Bab 23b

1179 Words

Sejenak kami hanya saling diam. Namun begitu, diam-diam terbersit rasa kagum padanya. Dia yang berubah drastis dalam waktu dekat, tak menutup kemungkinan akan setara dengan papa di masa depan. Benar kata papa, Rizal punya potensi besar untuk maju. "Aku hanya orang biasa. Orang tuaku pun orang biasa yang tinggal di kampung," ucap Rizal. "Namun, aku akan tetap berusaha menjadi orang yang luar biasa," sambungnya. Aku tersenyum. Rizal bukan lah orang pertama yang menyatakan ketertarikannya padaku. Dan aku bisa memahami maksud pembicaraannya itu. "Aku nggak mempermasalahkan dari mana dia berasal," bohongku. Meski dalam hati, Gavin lah yang terbaik. Tapi, apa salahnya dicoba. Toh, memang aku sedang sendiri saat ini. Pria yang kutunggu pun tak jelas kabar beritanya. Satu-persatu temanku j

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD