“Axita!”
Ia menoleh merasa namanya di sebut. Sosok gadis mendekatinya. Axita melempar senyum. Siapa lagi yang datang kalau bukan sahabatnya. Sosok putri yang terlahir di Klan bintang, memiliki penampilan cantik mengenakan gaun panjang dengan pernak pernik yang memancarkan cahaya memukau, siapa lagi kalau bukan Felix. Felix sahabat dekat Axita. Mereka seakan sepasang sepatu. Selalu bersama dan beriringan. Kemana pun melangkah selalu terlihat bersama.
Tiga belas tahun sudah berlalu. Kini Axita berada di Klan Pluto. Tempat di mana semua putri dari berbagai klan berkumpul menjadi satu untuk melatih kekuatannya.
Klan Pluto awal mulanya adalah klan tidak berpenghuni yang menyeramkan. Asosiasi perkumpulan klan memanfaatkannya sebagai tempat untuk melatih putra putri seluruh klan melatih dan menajamkan kekuatan.
Semua klan telah berdamai. Klan Bulan juga sudah tidak dikucilkan. Semua klan hidup dengan damai. Ramalan mengenai Klan Bulan dari Klan Matahari sudah dilupakan oleh klan lainnya. Asosiasi perkumpulan klan memberi angin segar bagi Klan Bulan. Asosiasi perkumpulan klan ini adalah dewan perlindungan seluruh klan.
“Bagaimana sudah berhasil mengendalikan kekuatanmu? Rasa penasarannya hadir. Axita dapat menebak dari mana sahabatnya itu berasal. Sudah dapat di pastikan ia berasal dari aula utama. Tempat di mana para putri berlatih untuk mengendalikan kekuatannya.
“Yah, belum sesuai harapan”
“Gagal lagi. Kekuatanku masih saja belum bisa mengendalikan serbuk pasir. Hanya bergerak sedikit” raut wajahnya tampak kecewa,usahanya belum saja berbuah manis.
“Sudahlah jangan cemberut” Axita tersenyum.
“Semangat dong. Esok kita bisa berlatih kembali” Ia berusaha melupakan kesedihan yang tengah melanda Felix.
“Ah lupakan”
Mereka berjalan bersama menuju kamar asrama. Tempat di mana mereka beristirahat dan belajar memperdalam teori mengenai kemampuan mereka masing masing. Axita si kutu buku selalu membawa buku pada genggamannya. Tidak heran jika ia terkenal rajin di antara teman temannya.
***
“Ah siapa sebenarnya putri bulan yang ayah maksud” Grave tampak berpikir keras. Ia masih belum berhasil menemukan siapa putri dari bulan yang ayahnya maksud.
Grave selain belajar memaksimalkan kekuatannya, ia juga membawa misi khusus dari ayahnya untuk mencari putri bulan. Putri yang selalu menjadi penghalang rencananya.
“Heh kenapa kau?” Vira si putri Mars merasa ada yang aneh dengan sahabatnya. Tingkahnya berbeda. Tidak seperti biasanya yang ia kenal.
“Saat pelajaran pun sepertinya kamu tidak fokus. Ada masalah?” lanjutnya.
“Ah susah sekali mencari putri bulan yang ayah maksud”
“Ngapain nyari putri bulan? Banyak kali di sini putri bulan. Tinggal pilih satu” dengan gampang Vira berucap tanpa beban.
“Tidak segampang itu sis. Iya kali tinggal pilih. Kalau gitu mah gue ngga perlu pusing”
Vira bingung. Mengapa temannya begitu terbebani untuk mencari putri bulan. Putri bulan seperti apakah yang ayahnya cari? Ada apa gerangan ? mengapa harus putri bulan? Berbagai pertanyaan memenuhi pikiran Vira.
“Lah terus putri bagaimana yang di cari?” Vira masih saja penasaran. Ia memberanikan diri untuk bertanya.
“Ah Diam!!”
Vira langsung terdiam. Ia tidak berani melanjutkan dan mengulang pertanyaannya.
Grave yang mudah marah membuat banyak putri yang enggan berteman dengannya. Mereka merasa takut dengan Grave. Grave adalah salah satu putri yang di takuti. Mereka tidak berani mengaturnya dan hanya sekedar menyapa. Mereka justru ingin menghindar jika bertemu dengannya. Berharap tidak bertemu dengannya adalah harapan sebagian putri yang kini mendiami Klan Pluto demi mengasah kemampuan mereka.
Grave keluar dari kamar. Vira yang sudah paham dengan watak temannya hanya diam. Ia sudah paham kebiasaan Grave. Pergi menyendiri ketika beban yang dirasakannya terasa berat.
Vira masih di hantui rasa penasarannya. Apa sebenarnya tugas yang di bebankan ke Grave dari ayahnya. Sepertinya hal ini bukanlah sesuatu yang kecil.
Vira tidak mau ambil pusing. Ia segera mengambil bukunya yang berada di rak dan memperdalam teori untuk melatih kekuatannya. Vira ini memiliki kekuatan membaca pikiran orang lain. Namun sampai sekarang ia belum bisa untuk memunculkan kemampuannya itu. Andai saja kekuatannya sudah berhasil ia kuasai, ia pasti dapat mengetahui emosi Grave saat ini. Ia juga akan mengetahui permasalahan yang membebani pikiran Grave.
***
Grave berjalan menuju aula latihan dengan mengamati keadaan sekitar. Tampak netranya menyapu satu demi satu orang yang melintas. Vira hanya diam berjalan di sampingnya.
Grave berharap ia dapat menemukan sosok yang ia curigai sebagai putri bulan yang ayahnya maksud. Memang banyak putri bulan yang sudah ia temui. Setiap penghuni klan memang memiliki ciri khusus yang dapat di gunakan sebagai identitas masing masing dari klan mana mereka berasal.
Grave di identifikasi memiliki beberapa kemampuan. Salah satunya kemampuannya adalah menghilang. Salah satu kekuatan yang jarang dimiliki orang lain. Sama seperti Vira, sampai saat ini Grave juga belum bisa menggunakan semua kekuatannya. Usaha usaha yang dilakukannya belum juga berhasil memunculkan kemampuannya.
Pandangan Grave tertuju pada salah seorang putri yang mengenakan kalung berlian. Tampak kalung ini memiliki simbol bulan. Putri itu juga memiliki tanda tanda lain yang mencirikan ia berasal dari klan bulan. Ayahnya mengatakan jika putri bulan yang ia cari memiliki benda pustaka yang terlihat.
Aura Grave langsung berubah. Vira melirik. Raut wajah Grave berbeda. Mungkin saja ia sudah mendapat titik terang.
***
Wulan menengok ke belakang. Tidak ada siapapun. Ia kembali fokus berjalan menelusuri lorong. Bayang bayang itu muncul kembali. Pasti ada yang mengikutinya. Tidak mungkin bayangannya tiba tiba berubah menjadi dua tiba tiba hanya satu. Ia mempercepat langkah. Berusaha menghiraukan sesuatu itu.
Lega!
Akhirnya ia sampai ke kamar dengan selamat. Wulan berusaha melupakan kejadian barusan. Namun apalah daya pikirannya menolak. Kejadian barusan tetap memenuhi ruang kepalanya.
Wulan merasa gelisah. Ia merasa nyawanya tengah terancam. Ia sedang di awasi. Siapa gerangan yang tengah memantaunya. Wulan mengingat ingat kembali kejadian demi kejadian. Tidak ada satupun kesalahan fatal yang sudah ia lakukan. Apakah ia mempunyai musuh? Ah sepertinya tidak. Tidak ada indikasi target yang bisa menjadi musuhnya. Ia selalu bersikap baik. Begitu juga dengan orang yang baru di kenal.
Axita melihat ke wulan. Seorang anak yang duduk di ranjang di ujung kamar asrama. Axita mengamatinya. Tampak sekali ia tidak tenang. Axita berjalan mendekat. Berusaha menenangkannya walau ia tidak mengenal siapa dia.
“Permisi” Axita membuka obrolan. Memulai mencoba untuk memperkenalkan diri.
“Iya?” Wulan berusaha untuk menutupi apa yang ia rasa dengan mengubah ekspresi pada wajahnya. Ia enggan orang lain mengetahui masalahnya. Ia takut merepotkan orang lain.
“Axita” mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.
“Wulan” ia meraih tangan Axita.
“Senang berkenalan dengan kamu Wulan. Maaf aku perhatikan kamu sedang tidak tenang, apa ada masalah? ceritalah”