DUA PULUH EMPAT

1078 Words

AKU BUKAN PEMBUNUH. AKU TIDAK MEMBUNUH PUTRAKU SENDIRI. AKU TIDAK MELAKUKANNYA. TIDAK! TIDAK! Bam meneriakan kalimat itu berulang kali, pandangannya kosong, di dalam kamar itu, Bam hanya meratapi apa yang telah terjadi. Bam bahkan masih mengingat dengan jelas, bagaimana darah mengalir dengan derasnya dari berbagai sisi tubuh Kanu—putranya. Darah itu seolah meneriakinya, bahwa akan ada takdir yang melebihi segalanya. Mimpi itu selalu muncul. Semua yang terjadi saat itu, terekam dan menjadi mimpi mutlak yang menemani terpejamnya Bam. Ia tidak bisa tertidur, karena bayangan itu menghantuinya. Tidak jarang, Kanu hadir dalam mimpinya, tersenyum pedih padanya, dan melambai tangan agar Bam mendekat padanya. "Kanu butuh teman..." racau Bam. "Kanu butuh teman... ya, Kanu butuh teman." Bam

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD