“Hah, seriusan?” tanya Aurora yang merasa penasaran dengan perkataan Jasmin. “Bukan Langit, itu pengunjung lain yang datang.” Jasmin tertawa karena mampu membuat pipi seorang Aurora memerah. Tak disangka, tidak lama kemudian, Langit benar datang ke tempat itu. “Maaf, gue terlambat. Soalnya ada beberapa hal yang harus diurus terlebih dahulu, jadi sekarang bisa dimulai?” tanyanya sembari menarik kursi yang ada di sebelah Aurora. “Lo udah bikin Aurora menyerah buat pulang dengan tangan kosong. Lo udah paham kan sama tugasnya? Kalau sudah paham, sekarang bisa langsung mulai untuk project.” “Pahm, sih, tapi ini enggak ada air minum? Gue gerah, nih,” kata Langit sembari menatap ke arah Aurora dan Jasmin secara bergantian. Aurora pun memesan minuman dan makanan yang ke-dua kalinya. Bisa dika

