Seperti yang kuharapkan semalam, Iharasi bisa bangun lebih pagi dariku. Dia juga sudah menyiapkan sepotong roti panggang juga segelas kopi seperti biasanya. Meski biasanya aku yang membuatnya sendiri masih tidur, tapi pagi ini lebih berbeda dari hari-hari biasanya. "Selamat pagi." Sapanya saat melihatku bangun dari dapur. Aku hanya mengangguk sebentar sebelum bangun dan mengambil makanan kucing yang kutaruh di rak bawah di dapur. "Makan saja dulu, baru urusi koleksi-kerajinan itu." Ujarnya. "Makhluk?" "A — mak — sudku, kucing-kucing peli — haraan — mu." Aku hanya menggelengkan kepala sambil mendengkus sebelum berjalan meninggalkannya yang masih berkutat dengan roti panggang dan selai-selai yang sedang dia oleskan pada setiap lembar roti tersebut. Tutup dengan pekerjaan barunya, dan

