Sebelum ke kota

1173 Words
Sabtu malam Sugi dan Dita lagi makan bakso di warung bakso tempat tongkrongan anak muda, biasa acara malam Minggu warung pasti rame buat yang punya pasangan. Tidak ketinggalan Sugi dan Dita pasangan penomenal di kampung. Sejak Sugi dan Dita jadian banyak cewek dan cowok kampung yang patah hati berjamaah. Makhluk paling tampan Sugiono dan bidadari paling cantik Dita Amelia jadian, what oh no. Banyak dari mereka yang nungguin Sugi dan Dita putus. Namun telah hampir satu tahun makin awet aja tuh hubungan. Hingga tibalah hari yang ditunggu tunggu itu akhirnya datang juga setelah Sugi menyerah dengan keadaan kampung yang gak ada maju-majunya. Disinilah mereka, di warung bakso mang Udin. "Ta, Ugi mau ke kota mencari uang buat modal kita nikah." pamit Sugi pada Dita kekasihnya. "Emang butuh berapa sih Gi, Ita kan gak minta banyak. Akad nikah sederhana juga gak apa yang penting kita sah." Dita merengut keberatan banget melepas sugi. "Ita sayang, Ugi ngarti kalau Ita tuh cinta banget sama Ugi tapi Ayah Ita mana mau anak gadisnya dinikahkan secara sederhana dan asal-asalan." Sugi alasan. "CK, Ita bantu deh ngasi pengertian ke Ayah atau pake tabungan Ita." "Sayang, Ugi tuh cowok harus tanggung jawablah masa nikah pake uang ceweknya. Enggak lama kok, tiga tahun cukupkan buat ngumpul modal. Sekarang umur Ita 17, sweet seventeen banget. Tiga tahun lagi 20 pas dong Ugi 23, usia menikah sesuai nabi." Sugi merayu Dita, gemes lihat wajahnya mulai mewek. "Ntar tiap bulan Ugi balik deh ngapelin Ita, kita pacaran puas-puasin," rayu Sugi lagi ngarap kali ini Dita mau dicium olehnya, gemesin beud soalnya bekas makan bakso pedas pedas manis pastinya. Sugi pengen banget nyium Dita di bibir tapi Dita selalu nolak, asik-asik ngasi pipi. Emak juga selalu nyium pipi Ugi kalau itu mah tapi Ita kan pacar Ugi masa sama kayak emak cium pipi, harusnya yang lebih hot dong bibir gitu. CK, "Emang kapan mau pergi," Dita nanya setelah lama terdiam. "Senin besok, Ita sayang." "Ah kan, bilangnya dadakan lagi! Ini sudah Sabtu tinggal besok dong waktu kita." Habislah runtuh sudah pertahanan Dita, air matanya jatuh berderai. "Ita jangan nangis, malu diliatin orang itu. Dikira kita putus lagi! Abang Ugi janji akan pulang nemuin Ita dua Minggu sekali deh, ya sayang cup cup cup." "Jangan selingkuh sama si Fajar," lanjut Sugi pura pura cemburu. "Aaaa...apaan sih, ih. Ugi anggap Ita cewek apaan!" sergah Dita. "Ugi mah percaya Ita, si Fajar yang Abang gak percaya." Dita bangun dari duduknya, biasa ngebayarin bakso. Kan Sugi harus ngumpul modal buat nikah, jadi acara pacaran jadi bagian Dita yang modalin. Tugas Sugi nabung buat nikah tapi gak pernah bisa ngumpul duitnya habis setor ke emak buat belanja sehari-hari. Kan Sugi kepala keluarga harus biayain sekolah adek lagi. Ayahnya telah tiada, pulang kerahmatullah saat Sugi naik kelas SMP. Selesai membayar Ita keluar dari warung, Sugi buru buru ngejar Dita. Mana bakso belum habis lagi sayang banget mubazir, sementara Sugi masih lapar. Sugi menghampiri Dita yang udah nunggu di motornya, "jadi kita pulang neh." Sugi memakai helmnya. Hm, angguk Dita ikut naik ke motor duduk di boncengan Sugi. Sepanjang jalan mereka diam, Dita memeluk Sugi erat di pinggang, menyandarkan palanya di pundak Sugi. Sugi senyum-senyum ngerasain s**u empuk Dita di punggungnya. Sampai di rumah, Sugi ikutan turun mau setor muka sama ayah dan ibu Dita. "Mana, kok rumah ayang sepi?" tanya Sugi. "Iya gak biasanya." Dita juga heran lalu ngecek ponselnya, panggilan tak terjawab dari Ayah 10 kali dan satu pesan masuk. Bisa gak dengar, apa nada silent? Pantesan. [Ayah dan ibu ke rumah nenek, Ita kunci pintu yang rapat ya. Nenek sakit, makanya nginap], tulis ayah di pesannya. "Mendadak sih, ah!" sungut Dita yang ketakuan gak pernah sendirian di rumah. Dita memberi Sugi membaca pesan dari ayahnya, "Ita mau Sugi temani?" Sambil menelan liur Sugi menunggu jawaban Dita. "Hm," angguk Dita. Yes, Sugi bersorak dalam hati. Motornya ditarik ke dalam Gi, ntar ada yang liat Ugi nginap bisa bahaya." Dita memperingatkan Sugi. "Atau Ugi pulang dulu ngantar motor, terus balik lagi jalan kaki. Nntar kita digrebek orang kampung lagi, tau Ugi nginap di rumah Ita." usul Sugi. "Iya, maksud Ita juga gitu. Nanti masuknya lewat belakang ya, ada jendela, Ita sengaja gak ngunci." Hehe, kedua orang tersenyum malu-malu. Senang banget bisa berdua malam ini, moment yang tepat sebelum perpisahan. "Baiklah Ita sayang, Ugi pulang dulu!" pamit Sugi. "Kissnya, mana?" Sugi sengaja memonyongkan mulutnya.Cup, eh beneran dikecup Dita. Mata Sugi membulat gak percaya, bibir Dita nempel di bibirnya mana lengan Dita ngalung di leher Sugi lagi. Ah, eumph.Kesempatan Ugi ngelumat, memeluk pinggang Dita semakin menempel di tubuhnya. Dita ngerasa aneh bibir Sugi, mulut agak anyep gimana gitu tapi dicobanya menikmati lama lama hilang juga anyepnya. Malah enak, Dita lupa diri saat tangan Ugi ngeremas nenennya yang mengkal. "Ah," desah Dita. "Eumpph," desah Ugi semakin nafsu. Lidah saling bertaut mencium semakin dalam, tubuh Sugi dan Dita menegang. Ini pertama buat mereka berdua ciuman nyata. Kalau ngebayangin sih udah sering kali Sugi mandi junub mimpiin Dita. Ahh, merasa ngap Sugi melepas pagutan setelah berciuman dengan durasi yang cukup lama. Ah, "Sayang, Ugi pulang dulu ya. Nanti kita lanjut lagi." pamit Sugi nafas masih memburu, mengusap bibir basah Dita. "Jangan gak datang tau, Ita takut." Si gadis merengek manja. "Iya cintaku, abang pasti datang. Apalagi dikasih ciuman seperti barusan." Sugi cengengesan. "Ehm, emang enak?" tanya Dita senyum menggoda. "Banget, Abang gak nahan neh dede dah bangun. Abang pulang dulu ya, ambil pengaman." ujar Sugi yang diiyakan oleh Dita. Seriusan neh, malam ini kita buka tuh tanggul, batin Sugi memandang Dita gak percaya. "Ehm, udah sana!" Dita mendorong Sugi sekalian ngantar ke teras depan. Setelah kekasihnya itu hilang dari pandangannya, Dita mengunci pintu, masuk ke kamar mandi mau cebok. Ada yang basah di bagian tengah tubuhnya. Selesai pipis Dita ke kamar, ganti baju tidur agak terbuka dan tipis lalu baring membayangkan tidur dengan Sugi malam ini. Pintar juga Sugi, pakai pengaman biar gak hamil. Cewek kota kan cakep dan genit genit, pergaulan bebas bisa bisa Sugi kecantol habis deh perjakanya dimakan cewek kota mending kasih buat Ita. Satu jam kemudian. Krek krekk. Dita tersadar membuka matanya mendengar suara jendela, kayaknya ada yang congkel. Dita ketakuan. Sudah terlelap jadi terjaga seketika. "Ita, Ugi neh." Oh iya kirain orang jahat, dalam hati Dita lega, dia lupa masalah jendela. "Maaf, Ita ketiduran." ucapnya setelah membuka engselnya. Benar saja wajah Sugi tersembul. "Enggak apa apa, lebih baik dikunci. Kan Ugi bisa manggil dari pada orang lain yang masuk duluan saat Ita ketiduran." Sugi melompat masuk ke dalam kamar, jendela agak tinggi jadi Sugi harus manjat dikit. "Kamu seksi banget sih sayang, sengaja ya mau godain Abang." Sugi memandang Dita yang transparan. "Ya udah, Ita ganti deh." "Eh eh jangan dong, Abang dah beli neh." Sugi memberi Dita plastik tulisan apotik. "Apa neh?" tanya Dita, mengeluarkan isinya mengerut dahi. "Anu," Sugi garuk garuk kepalanya yang gak gatal. "Kita kan mau buka sayang, gak enak kalau itunya abang dibungkus k*ndom. Mendingan Ita yang minum itu pilnya." Sugi deg degan menunggu reaksi Dita ________bersambung. Jumpa lagi. Jangan lupa tap love nya guys, follow akun juga biar terus terupdate.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD