Bab 4

1382 Words
Suasana area ruang tunggu bandara pelan-pelan mulai ramai, karena jadwal keberangkatan semakin mendekat. Banyak penumpang mulai masuk memenuhi ruang tunggu. Gadis kecil di sebelahku ini berceloteh dengan riang, seolah kita sudah lama saling mengenal. Sebenarnya aku termasuk orang yang sulit akrab dengan anak-anak. Aku sering kehabisan bahan ngobrol dengan anak kecil. Namun, Sasti sangat pandai membuat rasa canggungku hilang. Aku hanya cukup menanggapi celotehannya. “Dia tak punya teman di rumah. Jadi, dia suka sekali mendapatkan teman bicara,” jelas Rizal. Lelaki itu duduk di sisi kanan Sasti. Sementara aku berada di sisi kirinya. Orang yang tak tahu, bisa saja menyangka kami adalah suami istri yang bahagia. Ingin rasanya aku mengorek dimana mamanya Sasti. Tapi, rasanya tak pantas aku tanyakan saat ada Sasti di sini. Mungkin, nanti saat anak itu sedang tidak bersama kami. Yang aku tahu dari Nadia, Rizal sudah menduda selama dua tahun. “Mamanya sudah menikah lagi.” Rizal seperti membaca pikiranku. Aku menoleh ke arahnya. Padangan Rizal menerawang, seolah memikirkan hal yang menyisakan sebuah kedukaan. Aku tak mau bertanya lebih jauh. Apalagi ada Sasti di sampingnya. Anak kecil akan meskipun tidak mengerti, kadang ia dapat merekam pembicaraan orang dewasa. Aku hanya mengangguk, lalu mengalihkan dengan kembali menanggapi ocehan Sasti hingga panggilan kami harus masuk ke pesawat terdengar. Dalam pesawat, kami duduk terpisah, karena memang tak ada rencana untuk pulang bareng. Namun, saat pesawat tiba di kota tujuan, rupanya Sasti sengaja menungguku di jalur keluar setelah masuk ke area bandara, hingga membuat kami bertiga kembali berjalan beringan menuju area luar bandara. “Ada yang jemput?” tanya Rizal saat kami sudah di luar. Keluarga Rizal sudah terlihat menjemputnya. “Gampang, lah. Masih ada urusan.” Aku sedikit beralasan untuk menghindari kalau-kalau dia tidak enak kalau tak menawariku serta. Apalagi sebenarnya rumah kami masih searah. “Sampai ketemu nanti siang,” ujar Rizal sesaat sebelum kami berpisah. Aku menggernyikan dahi kembali. Nanti siang? Apakah dia akan menjadi tamu lamaran Dini? Aku segera melupakan ucapan Rizal setelah mobil mereka hilang dari pandangan.Sementara, aku melanjutkan perjalanan menuju rumah dengan taksi online. Orang-orang rumah sepertinya sibuk dengan acara lamaran Dini, sehingga aku tak enak jika minta dijemput. -- “Lho, ini yang mau dilamar kok baru datang,” seloroh Pakde, kakaknya ibu, saat aku turun dari taksi. Suasana rumah sudah ramai. Ada beberapa tetangga yang mulai membantu memasak terlihat mondar-mandir. Meski hanya lamaran, tapi beberapa saudara ibu dan bapak juga datang. Maklum, ini lamaran pertama di keluarga kami. Tak lupa juga Bapak meminta beberapa perangkat desa untuk menjadi juru bicara keluarga pada acara seperti ini. “Lha yang mau dilamar Dini kok, Pakde. Bukan saya,” balasku setelah mencium punggung tangan lelaki yang sudah seperti ayahku juga ini. “Lho, piye tho? Kamu iya. Adikmu juga iya,” sahut Budhe, istri dari Pakde, dari dalam rumah. Aku hanya mencebik. Memang keluarga besarku meskipun dekat, suka usil. Apalagi tentang jodoh. Meskipun hanya candaan, tak urung sering aku merasa sakit hati juga. Namun, aku mencoba menanggapinya dengan santai. Aku mencoba berdamai dengan keadaan. Jika aku terus menanggapi dengan tegang, yang ada justru malah tidak baik. Buatku, dan juga hubungan keluarga besar. Saat masuk rumah, Dini terlihat sudah rapi dengan kebayanya. Bahkan, aku takt ahu, kapan dia menyiapkan semuanya. “Duh, cantiknya yang mau dilamar,” godaku, setelah menemui Bapak dan Ibu. Adik bungsuku itu duduk di depan meja rias di kamar ibu. Karena hanya kamar ibu yang ada meja riasnya. “Mbak Ratih pake baju kembaran sama aku. Jadi, pas difoto biar kembar,” ujar Dini sambil terus di poles make up oleh Bulik. Dia tidak menoleh. Aku menyalami Bulik, lalu duduk di sisi ranjang, melihat adikku yang sedang berdandan. Badanku masih penat perjalanan dari Jakarta, meski menggunakan pesawat. “Lho, kalau kembar, nanti bisa ketuker, gimana?” candaku. Bulik menatapku sekilas seraya mengerutkan kening. Terlihat dari raut mukanya, sepertinya Bulik agak heran dengan jawabanku yang ngawur. “Lho, Nduk. Kamu kan juga mau dilamar,” sela Bulik. Tangannya masih bergerak memoles make up di wajah Dini. “Ah, Bulik ini. Ngomong apa. Yang mau dilamar itu Dini.” Aku menjelaskan dengan percaya diri, seperti ucapanku pada Dini di telepon kemarin. Mendadak, Bulik menghentikan gerakan tangannya, dan tatapannya beralih padaku, membuatku mencurigai sesuatu. “Bentar, Din. Apa maksud Bulik?” Aku menatap bulik dan Dini bergantian. Aku rasa ada yang tidak beres. Dini menoleh saat Bulik menghentikan sapuan bedak di wajahnya. Gadis itu menatapku dengan kening yang berkerut, seolah ingin mengatakan, gimana sih? Kan aku sudah ngasih tau! Mendadak aku teringat ucapan Rizal sebelum kami berpisah tadi. Sampai ketemu nanti siang? Aku bergumam menirukan ucapan Rizal. Apa dia juga mau melamar? Kenapa mereka semua tidak memberitahukanku? Mengapa justru memberiku kejutan seperti ini? Apa mereka sudah tak mempercayaiku? Apa aku terlalu tua untuk memutuskan sendiri kapan aku menikah. Tiba-tiba lututku terasa lemah. Aku merosot ke lantai. “Mbak Ratih!” Samar kudengar teriakan Dini, sesaat sebelum semuanya terasa gelap. Mataku mengerjap. Aroma minyak kayu putih tercium di sekitarku. Sudah lama aku tak pernah pingsan. Aku benar-benar shock mengetahui kenyataan kalau aku pun hendak dilamar. Bagiku pernikahan itu menentukan masa depan seseorang. Aku tak boleh gegabah. Mungkin itu juga yang menyebabkan hingga usia mendekati kepala tiga aku masih memilih sendiri. Setiap ada lelaki yang mendekat, aku memilih untuk menjaga jarak. Dan entahlah, sampai kapan itu akan terus terjadi, aku tak tahu. “Nduk, tamunya sebentar lagi datang. Kamu sebaiknya segera bersiap,” tutur Bulik dengan lembut, saat aku masih terbaring di kasur. Aku mengangguk, lalu berusaha bangkit. “Kamu tidak usah mikir macem-macem. Paklikmu sudah tahu siapa Nak Rizal itu. Anaknya baik. Rajin ke masjid. Nggak bakal jahat sama kamu,” terang Bulik di sela-sela merias wajahku. Aku hanya menurut saja. Rumah Paklik dengan rumah Rizal memang cukup dekat. Tak heran kalau Paklik mengenal Rizal dengan baik. Mendengar kata jahat, tiba-tiba hatiku kembali merasa nyeri. Iya, memang dari dulu Rizal suka ke mesjid. Itu juga daya tariknya. Tapi, kenapa waktu itu dia bisa berkata kasar kepadaku? Bukankah orang yang rajin ke masjid harusnya tidak berkata kasar? Aku menghela nafas. Mendadak kata-kata Dewi berkelidan di kepala. Bukankah orang juga boleh salah? Manusia bukan makhluk yang sempurna. Jadi, mengapa harus mempermasalahkan masa lalu? Tapi, masalahnya Rizal sudah duda. Sementara, aku masih perawan? Apa karena aku sudah tidak laku, hingga bersedia diperistri duda? Tiba-tiba muncul bisikan lain dalam hatiku. “Kok ngalamun lagi?” tanya Bulik menyadari pikiranku yang kosong. Berbeda dengan Dini tadi yang saat dirias banyak bicara. Aku memang malah sibuk dengan lamunan. “Duda malah sudah berpengalaman. Kalaupun dia gagal, pasti dia tak mau mengulangi kegagalannya.” Bulik seperti mampu membaca pikiranku. Bagaimanapun Bulik lebih punya pengalaman dalam berumah tangga dibandingkan aku. Jadi, apa salahnya aku mendengar pendapatnya. Tak lama, tamu yang dimaksud itu, keluarga Rizal, sudah datang. Aku sebenarnya enggan untuk keluar. Tapi, Dini memaksa. Dia menemaniku ke depan. Bahkan, calon suami Dini juga sudah datang. Tamu sudah dipersilahkan duduk di tempat yang telah disediakan, begitu juga kami, keluarga penerima tamu. Entahlah, pikiranku semrawut aku jadi tak mengerti kenapa bisa ada acara lamaran yang digabung seperti ini. Namun, aku memilih menurut saja. Beginikah kalau usia merangkak berumur. Tak dapat banyak berpendapat dan tak punya pilihan. “Tante!” teriakan Sasti mengagetkanku. Gadis kecil itu berlari mendekat ke arahku. Aku merasa semua mata memandang ke arahku yang langsung memeluk Sasti saat gadis kecil itu mendekat. Kami menjadi pusat perhatian. “Nah, kan. Sudah cocok!” Celetukan Pakde, membuat para tamu menjadi riuh. Sasti langsung sibuk di sebelahku. Dia pun berceloteh dengan Dini. Entah bakat dari mana, adikku itu memang lebih pandai mengurus anak kecil dibanding aku. Dini menyukai dunia anak-anak. Keduanya asyik ngobrol apa saja seperti tak peduli dengan acara formal yang sedang berlangsung. Sementara, pikiranku menggembara. Aku pun belum sempat istikharah untuk memantapkan hati. Tapi, tiba-tiba acara lamaran sudah berlangsung. Aku bingung. Haruskah aku marah? Atau aku senang? Melihat Sasti, memang hatiku sering menghangat. Apalagi anak itu sama sekali tidak menyulitkan. Malah sangat mudah diajak berkomunikasi. Kehadiran Sasti bukannya justru berkah bagiku. Aku bisa berlatih menjadi ibu, sebelum memiliki anak yang sesungguhnya dari rahimku? Apakah semua ini kemudahan bagiku? “Gimana, Nak Ratih? Bersedia?” tiba-tiba suara Pakde mengagetkanku. “Mbak, ditanya, tuh.” Dini menyikut lenganku. “Kalau diam saja, artinya iya.” Tiba-tiba Ayah Rizal ikut menyeletuk. Lalu disambut gemuruh oleh tamu yang hadir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD