Kinasih si gadis kampung

1297 Words
Kinasih, sebuah nama yang berarti seseorang yang dikasihi. Sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi padanya saat ini, dimana dia telah disakiti dan menyakiti seseorang. Asih begitulah dia dipanggil oleh Abah dan semua orang di kampung. Dalam sebuah gerbong kereta, Asih duduk sambil menatap jendela melihat pemandangan, namun tatapan itu kosong dan penuh beban pikiran. Asih dalam perjalanan menuju kampung halamannya setelah Zoe teman baik sekaligus teman kerjanya yang langsung menyuruh Asih pulang kampung segera setelah dia mendapat telepon mengenai kondisi Ayahnya yang sempat pingsan dikarenakan sakit. Berat bagi Asih untuk pulang karena hal yang terakhir yang dia ucapkan kepada Ayahnya itu adalah hal yang sangat menyakitkan. DItambah Ayahnya itu meminta Asih untuk pulang dengan membawa seorang suami, sungguh permintaan yang konyol. Hal itu takan mungkin Asih lakukan mengingat permintaanya sangat mendadak, ditambah dia juga baru putus dari pacarnya yang ketahuan selingkuh dihari ulang tahunya. “Abah.. Apa yang dia pikirkan? masa tiba-tiba harus bawa suami?” Gerutu Asih sambil melihat petani yang sedang menanam padi dari jendela kereta itu. Area persawahan yang sudah tidak asing lagi bagi Asih, Tempat dimana Asih menghabiskan masa kecilnya bersama teman-temanya. Terlihat sebuah tebing yang dulu Asih hampir terjatuh di sana. “Tebing itu, aku hampir jatuh dari pohon jambu yang aku naiki di ujung tebing itu. Untung saja anak kota itu menjadi pahlawan dadakan dan menyelamatkan aku." Dia bernostalgia dengan masa kecilnya yang membuat dia terlupa akan ketegangan dia bersama Ayahnya. Waktu itu Asih masih berumur sembilan tahun, Asih seorang anak perempuan yang tomboy dan ceria, dia selalu mengenakan kaos dan celana pendeknya. Rambutnya sebahu cenderung pendek untuk ukuran anak perempuan. Lutut dan sikut nya penuh luka dan pipinya kotor bekas ingus yang dia lap menggunakan tangan hingga mengering. Sifatnya yang tomboy membuatnya lebih sering bermain dengan anak laki-laki daripada anak perempuan di kampungnya. Bahkan dia menjadi ketua dari perkumpulan anak laki-laki sepermainannya. Hari itu Asih bermain dengan kerbau mang Jajang. Dia ikut memandikan kerbau di barengi Ogi dan Asep teman satu geng nya. Asih melompat menaiki kerbau itu dengan gaya, matanya berbinar seperti orang yang menaiki motor impiannya. Kerbau itu kaget ketika Asih tiba-tiba menaiki punggungnya, hewan pembajak sawah itu berlari ke arah jalan desa yang aspalnya sudah banyak batuan yang tercongkel hingga membentuk lubang. Ada seorang anak laki-laki lain yang sedang berjalan di jalan itu. Bajunya putih bersih dan rapi, memakai celana jeans dan sepasang sepatu. Asih yang tak bisa mengendalikan kerbau itu dan menabrak anak kota itu. Alhasil anak laki-laki itu terpental ke sawah bersama Asih. Anak kota itu jadi berlumuran lumpur yang menyelimuti tubuhnya, dia tidak marah dan hanya diam ketika dirinya terjatuh. Asih panik dan buru-buru bangkit dari jatuhnya untuk melihat anak itu. “Kamu gapapa?” tanya asih. “Eh.. iya gapapa.” Sepertinya anak itu sedikit pendiam, dia tidak marah sedikitpun pada Asih yang telah menabraknya dengan kerbau. Asih yang sifatnya bertolak belakang dengan anak itu ingin meminta maaf tapi dengan caranya sendiri. Dia mengangkat tangan anak itu dan langsung membawanya ke sungai bersama teman-temanya yang lain untuk membersihkan diri. “Barudak, sekarang saatnya kita adu keberanian.” Teriak Asih. “Wah kita mau lakuin itu lagi?” tanya ogi. “Iya dong, ayo kita lompat!” "Yuhuuu…!" Ogi dan Asep melompat dengan riang gembira dari sawah ke sungai yang ada dibawahnya. Tinggi nya memang tidak seberapa, mungkin sekitar satu atau satu setengah meteran. Namun bagi anak yang sembilan tahun ini adalah tes keberanian. Asih melihat anak itu yang sedikit ketakutan untuk melompat ke sungai, dia tahu bahwa anak itu dari kota saat melihat bajunya yang bagus. Tapi bukan hal itu yang dia perhatikan, sifatnya yang diam lebih ke murung membuat Asih ingin menunjukan bahwa permainan di kampung jauh lebih menyenangkan daripada di kota. “Ayo, Ga apa-apa ko.” Asih memegang tangan anak itu dan meyakinkanya untuk melompat. Anak itu tersipu malu, karena ada gadis cantik yang periang memegang tangannya. Walau masih berumur sepuluh tahun, dia yang tak terbiasa bergaul dengan perempuan dibuat canggung dengan Asih yang begitu bebas riang gembira. Tanganya ditarik sebelum dia siap untuk melompat, tubuhnya yang mungil membuat Asih dengan mudahnya menarik anak itu dan melompat. “BYUUUR!” Asih muncul ke permukaan air, Ogi dan Asep tertawa tapi tawa mereka menjadi kepanikan setelah anak kota itu tidak muncul-muncul. Mereka saling menatap dan menyalahkan Asih karena mengajaknya melompat. Setelah beberapa detik kemudian anak itu muncul dan tertawa lepas kegirangan dengan pengalaman barunya itu. Asih dan teman-temanya yang sedang panik kemudian tertawa melihat anak kota yang kegirangan itu. Setelah membersihkan diri di sungai, Asih berkata bahwa tes keberanian itu masih belum selesai. “Dak, ayo kita lakukan uji keberanian level dua!” “Wah dimana itu?” tanya ogi. “Di pohon jambu.” “Pohon jambu itu?” “iya, kita kesana!” “Ah.. yang benar saja!” Ogi dan Asep sedikit takut ketika Asih mengajak mereka ke tempat selanjutnya. Bukan apa-apa, tempat itu merupakan tempat dimana orang tua mereka melarang mereka untuk bermain di sana, namun asih tetap memaksa mereka. Sampailah mereka di tempat uji keberanian yang kedua, Asih menjelaskan siapa saja yang bisa mengambil buah jambu, akan diakui sebagai anak paling berani di kampung. Pohon jambu itu pendek dan buahnya banyak, namun letak pohon itu yang jadi hal yang membuat Ogi dan Asep enggan memanjatnya. “Apa? kalian tak berani? sini biar aku duluan.” Asih yang ingin pamer pada anak kota itu, memanjat pohon jambu yang berada di ujung tebing yang sangat tinggi. Tanah yang berjatuhan sedikit demi sedikit diantara akar pohon jambu membuat mereka semakin tegang, sedangkan Asih tak menghiraukan itu sama sekali. Asih meraih buah jambu yang terdekat dan cukup besar, dia berbalik ke arah teman-temanya itu dan tersenyum. Asep dan Ogi bertepuk tangan sedangkan anak kota itu kagum dengan apa yang dilakukan oleh Asih. “KREEEEK!” Suara aneh terdengar ketika Asih akan turun dari pohon itu! Ogi dan Asep panik dan pergi meninggalkan Asih. Asih sempat kesal ketika hal buruk terjadi mereka malah meninggalkanya, walau kesal Asih tetap berusaha turun dari pohon itu. Asih masih mempertahankan buah jambu yang ia bawa, padahal jika dia membuangnya, dia akan lebih mudah untuk menuruni pohon tersebut. “Krek,” suara itu terdengar kembali, namun kali ini dibarengi pohon jambu itu yang perlahan turun dan seperti akan jatuh ke bawah tebing. Asih mulai takut saat itu dan tak bisa turun ketika pohon jambu yang ia naiki perlahan miring ke arah luar tebing. Jambu yang ia pegang terjatuh dan seketika hancur ketika sampai ke dasar tebing. Hal itu membuat Asih semakin takut, dia hanya bisa pasrah dengan memegangi dahan pohon iu, dia menutup matanya seolah bersiap dengan semua kemungkinan yang ada. Mata yang ia tutup rapat-rapat seketika terbuka ketika dia mendengar suara lantang yang berteriak kepadanya. “LOMPAT!” Rupanya si anak kota itu masih belum pergi seperti teman-teman Asih. Dia dengan lantang berteriak lompat! Padahal dia anak cowok yang cuek dan pendiam ketika bertemu, namun dia sangat peduli pada Asih yang baru saja dia temui. Asih pun melompat dan merentangkan tangannya berusaha meraih tangan anak itu yang sama-sama merentangkan tangannya. Dia berhasil meraih tangan anak itu tepat waktu, sebelum Pohon jambu uji keberanian itu roboh dan terjatuh ke dasar tebing. Namun masalah baru muncul, tubuh anak kota itu yang tidak terlalu besar mulai tertarik oleh Asih yang masih tergantung di tangannya. Anak lelaki itu berusaha menggenggam tangan Asih dengan kedua tanganya. Giginya merapat dengan kuat tanda dia sedang menggunakan seluruh kekuatannya. Namun tanah tebing yang rapuh itu membuat pijakannya hancur. Tubuh anak itu melayang, matanya melotot tak percaya bahwa dia akan ikut terjatuh bersama Asih dari tebing yang tingginya lima meteran itu. Jantungnya seakan berdetak dengan lambat, semua kejadian itu terasa seperti slow motion, dia menatap Asih yang sedang menangis ketakutan. namun dia tak bisa apa-apa dan jatuh bersama Asih dari tebing itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD