Chapter 8

1045 Words
Chapter 8 “Maaf, apa katamu? Maaf? Aku tidak butuh itu. Yang aku butuhkan kemajuanmu. Aku tunggu perkembanganmu segera. Kamu harus berusaha lebih keras lagi!” Mr. Exe tampak semakin menyeramkan. Kali ini tatapannnya benar benar seperti raja hutan yang kelaparan. Dapat di akui memang. Fira, Hend dan Salsabila sudah bisa mengendalikan kekuatannya. Di luar dugaan memang. Sebelumnya mereka tidak mengetahui mereka memiliki kemampuan itu. Kekuatan mereka muncul dengan tiba tiba dan tanpa dugaan di situasi yang genting. Fira. Ia bisa membuat serbuk pasir panas yang sangat panas dari kedua tangannya. Selain itu ia juga bisa berubah wujud menjadi binatang. Ia dapat menjelma menjadi binatang apapun. Mungkin hampir seperti bunglon yang bisa berkamuflase untuk bersembunyi dari musuh. Fira tidak bisa melakukan itu. Namun Fira bisa merubahnya menjadi hewan apapun dan warnanya selalu jingga kemerahan. Salsabila. Ia bisa membuat makanan apa saja sesuai dengan imajinasinya. Aku jamin siapa saja yang berada dekat dengannya tidak akan kelaparan. Ia juga bisa menyembuhkan luka gores dengan sekali usapan. Tangannya seperti tabib. Namun tidak semua luka dapat ia sembuhkan. Hend. Ia dapat mengangkat benda begitu berat dan besar serta dengan mudah melemparkannya sejauh yang ia kehendaki. Sungguh kekuatan yang luar biasa. Aku menduga kekuatannya lah yang paling besar. Lantas apa kekuatanku ? mengapa ia beranggapan kekuatankulah yang paling besar? Sementara sampai saat ini pun belum ada tanda tandanya. Mr. Exe membuang muka. Tampak sekali rasa kecewa padaku tergambar di wajahnya yang kali ini sedang tampak seperti monster. Mr. Exe meninggalkanku dengan acuh. Aku pun kembali ke kamar dengan rasa kecewa. Aku mengingat ingat kembali kalimat yang ia ucapkan. Kata katanya terus mengganggu pikiranku. “Dia bilang tujuan utama kami ada di sini adalah untuk memaksimalkan kekuatanku? Memangnya sehebat apa potensiku? Apa istimewaku?” baru kali ini aku mendengar pernyataan kalau sebenarnya aku memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, bukan orang yang payah. “Akhirnya!” Felix dan Arimbi langsung menatap ke arah Wulan. Mereka merasa heran. Ada apa sebenarnya, mengapa Wulan tiba tiba berbicara dengan nada yang begitu menggembirakan. “Ada apa si Lan?” Arimbi berjalan menuju ke arahnya. Felix juga tampak membuntuti. “heran aku sama anak yang satu ini. Tidak seperti biasanya heboh seperti ini. Kamu kenapa? Tidak sakit kan?” ucap Felix kala sampai di dekat Wulan sambil memegang dahinya yang tidak hangat. “Lihat ke depan” Wulan begitu antusiasnya menjawab pertanyaan teman temannya. Tanpa aba aba, mereka langsung melihat menuju titik di mana yang Wulan tunjuk. “Wah akhirnya Lan” Felix tidak kalah senangnya dengan apa yang ia dapati. Setelah berjuang cukup keras akhirnya Wulan kini bisa menggunakan kekuatannya. Felix sedikit terkejut. Ia tidak menyangka sama sekali. Sebuah bunga yang tengah tumbuh cantik di pot seberang sana Wulan bekukkan tampa sengaja. Awalnya ia memegang kalung yang selama ini selalu melingkar di lehernya. ‘Oh ternyata seperti itu cara kerjanya’ batin Wulan dalam hati. “Kenapa tidak dari dulu kamu melakukan itu Wulanku?” arimbi juga tidak kalah kegirangannya. “Aku maunya juga begitu. Tapi wah ini saja aku sudah sangat bersyukur, akhirnya yang dinanti-nanti” Wulan baru sadar. Ia bisa menggunakan kekuatannya hanya dengan cara memegang simbol bulan yang berada pada kalungnya. Awalnya memang tidak sengaja, namun nyatanya ini berhasil membuatnya bisa menggunakan kekuatannya. “Wah, lengkap sudah dong kita punya kekuatan” Arimbi celoteh dengan sangat bahagia. Benar sekali. Masing masing dari mereka sudah bisa menggunakan kekuatan yang mereka miliki. Tidak menutup kemungkinan juga sebenarnya mereka masih memiliki kekuatan lain, hanya saja belum ditemukan bagaimana kekuatan itu untuk digunakan. Felix, ia lah yang paling banyak memiliki kekuatan saat ini diantara mereka bertiga. Ia sudah dengan begitu ahli mengendalikan kekuatannya untuk mengendalikan serbuk pasir, melihat beberapa waktu ke belakang yang sangat terbatas dan berlari secepat kilat. Sementara itu, Arimbi hanya bisa bermain main dengan akar buatan yang ia ciptakan. Walau begitu, jangan salah. Ia dapat mengendalikan akar itu dan membuatnya dengan ukuran sesuka hati. Kekuatannya juga sangat kuat. Berbeda dengan mereka berdua yang sudah terbiasa untuk bermain-main dengan kekuatan, Wulan justru baru menemukan kekuatannya setelah penantian yang begitu panjang. Ia sangat bahagia dengan hal ini. “Lan tapi kamu harus tetap waspada. Salah satu putri Klan Matahari yang belum aku ketahui identitasnya sampai saat ini masih terus mengincarmu” lagi lagi Felix melihat hal yang tidak enak. Sekelibat sosok yang sama masih terus berjalan jalan, terkadang tanpa permisi masuk ke dalam pikirannya dan tampak sedang mengintai Wulan. Andai saja ia dapat dengan jelas seperti apa sosok itu, ia bisa mencari siapa sosok itu. “Pasti Lix. Sampai saat ini pun aku masih sangat memerlukan bantuan kalian untuk menjagaku” “Pasti aku dan Arimbi akan selalu menjagamu. Ia kan Mbi?” Felix melirik ke arah Arimbi untuk memastikan bahwa sahabatnya itu setuju. “Pasti Lan. Kami tidak akan lepas tangan begitu saja. Kami saja masih sangat sulit untuk mengetahui sosok itu. Ini sangat membahayakan kalau kamu lengah” Wulan tersenyum. Ia bangga sekali memiliki teman teman yang begitu menyayanginya. Pertemuan mereka memang dapat dibilang karena kebetulan. Namun manfaatnya sangat terasa. Persahabatan mereka begitu erat. *** “Axita?” “Apa kamu tahu siapa aku?” Napasku terengah engah. Terasa begitu sesak di d**a. “Siapa kamu?” suaraku sedikit teriak. Aku mendapati diriku yang sudah duduk dengan kaki lurus. “di mana sosoknya?” aku melihat kesekeliling. Perempuan dengan rambut sebahu tidak tampak juga di kamar ini. “Apa aku hanya mimpi? Bukankah sosoknya tadi sangat dekat denganku?” Aku merasa kebingungan. Aku tidak tahu apakah perempuan misterius itu benar benar hadir di depanku sebelumnya atau hanyalah mimpi. Posisiku juga sudah terduduk. Terakhir kali aku merasa aku bersiap untuk tidur. Apa benar aku hanya mimpi? Bagitu itu tidak penting. Yang membuatku penasaran adalah siapa sosok itu dan mengapa ia hadir dalam mimpiku? Segera aku melirik ke arah jarum jam yang tertempel dengan tenang pada dinding. Tepatnya di atas pintu. Detakannya terdengar begitu berirama. Ternyata masih malam. Aku hanya tidur beberapa menit saja. Aku tidak mau terlalu ambil pusing untuk perempuan barusan. Aku harus segera beranjak untuk tidur kembali. Aku tidak boleh telat bangun esok hari. Aku sudah tidak mau lagi menerima muka masam Mr. Exe. Apalagi ia tengah sedikit marah denganku karena kekuatan utamaku belum kunjung juga dapat aku temukan. Aku berusaha kembali untuk memejamkan mataku. Tidak butuh lama aku kembali terlelap. Namun...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD