HYD - 2

1122 Words
"Disya!" Gadis itu mengenyahkan suara seorang pria yang kini semakin mendekat. Dia sengaja menghindar dan tidak ingin bertemu dengan pria sialan itu. Pria yang membuat Disya mengeluh tiap malam. Bukan masalah cinta atau mereka pernah berpacaran lalu putus, atau sebaliknya. Intinya Disya sangat benci jika berada satu kelompok dengan pria itu. "Hoi! Manis, ihiww!" Disya menggerutu pelan karena panggilan genit dari pria itu. Dengan berat hati dia berbalik saat pria itu berhasil menahan tasnya. Disya menghela nafas pelan. "Pergi jauh-jauh! Kayanya besok gue harus ngalungin bawang putih supaya gak berhasil di deketin pemangsa kaya lo!" Ujar Disya dengan nada kesalnya. . "Dih, memangnya gue vampir ya?" "Lebih bahaya dari vampir," Balas Disya. Disya hendak pergi namun Dito kembali menahannya. Pria itu tersenyum dan menaik turunkan alisnya, seakan sedang bernego dengan Disya melalui tatapan mata. Disya menghela nafas. "Lo sebenarnya niat kuliah gak sih?kenapa juga Pak Bisma malah nunjuk lo jadi temen kelompok gue!" Gerutu Disya, bibirnya manyun ke depan. Hal ini bukan dia lakukan semata-mata hanya untuk menggoda Dito. Hanya saja disya Refleks bertindak seperti itu karena kesal. Dito hanya menatapnya dengan sebuah kerlingan licik. Sudah Disya tau, pada akhirnya pria itu hanya akan membuat dirinya terbebani. "Sorry banget ya dis, bukannya gue gak mau bantu lo nih. Tapi gue ada balap nanti malam, kalau gak dateng sayang banget." Disya berdecak, "Ya Tuhan semoga ban mobilnya Dito pas lagi balapan kempes!" “Eh, kok lo doa nya gitu sih Dis!" "Ya habisnya lo ini gimana sih, bukannya bantuin nugas malah kelayapan balap liar malam ini. Mending ngerjain hal yang bermanfaat daripada balapan. Kalau kerjain tugas bareng lo dapet ilmu sama dapet pahala karena bantuin gue, nah kalau balap?" "Dapet taruhan lah, dapet cewek cantik aduhai. Sekalian dapet yang jajan gede." "Iya sih, tapi kan Nyawa lo taruhannya!" Dito malah tersenyum jahil ke arah Disya. Membuat gadis cantik dengan rambut dikucir dua dan kacamata minusnya itu mendengus sebal. "Cie perhatian, kayanya emang bener deh. Lo ada rasa ya sama gue? Udah ngaku aja kali Dis, gue gak apa-apa kok kalau lo emang beneran suka sama gue," Ucap Dito percaya diri. Disya menghela nafas lelah, kenapa pria di depannya ini begitu percaya diri. Tidak taukah dia kalau kepala Disya pusing bukan main mendengar ocehan yang tiada habisnya dari, Dito. "Dit, gue capek dengernya. Udah kalau lo mau balap, yaudah pergi aja. Gak usah ganggu-ganggu gue, besok kalau presentasi gue cuma kasi tau mana materi yang harus lo bawain nanti." Pria disampingnya memberikan sebuah senyum lebarnya ke arah Disya. Gadis itu segera pergi sebelum Dito kembali berulah. Pria tadi adalah teman Disya dari jaman Maba sampai sekelas sekarang. Ini pertama kalinya mereka sekelas, Disya kira Dito bisa jadi sosok orang yang dewasa dan membantunya mengerjakan tugas, tapi ternyata dugaan Disya salah. Dito emang suka pergi ke kelab malam atau pergi balap liar. Itu yang Disya tau, dia anak salah satu pebisnis ternama yang kalau gak salah, temen kakeknya Disya juga. Disya harus punya banyak stok kesabaran kalau berhadapan dengan Dito. Berhadapan dengan Dito hanya membuat stok kesabarannya semakin menipis. Belum ada sepuluh langkah Disya meninggalkan kelas. Seorang wanita cantik mendekatinya, dan ya, Disya tau siapa wanita itu. "Dis, lo mau kerjain tugasnya kapan?" "Nanti, bukannya udah pada setuju mau kerjain di rumah gue?" Wanita itu menyengir lebar, "Gini dis, bukannya gue gak mau nih bantuin lo. Tapi tiba-tiba gue ada kerjaan mendadak. Kalau gue tinggalin, nanti gak dapet gaji buat makan." Disya menghela nafas, satu lagi manusia yang membuat kepala Disya berdenyut sakit. Oke Disya! Welcome to the hell! Sekarang cuman kamu yang bisa diandalin buat bikin tugas kuliah ini! Ayo semangat Disya, batinnya membuncah. *** Kediaman keluarga Disya yang sedang dihadiri banyak keluarga karena acara arisan rutin, harus Disya lewatkan. Karena sekarang dia sibuk mengerjakan tugas yang seharusnya di kerjakan bersama dengan yang lain. Malangnya nasib Disya, disaat keponakan kecilnya datang Disya malah tidak bisa diajak bermain. Terkutuklah kalian! Batin Disya menggerutu, meski begitu tangannya tetap semangat memasukkan materi dan menjadikannya satu sebagai makalah. "Wih, cucunya kakek yang masih gadis ini, kok gak gabung sama keponakannya. Daritadi grace nanyain auntynya tuh." Disya refleks menoleh ketika mendengar suara familiar yang terdengar tua renta itu. Disya tersenyum ke arah sang Kakek yang kini berdiri di belakangnya. "Kakek nih, ngagetin Disya aja sih." "Kakek gak ngagetin kok, Disyanya aja yang gak sadar kalau kakek ada disini sekarang." Disya cemberut, "iya nih kek, Disya gak bisa main dulu, fokus ngerjain tugas kuliah. Apalagi sekarang Disya udah semester 5 kek, aduh Kepala Disya pusing nih kek." Kakek hanya terkekeh mendengar pengaduan cucu bungsu kesayangannya. "Yang sabar ya, nikmati aja prosesnya kapan lagi Disya bisa sesibuk ini kan?"   "Iya juga sih, tapi kan ini kerja kelompok Kek, masa cuma Disya yang kerjain. Mereka semua mah enak pergi-pergi sementara Disya yang kerjain sendirian disini." Kakek mengelus puncak kepala cucunya dengan sayang, "Tenang aja, mereka yang rugi kok karena gak mungkin bisa hapal materi secepat itu." "Hmm... Disya kepikiran mau nikah aja kali kek. Kayanya kalau Nikah Disya gak perlu pusing lagi mikirin ini semua." Kakek terdiam cukup lama, mencerna apa yang sedang cucunya itu katakan. Tidak menunggu beberapa menit, tawa dari pria tua baya itu meledak. "Aduh, hahaha ... Astaga Pramono, kamu ajari apa cucuku?" Disya keheranan melihat sang Kakek yang kini menertawakan ucapannya. Sementara itu Papa datang menghampiri kakeknya dengan raut wajah bertanya-tanya. "Ada apa pah?" Mama ikut bertanya penasaran. "Ini si Disya, dia capek kuliah katanya, mau nikah aja. Kalian setuju gak kalau dia nikah sekarang?" Mendengar ucapan kakeknya, Papa segera melayangkan tatapan tajam kearah Disya, membuat nyali gadis itu ciut dan segera beralih hadap ke arah Laptop. Mama menggeleng pelan, "udah pah, Disya ngawur itu. Dia gak tau apa-apa soal pernikahan. Cuma asal ngomong aja dianya." Tentu saja satu rumah mendengar apa yang Kakeknya katakan. Tak lama ada tante Aurel yang mendekat lalu menggeleng pelan. "Gak apa-apa dis, kamu kalau mau nikah suruh Kakek cariin calon aja. Kakekmu punya banyak kenalan pebisnis kaya." "Lambemu rel! Anakku dijadiin istri ketiga mampus tak robek lambemu!" Ujar Papa Marah. Tante Aurel hanya tertawa, kemudian melirik Disya dengan tatapan genitnya. "Ayo Dis, nikah aja, Tante dukung sampe pelaminan." "Aurel!" "Disya kembali belajar! Gak usah aneh-aneh mau nikah. Ngurus tugas aja masih kewalahan gimana mau ngurus suami," Omel Papa Disya. Sementara itu sang Kakek justru terlihat bahagia. "Kebetulan sekali Dis, kakek ada cowok yang mau dikenalin ke kamu nih. Mau coba ketemu dulu gak?" "Gak usah repot-repot pah, Disya cuma bercanda tadi." Disya yang kesel mengangguk dengan cepat, "Iya Kek, gak apa-apa, gak usah ketemu asal dia ganteng Disya mau. Suruh aja langsung Nikah sama Disya," Ucapnya yang setengah menggerutu karena baru menemukan soal yang sulit. Papa sama Mama terkejut bukan main, Kakek sudah manggut-manggut sambil tertawa. "Tuh, denger apa kata anakmu." ###
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD