Pov Mahesa.
Hari ini aku pergi ke salah satu rumah rumah sakit jiwa di kota ini. dimana asisten setiaku James sudah menemukan tempat ibu Kanaya dirawat. Betapa terkejutnya Aku saat mengetahui kalau Ibu Kanaya adalah ibu yang dulu pernah menolongku. Berarti Kanaya adalah gadis kecil yang sering menghiburku dan aku jatuh cinta pertama kali kepadanya. Lucu memang cinta semasa kecil. Tetapi aku benar-benar mencintai gadis kecil itu. Gadis kecil yang sering aku panggil dengan nama Aya.
Kanaya adalah cinta pertama ku, cinta masa kecilku. Saat aku kehilangan orang tua ku dan aku terlantar karena rumah ku disita dan aku sama sekali tidak mengerti kenapa orang-orang dewasa begitu kejam. Saat itu aku masih kecil dan belum mengerti apa-apa. Aku bertemu ibu dari Kanaya. Beliau lalu selalu memberiku makan dan sedikit uang setiap kali beliau pergi kepasar. Ibunya akan meninggalkan Kanaya bersama ku sampai dirinya selesai berbelanja. Saat ibunya berbelanja Kanaya sibuk menghiburku kami bernyanyi bersama sehingga orang-orang pikir Aya dan aku adalah seorang pengamen.
Aku jatuh cinta kepadanya dan terus mengingatnya. usia ku dan dirinya terpaut lima tahun karena itu Aya memanggil ku kakak. Wajah Ibu Kanaya sangat aku ingat dan di minggu berikutnya aku tidak pernah lagi bertemu dengan Kanaya ataupun ibunya. Aku berjanji akan mengingat mereka dan mencari Kanaya saat aku sudah menjadi orang yang sukses dan kaya. Namun aku tidak menemukan mereka. Tidak aku sangka ternyata Kanaya adalah anak dari orang yang telah membunuh kedua orang tuaku dan aku rasa dendam ku sudah terbalaskan karena ayah Kanaya juga sudah tiada.
Aku berniat menculik Kanaya karena aku memang menyukainya. Jauh sebelum aku mengetahui kalau dia adalah cinta pertama ku. Namun wanita ini sangat keras kepala, aku tau kalau dia ingin menghancurkan ku. Kanaya menolak untuk menjadi kekasih ku. Itu membuat aku semakin kesal dan ingin membuatnya menurut kepada ku. Lalu muncullah sifat arogant yang ada pada diriku. Karena sebelumnya tidak pernah ada wanita yang menolakku, mereka akan dengan suka rela datang ke pelukannku. Aku tidak pernah mengencani wanita yang tidak aku sukai seberapa cantik atau seksi tubuhnya.
Aku harus membuat Kanaya menuruti keinginan ku. Karena itu aku mencari tau tentang keberadaan ibunya yang selama ini Kanaya sembunyikan dari ku. Akhirnya berkat kerja cekatan James aku menemukannya lalu menjadikan ibunya sebagai alasan untuk Kanaya mau menjadi kekasih ku, kekasih seorang Mahesa Ambarata. Setelah mengetahui kalau Kanaya adalah gadis kecil cinta pertamaku. Aku semakin jatuh hati kepadanya. Aku tau aku selalu menakuti dan menyiksanya tetapi itu bukan keinginan ku. Aku sebenarnya adalah pria yang lembut dan sangat menghormati wanita serta memperlakukan mereka dengan kelembutan dan kasih sayang. Sehingga setiap wanita yang aku kencani selalu merasa candu akan kelembutan ku kepada mereka dan ingin menjadi kekasih seorang Mahesa.
Tetapi berbeda dengan Kanaya , aku tau dia memiliki batas kemampuan untuk menahan gairahnya. Aku dapat merasakan itu saat dirinya mulai membalas ciuman lembut dari bibirku. Namun aku akan tetap menjaga dirinya aku akan menyentuh dirinya jika dia menyerahkan dirinya dengan sukarela kepada ku. Karena aku juga membutuhkan cintanya bukan hanya tubuhnya.
Kali ini aku harus mulai bersikap lembut kepadanya. Aku ingin memenangkan hati Kanaya. Aku berkata pada James agar para suster merahasiakan kalau diriku sering menemui ibu Kanaya.
Aku menghubunginya dan menyuruhnya membuat kue yang sering ibu Kanaya buatkan untuk ku dulu. Dan aku senang dia membuatkannya khusus untuk ku. Aku mengetahui dari ibu Kanaya kalau Kanaya pandai membuat kue, "Nak tampan, Kanaya itu pandai membuat kue pie madu. Ibu yang sudah mengajari Kanaya sewaktu dia SMA" itu yang beliau katakan dan ibu Kanaya juga belum mengetahui siapa diriku? Sebab aku mengatakan kalau aku adalah teman kerja Kanaya. Aku mengatakan kalau Kanaya saat ini sedang sibuk bekerja. Ibu Kanaya percaya dengan apa yang aku katakan.
Kanaya menemaniku makan malam sesuai dengan pinta ku kepadanya. Kanaya hari ini mengenakan lipstik dengan warna lembut aku tersenyum dan menatapnya. Aku paham dari gerak tubuhnya dia sedikit canggung saat aku memberikannya senyuman setelah aku menciumnya. Aku juga mengatakan kata sayang kepadanya dan aku melihat Kanaya seolah tidak suka dengan kata sayang yang aku ucapkan. Ini menjadi satu poin untuk ku, aku tidak akan mengulangi apa yang menurut Kanaya tidak suka.
Aku merasa lelah. Aku lalu menariknya menuju kamar ku. Kanaya sedikit takut mungkin dia masih bingung akan sikap ku yang berubah menjadi lembut. Aku mulai menciumnya kali ini aku dengan penuh kasih karena wanita yang saat ini bersama ku adalah cinta pertamaku. Aku merasakan dia menyambut ciuman ku dan tubuhnya bergetar saat aku mencium tengkuknya. Oh...Aku tidak boleh lepas kendali, aku harus bersabar dan menahan gairah ku meski aku sangat menginginkannya. Aku harus ingat kalau aku ingin mendapatkan hati Kanaya dan cintanya bukan hanya tubuhnya saja. Aku membisikkan ketelinganya agar dia menemaniku tidur malam ini. Dan kami pun tertidur dalam pelukan hangat.
Aku terbangun pukul dua pagi masih dengan posisi memeluk Kanaya. Baru kali ini aku dapat tidur tanpa obat penenang atau tanpa melakukan seks seperti biasanya dengan wanita-wanita teman kencan ku. Aku menatap wajah cantik Kanaya, matanya, bibirnya membuat aku akan terus memujinya. Ternyata aku jatuh cinta pada wanita yang sama. Baik sewaktu dia masih kecil atau pun dewasa saat ini. Aku berpikir mungkin Tuhan sudah mentakdirkan kami untuk bertemu kembali. Aku kembali memeluknya dan mulai tertidur. Tidak lama Kanaya terbangun dan mencoba melepaskan pelukanku. Aku rasa dia ingin kabur namun aku semakin mengeratkan pelukanku pada tubuhnya. Dan tidak lama dia pun kembali tertidur.
Cahaya mentari pagi mulai memasuki kamar tempat aku dan Kanaya menghabiskan malam. Aku masih melihat Kanaya tertidur dengan pulasnya. Aku lalu mengecup bibirnya dan dia pun merasa terusik lalu membuka matanya, "Selamat pagi Kanaya" sapa ku kepadanya dan dia menjawab sapaan ku, "Pagi Mahesa, permisi aku mau kekamarku!" pintanya dan aku tidak bisa melarangnya aku lalu mempersilahkannya, "Aku tunggu kamu dimeja makan untuk sarapan.ingat aku tidak suka menunggu!" ucapku dan Kanaya langsung bergegas meninggalkan ku sendiri dikamar ku.
Bersambung.