9

1111 Words

9 Rock puas saat ia tiba di rumah Celine menjelang pukul tujuh malam, tidak tampak mobil Ferrari milik Grey. Dengan perasaan riang—yang sepertinya sudah sangat lama tak pernah ia rasakan—Rock melangkah menuju rumah Celine. Ia menekan bel, dan tak lama kemudian Celine muncul dengan dandanan cantik memukau. “Rock,” sapa Celine dengan senyum manis. Rock tersenyum lembut, mengulurkan sebuket bunga mawar merah harum semerbak kepada Celine. Mata indah Celine melebar, berbinar-binar tak percaya. “Untukku?” “Ya, untukmu, Sayang.” Ini kali kedua Rock memanggil Celine dengan sebutan mesra itu. Entah mengapa, saat mengucapkannya pertama kali di kantor tadi sore, ia langsung menyukai sensasi memanggil Celine seperti itu, seakan-akan Celine adalah kekasihnya. Miliknya—dan Rock memang berniat menj

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD