Hari menjelang senja, Aku kembali ke kosan.
Kosanku berada di gang sempit di belakang kantor. Kira-kira 700 meter dari kantor. Tapi, jalanannya hanya bisa dilalui motor atau bajaj. Kalau pun bisa dilalui mobil, tapi hanya satu arah dan tidak bisa bersimpangan. Biasanya, bagi yang bertamu menggunakan mobil harus parkir jauh dari kosan. Parkir di pinggir jalan sebelum masuk gang.
Kosku itu berada di lantai dua. Lantai satu dihuni oleh pemilik rumah. Kamarku berada tepat di ujung paling depan. Kalau membuka jendela, maka aku bisa mengintip orang yang lalu lalang di jalanan depan kosan. Termasuk juga melihat penjual nasi uduk yang kadang buka dasaran di pagi dan sore hari.
Aku sendiri penghuni paling baru di kosan. Semua rata-rata sudah menghuni kosan lebih dari setahun. Kabarnya, penghuni yang paling sering bergantian ya penghuni kamarku ini. Entah mengapa, meski aku pikir kamarku paling nyaman, karena ventilasi langsung masuk udara luar, buktinya tak ada yang mau pindah ke sini. Mungkin mereka sudah PW (Posisi Wenak) di kamarnya masing-masing. Karena saat kulihat, memang barang-barang mereka sudah cukup banyak. Wajar saja, sudah bertahun-tahun.
Di kos ini hanya terdapat empat buah kamar. Sementara, kamar mandi hanya satu di ujung paling dalam. Kami biasa berbagi kamar mandi dengan penghuni kos yang lain. Tidak tersedia dapur, tidak ada kulkas, tidak ada kompor. Praktis setiap hari aku harus membeli makan.
Semua penghuni kos adalah karyawati. Dan mereka semua belum menikah. Dua di antaranya usianya lebih tua dariku. Sementara, satu orang usianya lebih muda. Kami sibuk dengan urusan masing-masing. Bahkan, sepulang kerja, kami sudah capek dan biasa sudah masuk kamar masing-masing. Apalagi jam pulang kerja kami berbeda-beda. Ada yang pulang malam, ada yang sore, ada yang sering keluar kota. Bahkan, akhir pekan saja, kami jarang bertemu.
Hidup di kota besar seperti ini memang tantangan. Apalagi di usia yang menjelang kepala tiga. Teman kosan sudah tak lagi memikirkan jodoh yang tak kunjung tiba. Mereka justru lebih fokus ke karirnya. Sementara aku? Masih bimbang di persimpangan.
Aku kembali tercenung. Seandainya bukan karena bapak dan ibu, mungkin aku juga merasa enggan memikirkan urusan jodoh.
Aku sudah pasrah. Hidup mati, rejeki jodoh semuanya di tangan Tuhan.
Tapi, jika mengingat usia orang tuaku yang semakin mengakak nyaris kepala enam, mungkin aku harus memiliki berkemantapan hati untuk kembali berikhtiar. Aku harus semakin mendekatkan diri kepada pemilik kekuasaan. Kuasa yang mendekatkan jodoh.
Jodoh memang rahasia. Ada mereka yang sangat mudah dipertemukan. Bahkan, mereka yang penuh kekurangan saja ada jodohnya. Layakkah aku berputus asa?
Bahkan, bagi mereka yang tidak mendapatkan jodoh di dunia, akan disiapkan jodohnya di akhirat.
Tiba-tiba batinku terhenyak. Apakah aku tidak mendapatkan jodoh itu di dunia?
Sering aku merasa terpuruk dalam nestapa. Sering aku merasa tidak beruntung. Sering aku merasa iri pada teman-teman.
Mereka yang biasa saja. Mereka yang hatinya culas, mereka yang peranggainya buruk, mereka yang banyak punya iri dengki, Mereka yang amalanya biasa, mengapa begitu mudah menemukan jodohnya. Sedangkan aku?
Aku memang tak layak menggungat. Karena aku bukan makhluk yang sempurna. Namun, tak bolehkah aku mempertanyakan? Apa ini tandanya aku belum bisa menerima takdirku?
Apakah memang tak ada menariknya pada diriku? Sampai tak ada yang mau bersanding denganku? Apakah aku selama ini terlalu egois? Atau banyak perilakuku masih banyak yang harus diperbaiki?
Aku kembali mengingat kata-kata Desti. Aku berusaha menimbang. Mungkinkah aku terlalu egois memikirkan diri sendiri. Apakah itu artinya, jodohku menjauh kembali?
Mungkin, inilah skenario terbaik bagiku. Mungkin juga scenario bagi Sasti. Dia akan lebih baik jika diasuh oleh ibu kandungnya. Bukan orang lain.
Kupejamkan mata ini. Beginikah rahasia jodoh. Rizal datang dan pergi dalam kehidupanku begitu saja.
Tiba-tiba dering ponsel menyadarkanku dari lamunan. Mataku memicing saat membaca pesan yang masuk:
[Aku di bawah.]
Nomornya masih asing. Aku mencoba menebak siapa yang mengirimkan pesan ini.
Aku berfikir sejenak. Aku tak ada janji dengan siapapun.
Daripada penasaran, segera kusambar jilbab instan untuk mengintip keluar jendela kamar.
Seorang pemuda terlihat berdiri di depan kosan sambil memegang ponsel. Nyata sekali kalau dia sedang menunggu sesuatu dari benda pipih di genggaman tangannya. Ia melambaikan tangan saat melihatku ada dibalik tirai yang sengaja aku sibakkan.
Rizal? Dari mana dia tahu aku tinggal di sini? Apakah Nadia yang memberi tahu?
Degup jantungku kembali bertalu-talu. Ah, pria itu hadir kembali. Di sini.
Aku mencubit pipiku, meyakinkan bahwa yang kulihat ini nyata.
Sambil mengganti jilbab kaos dengan pasmina instan, pikiranku berkecamuk. Sepertinya ini kesempatan buat mengklarifikasi ucapan Desti.
“Makan, yuk!” ajak Rizal saat aku sudah tiba di bawah.
Degupan jantung berusaha aku kendalikan. Ah, ini benar-benar seperti jaman putih abu-abu. Kenapa aku bisa senaif ini?
Aku harus berjuang keras menyembunyikan perasaan yang tak karuan ini. Jangan sampai aku terlihat konyol di hadapannya.
“Sasti mana?” Aku mencoba mencari bahan obrolan. Tak ada yang bisa kutanyakan selain gadis munggil yang sering kutemu bersamanya itu.
“Ada Budenya,” sahut Rizal singkat.
“Bude?”
“Sepupuku. Dia yang ngasuh Sasti,” jelas Rizal.
“Oh.” Aku sedikit lega. Ternyata anak Rizal diasuh oleh orang yang masih punya hubungan kerabat. Pantas saja, dia seperti tak ada beban.
"Belum makan, kan?" Rizal kembali mengingatkan kalau tujuannya mau ngajak makan aku.
Aku sedikit ragu. Belum satu jam aku makan ayam bakar madu dengan Desti. Meski sebenarnya aku belum kenyang. Ayam itu lebih banyak nyangkut di tenggorokan karena mendengarkan ucapan Desti.
Kini, Rizal menawarkan makan bersamanya. Hati siapa tak girang. Lebih dari sepuluh tahun aku menunggu kesempatan itu. Bagaimana bisa aku melewatkannya.
"Kok, malah bengong."
Tanpa kusadari, aku menatap Rizal yang sedang menahan senyum. Kentara sekali kalau dia sedang menertawaiku. Namun, aku bisa apa. Aku hanya bisa menjadi ABG yang sedang berbunga-bunga dilanda asmara.
"Oh, iya. Ayuk."
"Makan dimana?" Rizal menaikkan satu alisnya.
Pertanyaan yang sulit. Aku tak tahu selera Rizal. Aku pun tak tahu tempat makan yang enak sekitar sini, kecuali kuliner malam di sepanjang pinggir jalan sebelum masuk gang arah kosanku.
"Nah, kan. Bengong lagi?"
"Terserah kamu," ucapku, daripada harus berfikir keras.
"Kan kamu yang tinggal di sini. Aku mana tahu," sahutnya.
Kami masih berdiri di depan kosanku tanpa kepastian. Saat salah satu teman kosanku lewat dan tersenyum padaku sambil mengedipkan matanya, aku jadi nggak enak.
"Aku bisa makan apa aja Ratih. Asal makanan yang halal," ucapnya karena membaca keraguanku.
Bahkan, memilih makan saja begini beratnya. Lalu, bagaimana nanti nasibku saat menikah dengannya.
"Di tempat aku parkir tadi, banyak jajanan. Kita jalan dulu ke sana, gimana? Nanti baru kamu pilih?" usul Rizal.
Salah satu yang diam-diam kukagumi dari Rizal saat jaman putih abu-abu adalah cara dia memecahkan masalah dan memberi solusi. Dia memang bukan siswa populer. Makanya, tak banyak yang tahu siapa dia. Dan aku adalah pengagum rahasianya. Bahkan, sampai hal kecil saja aku tahu.
Namun, kalau masalah menu makanan, tentu aku tak tahu. Karena selera jaman SMA pasti sudah berubah. Nggak mungkin kan aku ajak makan bakso atau mie ayam, padahal dia mengajak makan malam?
Aku hanya mengangguk menyetujui usulnya.
Kami berjalan bersisihan melewati gang kecil. Dari kosanku ke jalan raya tidak begitu jauh. Di pinggir jalan itulah, biasanya banyak kuliner beterbaran kalau sore menjelang malam seperti ini. Umumnya pekerja kantoran juga yang menjadi pelanggannya. Usia-usia sepantaranku banyak yang masih single di kota besar seperti ini. Dan, karena itulah, aku sering terlena dan tak berfikir mengakhiri masa lajang.
Masa-masa ingin menikah, seperti sudah lewat dari benakku. Aku sudah mengalami zona nyaman. Zona yang bagiku, kedatangan orang asing dalam kehidupan, adalah akan menganggu apa yang sudah menjadi kebiasaanku.
Kadang, di kantor ibu-ibu muda yang mengeluh kurang tidur karena anaknya rewel, demam atau apa. Belum lagi keluhan suami atau pasangan mereka yang malas membantu pekerjaan rumah tangga, membuat alasanku semakin kuat untuk tak memikirkan pasangan.
Sambil jalan ke luar gang, aku dan Rizal masih belum membuka percakapan. Kami berjalan dalam diam. Canggung juga rasanya. Sesekali aku meliriknya, berharap dia mengatakan apa, sebagai basa-basi. Namun rupanya tidak ada. Mungkin dia menunggu aku yang memulai. Padahal kami sudah melewati ratusan meter dari kosanku,
"Apa benar Desti sudah berpisah dari suaminya?"
Mendadak Rizal menghentikan langkah, begitu mendengar pertanyaanku yang tanpa basa-basi itu.
Terlambat. Aku tak bisa menarik ucapan, selain hanya bisa menelan ludah.
“Sudah aku bilang, buang kartu nama Desti!”
Padahal ini nggak ada sangkut pautnya dengan kartunama Desti, karena Desti memanggilku dan kami bertemu usai pertemuan siang tadi.
Terlihat jelas wajah Rizal yang memerah, meski kami hanya tersorot lampu jalan.
Langkahku pun ikut terhenti. Aku tak berani menatapnya. memoriku seolah berputar kembali.
"Ck. Sudah lah. Ayo kita makan." Rizal terlihat berusaha menguasai diri. Mungkin dia takut kalau-kalau aku trauma melihatnya seperti itu. Atau, dia ingin membuktikan ucapan Nadia, kalau dia sudah berubah dan minta maaf?
"Kamu nggak papa, makan di pinggir jalan?" tanyaku saat dia mengajakku sedikit berjalan untuk membaca menu-menu di tenda.
Aku yakin, dia tak kunjung memilih, mungkin karena belum sreg dengan menunya, atau lokasinya.
"Kamu ngomong apa, sih. Aku bisa makan dimana saja, Ratih."
Ingin aku mengatakan, kalau mungkin tidak higienis, mana tahu, istrinya selama ini mengaturnya dan menerapkan pola hidup sehat, lantas dia harus makan bersamaku sembarangan. Namun urung kukatakan. Aku khawatir terdengar penjual, atau bahkan pelanggan warung tenda ini. Bisa tersinggung mereka nanti.
"Pecel ayam, mau?" tawar Rizal saat langkah kami sudah mencapai ujung. Hanya ada nasi goreng dan sate yang belum kami lewati. Mungkin Rizal tak tertarik.
Mungkin dia malas berbalik arah, atau memang tak ada yang menarik bagi Rizal.
"Nggak papa."
Rizal langsung masuk ke tenda itu. Dengan cepat dia memilih menu. "Kamu makan apa, Tih?"
"Lele aja," sahutku, mengingat tadi aku sudah makan ayam bakar.
"Ayam satu, lele satu, ya, Pak!"
Suasana tenda tak terlalu ramai. Masih banyak bangku kosong. Kami duduk di ujung, agar kami bisa lebih nyaman ngobrol.
"Sudah aku bilang, jangan diterima kartu nama Desti." Dia mengulang ucapannya, karena belum sempat aku respon.
Roman muka Rizal tampak marah saat aku menyinggung tentang Desti.
“Dia yang menemuiku. Bahkan, saat kita bari berpisah di mall tadi.” Aku berusaha membela diri, meski takut-takut. Mestinya, aku tak perlu takut. Toh, Rizal belum menjadi siapa-siapa bagiku. Dia masih orang lain.
“Dia memang sudah lama mau rujuk. Tapi, aku menolak.” Rizal menjawab dengan raut muka datar.
Aku menatap wajahnya intens. Ya Tuhan, kenapa setiap menatapnya, jantungku berdegup tak karuan. Apa karena ini juga, kita dianjurkan menjaga pandangan?
"Kenapa?" Sekuat tenaga aku mengusir rasa canggung ini.
Padahal aku hanya makan berdua. Bukan pacaran. Lalu, bagaimana dengan pasangan muda-mudi yang pacaran? Apa karena ini pula, agama melarang untuk berduaan dengan bukan mahrom. Karena syetan punya banyak kesempatan menggoda. Seperti hal nya apa yang terjadi di kepalaku, yang berfikir tak karuan.
Untungnya, tak lama, tukang pecel ayam sudah menghidangkan pesanan kami. Namun, Aku masih menunggu Rizal menjelaskan lebih lanjut maksud penolakannya pada Desti.
"Ayo, makan dulu. Kalau dingin nggak enak." Sayangnya, dia tak memberikan penjelasan apapun, malah mengalihkan pembicaraan.
‘Apakah semua lelaki seperti ini? Irit bicara untuk hal-hal yang berbau pribadi? Bukannya aku calon istrinya? Bukannya aku berhak tahu?’ Aku berguman dalam hati. Ternyata menikah tak semudah yang kuimpikan. Kalau aku kelak hidup berdua dengan makhluk bernama lelaki, tapi aku tidak mampu menyelami pikirannya, bagaimana kelak nasib rumah tanggaku?
“Zal, penjelasanmu akan membantuku memantapkan hati,” ujarku setelah keheningan sesaat di antara kami.
Warung tenda tempat kami makan sudah lebih ramai dibanding tadi saat kami datang. Meskipun tempat ini hanya menyajikan penyetan, namun sangat berarti buat penduduk urban sepertiku yang tempat tinggalnya tidak dilengkapi dapur.
“Sasti butuh seorang ibu. Dan ibu kandung jauh lebih baik dari ibu sambung,” sambungku karena Rizal tak juga mengeluarkan penjelasannya. Ini terdengar sok bijak. Namun, aku sering mendengar penjelasan serupa, meski aku belum berpengalaman.
Aku menatap Rizal yang sibuk menghabiskan makanannya. Mungkin dia lapar, karena sama sekali tak memberi jeda untuk berbicara. Atau, dia perlu energi untuk memberi penjelasan padaku?
“Sebenarnya tak semuanya harus kuceritakan. Tapi, baiklah.” Rizal menyudahi makan pecel ayamnya.
Rizal menumpuk piring nasi dan piring bekas pecelnya menjadi satu, sehingga meja di hadapannya terlihat bersih.
Sementara, aku masih berusaha melanjutkan makananku yang belum habis.
“Sebenarnya aku sudah melupakan semuanya. Dia adalah mamanya Sasti. Aku tak mau membuka aibnya.” Rizal memberi jeda. “Tapi, karena kamu ingin tahu, aku beritahukan padamu,” lanjut Rizal.
"Ada pria yang menurut Desti lebih baik dari aku. Kami berpisah baik-baik dan hak asuh Sasti jatuh padaku. Namun, ternyata pernikahan kedua Desti tak seindah harapannya. Dan semua sudah berakhir."
Aku menyimak ucapannya. Nadanya datar saja. Tapi, aku yakin ada luka di dalam sana.
“Makanya, dia minta rujuk,” lanjut Rizal.
“Lalu, kenapa kamu tidak menerimanya? Bukankah itu artinya dia mengakui kamu lah terbaik dalam hidupnya. Atau, paling tidak, demi Sasti,” ucapku. Terdengar ringan, bagi orang yang sama sekali tak punya pengalaman soal cinta dan rumah tangga. Tapi, aku ingin mendengar penjelasan dari Rizal.
Toh, selama ini yang kudengar, memang ibu kandung jauh lebih baik dari ibu sambung bukan? karena anak selama sembilan bulan ada di rahimnya. Ada ikatan batin di sana.
Sungguh, kalau kondisinya Desti memang ingin kembali pada Rizal, bukankah itu niat baik seorang ibu kandung? Harusnya aku mendukungnya. Bukan malah menyerobot yang belum tentu jadi hakku juga.
Perihal rasa cemburu. Tentu saja ada. Rasa yang belum hilang ini, seolah bak rollercoaster. Kadang muncul jadi cinta, kadang berubah menjadi luka. Beginikah rasanya ujian cinta?
Sungguh, membayangkan menjadi orang ketiga saja aku tak mampu. Bahkan, melihat kebahagian Sasti dengan mamanya saja, rasanya hati ini cemburu. Bagaimana kelak jika aku benar-benar menjadi duri dalam kehidupan mereka?
"Aku nggak ingin memaksa diri masuk dalam hubungan kalian, Zal. Sasti layak bahagia bersama mamanya," ucapku.
Rizal menarik nafas.
“Dengar baik-baik. Dia mencintai pria lain saat masih bersamaku. Aku tidak pernah menerima hal itu. Itu juga berlaku padamu. Jika kamu menikah denganku, jangan pernah memberikan hatimu pada lelaki lain.”
Tiba-tiba wajah Rizal memerah. Kata-katanya penuh penekanan. Dia seolah sedang menunjukkan kalau ada emosi yang masih tersimpan.
“Apa maksudmu, mamanya Sasti selingkuh?” Ragu aku bertanya.
Rizal tidak memberikan penjelasan yang eksplisit, sehingga aku tak dapat mencerna dengan baik.
“Ratih, jangan kamu pikirkan Desti lagi. Dia memang mama Sasti. Dia boleh bertemu Sasti kapan saja dia mau. Tapi, aku tak akan ijinkah hak asuh Sasti jatuh padanya. Dan itu sudah diperkuat keputusan pengadilan agama. Jadi, kamu tidak perlu mengungkit masalah Sasti dan mamanya. Yang terpenting adalah masalah aku dan kamu. Sasti, biar aku yang urus. Sasti tanggung jawabku. Jadi tidaknya kita menikah, Sasti akan selalu bersamaku. Mengerti?”
Ucapan Rizal memang lirih terdengar di telingaku. Tapi, itu sanggup membuat dadaku tercekat. Lidahku menjadi kelu. Aku tahu dia mencoba memilih kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Aku tahu ada hati yang ingin dia jaga. Karena dia tahu, akupun masih orang lain baginya. Jika dia salah memilih kata, itu bisa menjadi hal yang buruk baginya.
Aku harus mencoba memahami kata demi kata yang dia ucapkan dan maksud yang ada di belakangnya. Aku mencoba meraba, apakah penjelasan dia mampu memunculkan kemantapan hatiku. Apakah penjelasan itu akan mampu melahirkan ketenangan batinku. Ataukah malah semakin menyisakan tanda tanya besar dalam kalbuku.
Setelah membayar makanan, Rizal mengantarku kembali ke kosan. Kami berdua berjalan dalam pikiran masing-masing, hingga kami berhenti di depan kosanku.
Ada teras di lantai atas dan kursi di sana. Kami duduk sebentar di teras itu.
“Ratih, di antara kita tak ada yang mundur. Kamu lah yang aku pilih menjadi ibu bagi Sasti. Aku tak perlu bertanya padamu apakah kamu bersedia. Karena aku tahu, kamu pasti bersedia,” ujar Rizal mantap.
Aku terbeliak, percaya diri sekali dia? Apakah dia lupa dengan luka masa lalu yang pernah ditorehkan? Apa dia pikir begitu mudah aku melupakan semuanya?
Saat aku melihat ke arahnya, pada saat yang bersamaan, dia juga menatapku sekilas. Ia lalu mengalihkan padangannya lurus ke depan. Hanya terlihat atap rumah tetangga kosan, atau bangunan berlantai dua lainnya.
“Istikharahlah kalau kamu belum mantap. Tapi, kuharap, ini adalah penjelasan terakhirku. Sampai jumpa minggu depan.”
Ibu bagi Sasti? Sebenarnya dia mencari istri, apa pengasuh anak?
Aku nggak tahu, kenapa aku yang dipilih? Aku nggak punya pengalaman dalam mengasuh anak. Kalau benar dia menginginkan ibu bagi putrinya, harusnya memilih yang berpengalaman. Bukan sepertiku, bahkan cinta dunia anak-anak pun tidak.
Aku masuk ke dalam kosan.
"Cie, siapa tuh, Tih?" Mbak Femy, salah satu senior di kosan yang tadi lewat saat aku bersama Rizal, kini menyembulkan kepala di pintu kamarku yang memang belum tertutup.
"Kayaknya kamar ini beneran mengundang jodoh, ya?" Mbak Femy masuk ke kamar. Dia langsung duduk di sisi ranjang.
"Semua yang menempati kamar ini, akan keluar saat dia nikah. Dan hampir tiap tahun itu," ucap Mbak Femy.
Aku memang penghuni baru di kosan ini. Sebelumnya, aku tinggal beberapa gang dari sini. Sayangnya, kosan yang sudah membuatku nyaman itu harus direnovasi, sehingga aku pindah ke tempat ini.
"Alhamdulillah. Rejeki berarti ya, aku pindah ke sini. Kalau gitu, Mbak Femy pindah sini aja." Entah mengapa, aku malah kelepasan ngomong gini. Duh, semoga Mbak Femy nggak tersinggung.
Wanita berparas imut, namun usianya sepuluh tahun lebih tua dariku itu tertawa. "Mbak udah lewat, Tih. Udah nyaman begini. Nggak mau nambah urusan," ucapnya.
Aku bingung mau komentar apa. Hidup sungguh pilihan. Aku belum cukup bagus untuk menasehati seseorang juga.
"Malah, bagusnya kayak kamu. Kalau ketemu jodoh, disegerakan saja. Jangan kayak Mbak. Kalau sudah nyaman gini, rasanya udah nggak pengen lagi," tukasnya. Entah menutupi kegalauan, atau benar-benar dari hati.
"Mbak punya banyak keponakan. Mengasuh keponakan, tentu beda sama anak sendiri. Mbak ini sayang anak-anak juga. Tapi, masa ingin itu kayaknya sudah lewat aja."
Aku menyimak ucapan Mbak Femy. Takut berkomentar. Takut salah dan membuatnya tersinggung. Ini adalah hal sensitif.
"Aku lihat, temanmu tadi pria baik-baik. Kenal dimana? Atau CLBK?" tanya Mbak Femy diakhiri dengan nada setengah menggoda.
Aku menarik nafas. "Entah, Mbak. Bisa dibilang CLBK atau tidak. Wong dia dulu benci sama aku," tukasku.
"Benci?"
"Iya. Dulu dia terang-terangan menolakku." Teringat kembali jaman putih abu-abu. Kisah-kisah kelam bersama Rizal kembali berkelidan.
Memang, kadang mengingat senyumnya terasa indah. Tapi, saat teringat bagaimana dia menyalahkanku gara-gara dia ditolak Dewi, sungguh perih terasa.
"Wah, keren dong. Kamu berhasil menaklukkan hatinya berarti?"
"Bukan menaklukkan dia, Mbak. Mana bisa aku. Kami dijodohin temen."
"Lho...lho. Dulu benci, tapi dijodohin. Gimana ini?"
Mbak Femy terlihat heran. Aku pun juga. Bagaimana bisa Nadia malah menjodohkanku dengan Rizal yang jelas-jelas dulu menolakku.
"Itulah jodoh, Mbak. Mungkin Tuhan pengen kasih tahu, kalau benci sama seseorang, jangan berlebihan. nanti tahunya malah jodoh," ucapku, berusaha bercanda, meski terdengar garing.
"Oke, deh, Ratih. Semoga semuanya lancar ya, sampai pelaminan."
"Aku doain Mbak Femy juga."
"Lho, nggak usah." Mbak Femy malah tertawa.
"Mbak serius udah nggak pengen ketemu jodoh, atau pasangan gitu?" Aku benar-benar penasaran.
Mbak Femy menarik nafas.
"Keinginan itu ada. Kadang muncul, kadang pergi. Kadang aku udah merasa nyaman begini. Bahkan, berdoa saja, aku tak percaya diri. Benar nggak aku minta jodoh? Aku kadang takut kalau dikasih, tapi nggak siap."
"Mbak, bukan aku menggurui. Tapi, Alloh itu menciptakan hambanya berpasang-pasangan. itu fitrahnya. Jadi, buat apa ragu untuk meminta?" Entah dari mana keberanian ini muncul. "Mengenai dikasih atau enggak, itu hak prerogratif Alloh. Bisa kita dikasih di dunia. Namun, bisa juga di akhirat. Yang penting kita yakin."
Mbak Femy tertawa.
"Maaf lho, Mbak." Ada sedikit sesal terlanjur mengutarakan semuanya. Aku tahu ini sensitif. Apalagi untuk wanita seusia Mbak Femy.
"Nggak papa, Tih. Mbak usia sudah nyaris kepala empat. Kamu tahu, yang ngasih nasehat seperti ini bukan kamu saja. Mungkin sudah nggak bisa dihitung dengan jari. Jadi, ibarat kata, udah kebas saja. Udah bebal," ucap Mbak Femy.
"Dulu, awal-awal ada lah sakit hati kalau ada yang ngomongin jodoh atau kasih nasehat. Mereka kan nggak pernah ngrasain di posisi kita. Tapi, seiring berjalannya waktu, semua jadi biasa saja."
Entah ucapan Mbak Femy ini sebuah sindiran dari ucapanku tadi, atau memang demikian adanya.
"Mbak, sekali lagi, klo nggak berkenan, aku minta maaf."
"Santai, Ratih. Yang penting kamu lancar semuanya, aku turut senang."
Sepeninggal Mbak Femy, rasa bersalah masih menyelimuti. Begini ternyata jadi orang sensitif itu. Apa benar ucapan Mbak Femy? Waktu juga yang akan menyembuhkan.
Tapi, di luar itu, aku kembali memikirkan nasibku. Benarkan aku akan menerima Rizal sebagai takdir jodohku, atau, aku hanya menghindar dari tekanan keluarga, atau pandangan orang sekitar karena usia yang terus merangkak. Seperti ucapan Mbak Femy tadi. Semakin lama, akan banyak yang kasih nasehat, dan lama-lama kita akan susah menghindar. Apakah ini artinya aku menerima pinangan Rizal karena takut hal semacam itu?
Kenapa aku belum juga menemukan alasan yang membuatku yakin?
Apakah benar Rizal hanya mencari ibu bagi Sasti, bukan mencari pasangan hidupnya?