4

1154 Words
4 Mobil Ferrari milik Grey memasuki perkarangan rumah Celine dan parkir dengan rapi. Celine menoleh kepada Grey dan tersenyum. “Terima kasih untuk makan malamnya, Grey. Aku sangat senang.” Tangan Grey terulur meraih jemari Celine, meremasnya lembut. “Aku juga sangat senang bisa makan malam dengan gadis secantik dirimu, Celine. Apakah kau bersedia makan malam denganku lagi besok?” Celine mengangguk tanpa berpikir. Grey pria yang menarik dan menyenangkan. Mengobrol dengannya sama sekali tidak membosankan. “Aku jemput pukul tujuh?” “Oke.” Grey tersenyum lebar, kemudian menggerakkan tubuh mendekat ke Celine. Celine tahu Grey akan menciumnya, jadi ia memalingkan wajah hingga ciuman Grey mendarat di pipinya. Celine belum siap untuk berciuman di kencan pertama mereka—apalagi itu ciuman pertamanya. Selama ini ia membayangkan akan melakukannya dengan Rock. Grey tersenyum kecil, Celine diam-diam merasa lega karena pria itu tidak marah. Grey keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Celine. Kemudian keduanya berjalan menuju rumah Celine. Grey meraih tangan gadis itu dan menggengamnya mesra. Celine memandang tangan mereka, lalu mengangkat wajah. Matanya beradu dengan mata Grey, yang menatapnya hangat. Celine tersenyum, dan keduanya terus melangkah sambil bergandengan tangan. “Selamat malam, Grey,” kata Celine ketika tiba di depan pintu rumahnya. Ia menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Grey. “Selamat malam, Celine.” Grey menunduk, kali ini mencium pipi Celine. “Sampai jumpa besok malam.” “Sampai jumpa, Grey.” Grey tersenyum menawan. Celine membuka pintu rumah, kemudian masuk dan menutup pintu. Tak lama kemudian, terdengar mobil Grey menderu pergi. Namun baru saja Celine akan melangkah menuju kamar, ia mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya. Celine mengerut kening. Siapa gerangan yang datang? Ia yakin bukan Davien. Celine menyingkap gorden jendela, dan seketika dadanya berdebar melihat mobil Aston Martin berwarna hitam mengilap terparkir di halaman. Celine membuka pintu, menatap sesosok tampan bertubuh gagah yang melangkah menghampirinya. “Rock? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Celine heran. “Aku mencari kakakmu.” “Dia tidak ada di sini. Kenapa kau tidak menghubunginya lebih dulu?” Saat di restoran tadi, Celine melihat Rock bersama si d**a tumpah ruah, tapi ia pura-pura tak melihat, sebisa mungkin mengabaikan rasa cemburu di hati dan memusatkan perhatian pada percakapannya dengan Grey. “Aku sudah menghubungi ponselnya, tapi tidak direspons.” “Oh,” Celine mengangguk samar. “Davien tidak ada di sini.” Di dalam hati Celine bertanya-tanya, ke mana si pirang centil itu? Apakah Rock tidak menidurinya malam ini? “Kau tampak sangat cantik malam ini. Apakah kau barusan berkencan?” Mata Rock menyusuri tubuh Celine dengan intens. Celine merasa seluruh kulitnya merona. Ia tidak ingat Rock pernah memandangnya seperti itu. “Eh, ya.” “Kenapa?” “Apa?” tanya Celine bingung. Rock menggelengkan kepalanya. “Lupakan saja.” Celine semakin bingung. Rock melangkah mundur. “Masuklah, Celine. Aku akan pulang.” Celine masih membeku. Rock mengangguk, memberi tanda agar Celine segera masuk. Masih bingung, Celine masuk dan menutup pintu. *** Ketika memasuki bar elite tampat ia dan Davien biasa bertemu dan mengobrol, Rock melihat pria itu sedang tertawa bersama dua wanita. Saat melihat dirinya, Davien langsung tersenyum penuh arti. Rock sangat mengerti apa arti senyum itu, Davien ingin mengajaknya mengencani kedua gadis tersebut. Rock akui ia bukan tipikal kekasih setia. Meski saat ini sedang menjalin hubungan dengan Gisela, ia juga tidak akan menolak jika ada wanita cantik. Lagi pula, ia jarang berhubungan cukup lama dengan seorang wanita. Biasanya paling lama hanya bertahan satu bulan. Ia pria pembosan. Anehnya, meski mengetahui sepak terjangnya, para wanita tak pernah berhenti menyodorkan diri padanya. Yeah, mungkin ketampanan dan kekayaannyalah yang menarik minat mereka, dan mungkin karena itu jugalah hubungan dengan wanita-wanita itu terasa palsu, hanya sebatas kepuasan fisik. Tidak pernah ada ikatan emosi sedikit pun. “Kau lama sekali, ke mana saja?” tanya Davien begitu Rock tiba di dekat mereka. Rock duduk, meraih botol anggur dan menuang ke gelas kosong yang ada di meja, kemudian meneguknya. “Aku mengantar Gisela pulang.” Yang sebenarnya adalah bohong belaka. Rock menyuruh Gisela pulang menggunakan taksi. Gisela jelas marah, tapi Rock tak peduli. Ia justru membuntuti mobil teman kencan Celine. Melihat betapa mesra tingkah keduanya saat berjalan menuju rumah gadis itu, sekali lagi tanpa alasan yang jelas, hati Rock terasa panas, amarah seketika membakar dadanya. Namun di saat yang sama, ada rasa lega menguar dari dadanya. Pria itu tidak menginap. Syukurlah. Rock yakin ia akan menerobos masuk jika melihat pria itu melewati pintu rumah Celine, lalu menyeretnya keluar. “Ah, jadi apakah kau nanti akan kembali padanya atau ...,” Davien memberi kode penuh arti pada gadis cantik di depan mereka. Kedua gadis cantik itu tampak tak peduli dengan kenyataan Rock sudah memiliki kekasih. Keduanya tersenyum menggoda pada Rock. “Tidak. Aku akan pulang ke rumah.” Rumah yang Rock maksud adalah penthouse mewah di tengah kota London. “Bagus,” decak Davien puas. Salah satu dari kedua gadis itu duduk lebih rapat ke Rock. Rasa tidak nyaman menyusuri setiap saraf di tubuh Rock. Ia menggeserkan posisi duduknya sedikit menjauh. “Aku rasa malam ini aku akan cepat tidur.” Rock berdiri, sementara Davien melongo dan kedua gadis itu cemberut. “Maaf, ladies. Aku harus pulang. Besok aku banyak pekerjaan. Aku harus cepat istirahat malam ini.” Tanpa menunggu respons ketiganya, Rock memutar tubuh dan berjalan meninggalkan bar. “Rock!” panggil Davien. Namun Rock tidak berbalik. Rock sendiri bingung apa yang telah terjadi padanya. Malam ini ia sama sekali tidak ingin berhubungan intim dengan Gisela atau wanita cantik mana pun. Celine memenuhi pikirannya lebih dari apa pun. Rock melangkah menuju mobil Aston Martin-nya. Ia masuk ke dalam mobil lalu duduk diam, bertanya-tanya, apa yang telah terjadi pada dirinya? *** Pagi itu saat Rock tiba di kantornya, ia melihat Celine duduk di balik meja kerjanya, sementara Sandie berdiri di depan Celine. Keduanya bercerita dengan ceria. Rock bahkan bisa melihat mata sebiru langit Celine yang berbinar-binar penuh semangat. Rasa gusar seketika membanjiri diri Rock. Celine tampak lebih ceria dibandingkan hari-hari sebelumnya. Apakah karena kencannya tadi malam? Apakah kencan itu sangat luar biasa? Kemudian mata Rock menangkap sebuket mawar merah yang tergeletak di atas meja. Rock yakin, bunga tersebut dari Grey, teman kencan gadis itu tadi malam. Kegusaran Rock meningkat. Bukan berarti ia tak pernah melihat bunga-bunga segar menghias meja Celine. Celine menarik perhatian banyak pria. Namun selama ini Rock tahu Celine mengabaikan semua perhatian-perhatian itu. Rock melewati kedua wanita itu dengan rahang terkatup rapat. Ruangan Celine adalah sebuah ruangan luas tepat berada di depan ruangan Rock. Untuk memasuki ruangan Rock, harus melewati ruangan Celine. Memang sengaja dirancang demikian. Rock memiliki privasi, sementara sekretarisnya tetap berada dalam pengawasannya. Dinding yang membatasi mereka adalah kaca satu arah, yang tembus pandang dari ruangan Rock, tapi seperti cermin dari ruangan Celine. Menyadari kehadirannya, tawa Celine dan Sandie memudar, lalu keduanya mengucapkan selamat pagi, yang dibalas Rock dengan gumaman pelan. Sungguh, suasana hatinya saat ini sangat buruk. *** Love, Evathink Instagram: evathink
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD