Dimana aku harus mencari?

811 Words
Dalam kesunyian di suatu rumah sakit, Suara tangisan Asih terdengar sampai keluar ruangan. Air matanya tak mampu lagi ia bendung melihat Ayahnya yang lemas tak berdaya. Bi Ningsih menghampiri Asih, dia memegang pundak gadis yang sedang menangis itu lalu membelai rambutnya. “Ayo kita keluar, biarin Abah beristirahat dengan tenang.” “ABAAAH..” “Jangan berisik Asih, nanti Abah bangun!” “Bangun? kirain Abah..” “Abah cuman tidur.” “NGROOOK!” Terdengar suara dengkuran Abah yang kencang, Asih kebingungan dengan apa yang terjadi, lalu Bi Ningsih membawa Asih keluar. “Abah cuman tidur bi?” Tanya Asih yang masih kebingungan. “Iya, akhir-akhir ini sering gitu, kadang lagi ngobrol tiba-tiba tidur.” “Ya Allah, Abah bikin jantungan aja.” “Tapi tentang kanker dan usia Abah yang bentar lagi itu bener.” “Sejak kapan bi? Setau Asih Abah ga ngeroko.” Bi Ningsih menceritakan bahwa Ayahnya Asih mulai menghisap tembakau itu semenjak dia bertengkar dengan Asih. Abah adalah sosok yang paling menderita karena kehilangan istrinya, dimana ladang sayuran yang ia jaga merupakan hasil dari kerja-keras mereka. Sayuran yang ditanam di ladang itu tumbuh besar, segar dan menyehatkan, bahkan keduanya disebut pahlawan desa karena mengedukasi para petani di kampung serta memperkerjakan para pengangguran di ladang mereka. Namun, seperti kata pepatah, orang baik selalu dipanggil Tuhan dengan cepat. Ibu Asih meninggal ketika Asih berumur tujuh belas tahun, umur dimana Asih memulai kedewasaan dan perlu pendukung yang bisa mengarahkan dirinya ke jalan yang baik. Abah yang mencintai istrinya sepenuh hati merasa kehilangan yang amat dalam, dia menghabiskan seluruh waktunya untuk merawat ladang sebagai kenangan dari mendiang istrinya. Sikap Abah yang tak mau kehilangan kenangan istrinya itulah yang membekas di hati Asih. Anak perempuan yang sedang tumbuh menjadi dewasa itu mempunyai hati yang labil, jiwa pemberontak yang tinggi dan ingin kebebasan. Peran orang tua untuk mengarahkan, adalah hal yang diperlukannya saat itu. Namun Asih hanya mendapatkan pil pahit kehidupan. Ibunya meninggal dan Ayahnya sibuk dengan pekerjaanya di ladang membuat Asih merasa hidupnya hanya sendirian. Setahun setelah ibunya meninggal, Asih memutuskan untuk berkuliah di Jakarta. Kota metropolitan yang modern dan maju diana Asih ingin mencari keramaian setelah satu tahun merasa hidup dalam kesendirian. Abah tentu saja menolak keinginan Asih tersebut. Seorang Anak ABG yang mulai memberontak itu berdebat panas dengan Ayahnya yang sedang frustasi, membuat pertengkaran diantara mereka tak bisa dihindari. Dan seperti yang bisa ditebak, akhir dari pertengkaran itu adalah kepergian Asih meninggalkan Ayahnya sendirian. Ayahnya kini tinggal sendiri di rumah besarnya di kampung. Dia kehilangan dua wanita yang berarti dalam hidupnya. Parahnya dia menyalahkan dirinya sendiri atas kehilangan itu dan mulai menghisap rokok untuk menenangkan diri. Pria malang itu hancur, sikapnya yang ramah menjadi pemarah. Para pegawai diladangnya kena semprot mulutnya, padahal mereka tidak melakukan kesalahan. Satu persatu para pegawai yang sudah seperti sahabat Abah itu mulai meninggalkannya, mereka tak sanggup bekerja dengan baik jika sikap Abah masih seperti itu. Abah yang masih belum berdamai dengan dirinya menganggap bahwa semua yang meninggalkanya tidak pernah peduli terhadapnya. Dia bernafsu untuk mengurus ladang besarnya itu sendirian, Siang ataupun malam, panas maupun hujan, dia selalu merawat lahannya sendirian. Tubuhnya yang dahulu besar berisi, menjadi kurus. Sesekali Bi Ningsih mengunjungi rumah Abah untuk memberi makanan dan membantu untuk membereskan rumah yang berantakan itu. Namun makanannya sangat jarang Abah sentuh, Rokok yang ia hisap pun bukan dalam jumlah yang normal lagi. Adik kandung dari Ayahnya Asih itu menceritakan semua yang terjadi kepada Asih. Asih pun kembali meneteskan air mata, dia tidak menyangka bahwa orang yang dianggap tidak menyayanginya lagi setelah ibunya meninggal, adalah orang yang lebih menderita dari Asih. Dia yang kehilangan istrinya kemudian kehilangan anak kesayangannya, teman-temanya dan sekarang dia hampir kehilangan tubuhnya. Asih bertekad untuk mengabulkan keinginan terakhirnya untuk menikah dengan anak soleh, dia sudah muak dengan pacaran apalagi pacaran dengan anak nakal. Setelah berbicara dengan Bi Ningsih, Asih membuka telepon genggamnya dan menelpon sahabat baiknya di kota. “Halo Kinan? Gimana keadaan Abah lo?” Kinan adalah nama yang dipakai sahabat dan teman-temannya di kota untuk memangil Asih, dia menganggap nama Asih terlalu kampung sehingga tak mau dia gunakan lagi. Asih menceritakan semua yang terjadi kepada sahabatnya itu. “Lo yakin mau nikah?” “Iya, lo ada calon ga? tapi yang soleh?” “Kehidupan berumah tangga ga semudah yang lo bayangin. Gua juga nikah karena ada bayi didalam perut gua. Kalo ga ada, gua gak pengen nikah." “Itu si karena salah lo sendiri, coba lo ikutin gue buat ngejaga keperawanan.” “Apaan si jadi gua yang di ceramahin!” Jawab kesal Zoe. “Jadi lo punya calon ga?” “Kalo lelaki yang soleh gua ga punya kenalan.” “Iya temen lo b*****t semua, terakhir yang lo kenalin juga mutusin gue karena gue ga mau gituan ama dia.” “Hehe maaf maaf. Tapi untuk mencari cowok soleh gua tau kita harus kemana!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD