Berkali-kali, ibu mengurut tengkukku sambil sesekali mengoleskan minyak angin di sana agar aku terlihat lebih baik. Sudah seharian ini aku sama sekali tidak berpindah dari pintu kamar mandi. Jika aku masuk ke kamar dan berniat tidur, aku pasti akan langsung bangun dan berlari lagi ke kamar mandi, hingga rasanya tenagaku habis hanya untuk berjalan. Karena tidak tega melihatku yang sudah lemas karena tak berhenti muntah, ibu lantas membawakan sebuah pispot untuk menampung muntahan yang sebenarnya hanya tersisa lendir benang saja, dan aku yakin itu hanya liur dan sedikit cairan lambungku, karena semua isi perut sudah habis terkuras sejak pagi buta tadi. “Kita ke dokter lagi saja ya?” suara ibu terdengar semakin khawatir. Tapi aku menggeleng. Tadi pagi ak

