilang jalan sendiri. Diandra minta gendong pokonya" Diandra menggenggam tangan Rio. "Mau ya Kak? Gak tau kenapa Diandra pengen nyari bubur di gendong Kakak"
'Inikah cobaan yang kau berikan untuk ku ya Allah? Kenapa sangat berat? Istriku yang cantik nan bohay ini emang kurus tapi berat' batin Rio berkata miris.
"Beneran Sayang? Kalau aku sakit pinggang gimana?"
"Diandra gak berat tauk!!" Kesal Diandra. Ia menarik tanganya yang di genggam Rio. Menjulurkan lidahya kesal.
Rio jadi ingat saat pertama kali ia bertemu Diandra. Saat itu dia juga menjulurkan lidahnya kepada Rio. Dan dengan bodohnya waktu itu Rio deg degan dan senyum senyum tidak jelas. Aduh jadi malu ngingetnya.
"Jadi gak? Ayo Kakak gendong kemana mana?"
"Kok jadi kaya' Mbah Surip ya Hahaha. Suamiku sayang ganteng. I love you Kakak"
Rio memutarkan bola matanya.
"Kalau lagi ada maunya lagi ada maunya baik baik saja. Setelah hilang rasanya hilang pula cintanya dan melupakanya... sambalado eh eh sambalado itu sambalado. Cintamu sambalado" Rio menyanyikan lagu sambaladonya Mbak Ayu Ting Ting. Diandra tertawa lalu mencubit perut six pack Rio.
"Adaw!"
"Suka Ayu ting ting ya?"
"Hehe dikit"
"Hueeee.... Kak Rio gak suka Diandra lagi" Jerit Diandra memukul d**a bidang Rio.
Dengan sigap Rio memegang kedua pergelangan Diandra. Menatap manik mata istrinya itu dalam.
Cup
Rio mendaratkan kecupan lama di kening Diandra. "Aku memang gak suka sama kamu"
Diandra hendak berontak dan memaki maki suaminya ini. Rasanya Diandra mau nangis.
"Stt... dengerin dulu" kata Rio sambil mencium tangan Diandra. Membuat Diandra mendengus. "Aku memang gak suka kamu Sayang. Tapi aku cinta sama kamu. Levelnya lebih tinggi. Apalagi kamu udah jadi ibu dari baby embuls ku. Jadi makin cinta"
"Gombal ihhh!!!" Diandra gemas mencubit hidung mancung Rio.
"Apa perlu Kakak buat nama kamu di d**a Kakak supaya kamu percaya?"
"Malu tauk gak usah segitunya juga" senyum manis mengembang di paras cantik Diandra. Membuat Rio semakin gemas saja dengan tingkah istrinya ini. Ia mencubit kedua pipi Diandra yang chubby.
"Oh iya Mike sama Nate gimana Sayang?"
"Hehe Diandra sampe lupa. Diandra gak jadi ikut deh. Kakak aja yang nyari sendiri Diandra mau nemenin Nate sama Mike"
"Oke, ayok pulang" Ajak Rio dan berdiri dari duduknya.
"Gendong yayaya" pinta Diandra sambil menjulurkan tanganya. Memasang puppy eyes yang menggetarkan hati Rio.
"Naik Sayang" Rio berjongkok memunggungi Diandra. Diandrapun melompat memeluk punggung Rio. Menyurukan kepalanya di lipatan leher Rio yang selalu wangi.
Semoga saja kebahagiaan selalu menyapa keluarga mereka.
*****
Waktu sudah menunjukan pukul 17.00. Tapi Rio juga belum datang datang. Cari buburnya kemana sih? Apa iya carinya di Kalimantan! Ck.. padahal Diandra sudah tidak pengen lagi. Mau nelpon ponselnya Rio mati.
Diandra berkutat di dapur. Memotong motong mangga jadi dadu. Kedua baby embulsnya itu suka banget sama yang namanya buah buahan. Jadi kulkas mereka akan selalu penuh dengan buah.
"Huaaaa!!!! Net nya tuuuu!!" Terdengar suara melengking Mike yang meneriaki Nate. Haduh perang dunia akan segera berlangsung.
"Nya tu Mite" Diandra yakin sekarang Nate sedang tersenyum mengejek. Terdengar dari suaranya. Hh... Nate memang yang paling jago untuk mengganggu Kakaknya.
Diandra membawa mangkok buah dan berjalan cepat ke arah di mana Nate dan Mike sedang main. Eh tidak lebih tepatnya berkelahi.
"Hei kenapa ini anak anak Mommy?"
"Tuu Net kal. Bil tu di mbil!" Mike berjalan sambil menangis ke arah Diandra.
Sedangkan Nate tertawa puas melihat Kakaknya menangis.
"Tengeng hahaha"
"Neettt!!!!!!"
"Hahahaha Mite malah haha"
"Kalo masih berantem Mommy marah"
Nate melemparkan mobil mobilan Mike. Lalu ikut ikutan duduk di samping Diandra. Mendusel di ketek Diandra.
Dasar anak Mommy!
"Minta maaf sama Kakak"
"Atu nta maap Mite"
"Tama tama"
Loh? Diandra menahan tawa. Kok Mike menjawab sama sama sih. Kan Nate minta maaf bukanya bilang terimakasih. Haduh anak Daddy Rio.
Ting tong ting tong
"Dediiiii tuuu!!!!"
Sesegera mungkin Nate turin dari sofa. Berlari menuju pintu.
"Mike sini bentar ya. Makan buah" Mike mengangguk. Ia tidak seantusias Nate saat menyambut Daddynya. Memang pada dasarnya Mike sangat bermusuhan dengan Rio.
"Hallo jagoanya Daddy" Rio mengangkat tubuh Nate tinggi tinggi. Membuat Nate berteriak senang.
"Lama banget Kak?"
"Hehe tadi ban mobilnya bocor sayang. Jadi buburnya gak kebeli deh. Besok aja deh ya kalau kang bubur lewat depan rumah"
"Maaf ya Kak. Jadi ngerepotin" Sesal Diandra.
Rio mendekat. Mencium pipi Diandra singkat.
"Udah kewajiban aku di susahin kamu sayang. Kalau bukan aku siapa lagi?"
"Momi atu mau bibi Momi" kata Nate menunjuk pipi Diandra.
"Cium Mommy?" Tanya Diandra yang di angguki oleh Nate.
"Mommy Daddy ini" Rio menarik Diandra ke dalam pelukanya. Bibir Nate mencebik menarik kepala Diandra mendekat kepadanya.
"Momi tu"
"Ih orang Mommynya Daddy kok"
Mereka bertatapan. Diandra melerainya kalau tidak pasti Nate akan nangis dan tidak akan berhenti henti sampai dia tidur.
Ah tidak cukup Rio yang membuat Diandra jarang tidur Nate jangan.
'Hehe you know lah what I mean' batin Diandra.
"Mandi habis itu makan ya"
"Oke sayang"
Rio masuk ke dalam kamar. Sedangkan Diandra duduk kembali di sofa. Menonton serial anak kembar botak yang suka sempol goreng.
"Momi rip tita haha" Nate menunjuk ke arah tv.
"Yaya.. rip tita Net"
"Duh mentang mentang kembar sih anak Mommy nihh. Gemess"
"Duh Momi kit tauk!" Nate dan Mike mencibirkan bibirnya saat Diandra mencubit kedua pipi baby embulsnya itu.
"Tuu Dedi Mi"
"Biarin aja"
"Dedi pain Mom?"
"Mau makan mungkin"
"Oh dicu"
Oh my god!
Kenapa Nate jadi alay begini. Pasti Rio yang ngajarin. Dasar Daddy sableng.
Setelah makan Rio ikut bergabung. Dia duduk di karpet di bawah Diandra Nate dan Mike. Rambutnya yang masih agak basah terus terusan di pegang pegang oleh Nate.
"Dedi angiii. Tanteng!"
"Dia bilang apa sayang?" Tanya Rio tidak paham.
"Nate bilang Daddy wangi. Ganteng"
"Oh iya tentu dong. Aduh pesona Daddy Rio memang gak bisa di ragukan lagi" Rio mengacak rambutnya.
"Makan tuh pesona!" Diandra mengacak acak rambut Rio. Membuat Rio mendecak kesal lalu memeluk kaki Diandra yang menjuntai ke bawah.
"Ganti ya? Mau nonton dunia terbalik"
"No Dedi!"
"Kakak nonton di kamar aja ya?" Bujuk Diandra.
"Gak ah! Kan kamu di sini sayang. Gak bisa berduaan. Kapan sih kalian tidur?" Gemas Rio sambil mencubit kedua pipi gembuls jagoanya.
Mereka malah meringis dan memeluk perut Diandra.
Tidak berapa lama mereka tidur. Diandra dan Rio memindahkan mereka ke kamar.
Di saat sedang nonton dunia terbaik. Ponsel Rio berbunyi.
"Kenapa di matiin?" Tanya Diandra.
Rio mendengus kesal. Menarik Diandra lebih erat ke dalam pelukanya. "Gak penting cewek ganjen Sayang"
"Siapa Felicia atau Gia ha? Ha?"
"Eh... bukan Felicia sayang. Tapi Gia" Rio tersenyum kikuk.
"Eumm... Kakak sering ketemu Felicia yah?"
"Enggak kok. Kenapa?"
"Gak papa cuman mau ingetin aja. Jangan deket deket sama cewek lain"
"Cemburu yah haha"
"Enggak cemburu ih" wajah Diandra memerah. Ia menyurukan kepalanya di leher Rio.
"I miss you so damn much sayang" Rio menggesekan kepalanya balik ke leher Diandra.
Kode
Tapi sayangnya gak di tanggepin. Sakit tapi tidak berdarah. Nyeseg tapi tidak sesak nafas.
"Malam ini dapat jatah gak?"
"Enggak"
"Lah kenapa? Kan sudah dua minggu puasa" Rio menatap Diandra kecewa.
"Pokonya gak boleh untuk seminggu kedepan"
"Emangnya kenapa?"
"Karena...."
"Ihh apaan Sayang. Jangan di gantungin nyeseg tau gak" Diandra terkekeh menangkup wajah Rio. Lalu Diandra mengikis jarak antara dia dan suaminya itu.
Rio memejamkan matanya. Menunggu ciuman lembut dan hangat istrinya.
Fuuhhhh.....
Diandra meniup wajah Rio dan menjauhkan wajahnya. Rio membuka matanya jengkel.
"Kenapa gak jadi cium sih?"
"Nanti kebablasan"
"Emangnya kenapa?"
"Emangnya kenapa... emangnya kenapa terus. Mau tau beneran kenapa?" Telunjuk Diandra menari nari di d**a bidang Rio. Laki laki itu menggeram pelan.
"Karena..."
"Diandra menstruasi"
"Hah?!" Kaget Rio. Membuka mulutnya lebar. Mungkin kuda nil muat kali masuk mulut Rio.
"Kok hah?"
"Berarti kamu gak hamil dong sayang?"
"Ya emang enggak"
"Yahh.. kecewa" Desah Rio sambil menundukan kepalanya.
"Masih ada waktu lain Kak"
"Seminggu lagi awas ya kamu sayang"
Diandra terkekeh mencium pipi Rio.
"Diandra tunggu"
Mereka pun menghabiskan malam dengan mengobrol. Lalu ketiduran di sofa dengan posisi duduk.
****