Langit senja di Bandara Soekarno Hatta tidak seperti biasanya. Matahari terasa begitu dekat membuat langit berwarna oranye terang bercampur dengan awan kelabu. Seolah langit ingin menangis tetapi ditahan sekuat tenaga denga menunjukan pacaran sinar yang menghangatkan hati. Seakan menggambarkan perasaan hatiku saat ini.
"Gita, bisakah kamu tetap disini bersamaku. Maafkan aku.. Aku tau aku yang bersalah pada kamu.. Aku mohon tetap bersamaku disini.. Beri aku kesempatan perbaiki ini sekali lagi" - pinta Aldo lemah sambil memegang tangganku yang hendak berjalan meninggalkannya.-
"Maaf Al.. Aku rasa gak akan bisa lagi kita perbaiki ini semua.. sudah cukup juga 8 tahun aku kasih kamu kesempatan untuk berubah, tapi penantian aku ternyata sia-sia" - Aku melepaskan tangan Aldo dan berbalik meninggalkannya.-
Beberapa saat aku tediam, lalu berbalik lagi kearah Aldo.
"Al... Rumah tangga dibangun dengan saling percaya, menjaga dan perduli, sementara yang selama ini aku rasa kamu gak pernah percaya aku, dan gak pernah perduli akan lelahku.. Jika cuma satu pihak yang bekerja keras mempertahankan sebuah hubungan, selamanya gak akan bisa berjalan baik Al. Ini yang perlu kamu ingat sampai nanti, seandainya kamu menemukan yang lebih baik dari aku.." - kataku sambil memeluknya untuk yang terakhir kalinya, lalu bergegas pergi meninggalkannya yang terdiam memaku.-
"Enggak Git.. Aku akan tunggu kamu kembali.. Aku tunggu kamu gita..!! Ingat Gita aku pasti nungguin kamu disini Gita...!!" - kata Aldo berteriak setelah sadar dari lamunannya, sementara aku sudah masuk ke dalam Departure Area tanpa menoleh lagi ke arah Aldo.-
'Aku ingin lihat bagaimana kamu saat benar-benar jauh dari aku Al.. Dan semoga aku pun bisa menemukan jawaban yang selama ini aku cari saat aku jauh dari kamu. Kamu pun bisa tanya hatimu, apa benar kamu mencintai aku atau hanya karna sudah terlanjur bergantung hidup padaku Al' - bisikku dalam hati, tanpa sadar ada setetes air bening menetes dari sudut mataku.-
***
"Para penumpang yang terhormat saat mendarat sudah dekat. Kencangkan sabuk pengaman dan tegakkan sandaran kursi anda.................."
Suara awak kabin memecah lamunanku tentang jalan hidupku yg begitu berliku.. Baru kali ini perjalanku ke Bali begitu hambar dan sepi, pun karna aku pergi seorang diri tidak seperti saat berlibur ke pulau itu.
Aku memutuskan meninggalkan Jakarta dan menetap di Bali tanpa ada satu pun yang aku kenal disana, hanya membawa 1 koper berisi pakaianku, dan 1 tas berisi barang-barang dan keperluanku lainya dan juga sisa uang 500ribu rupiah,,, iya benar,, hanya LIMA RATUS RIBU RUPIAH...!! Jumlah yang sedikit untuk ukuran orang yang mau menetap di Bali tanpa kenal siapa pun atau tau apapun tentang pulau ini.
Bisa di bilang aku pergi hanya dengan modal nekat. Aku pergi untuk menghindar dari Aldo, karna jika aku terus berada didekatnya, aku gak akan pernah sampai hati memutuskan berpisah darinya.
".......periksa kembali barang bawaan anda dan hati-hati melangkah........"
Langit sudah gelap saat aku sampai disini, setelah mengambil koperku aku berjalan pelan menyusuri lorong bandara Ngurah Rai Bali. Sesampainya diluar aku langsung menaiki taxi.
"Pak, ke kuta jalan Poppies II ya.." - ucapku dengan yakin, seperti biasa yg aku lakukan di Jakarta kalau pergi naik taksi.-
"Gak pakai argo tapi ya geg" jawab sang supir,
'Geg' adalah sebutan/panggilan untuk perempuan yg usianya lebih muda di Bali, setidaknya setauku begitu karna pernah beberapa kali liburan ke Bali sebelumnya.
"Kenapa gitu pak??" - tanyaku
"Udah malam soalnya.." - jawabnya lagi
'Apa hubungannya sudah malam sama argo taksi, kayanya gw salah naik taksi nih' - Makin bingung dengan jawabannya, aku hanya bisa protes dalam hati.-
"Terus berapa ke poppies pak" - langsung tanyaku tanpa basa basi karna sudah tau arah negosiasi kita.-
"150rb geg" - tegasnya.
"Yaudah pak, tolong anter ya pak.." - ucapku pasrah
Sesampainya di salahsatu hotel ah lebih tepatnya penginapan murah di daerah Poppies Lane II, aku langsung menuju resepsionis menanyakan kamar yang sudah aku pesan jauh hari saat masih di Jakarta.
"Selamat malam, nama saya Arya ada yang bisa saya bantu kak?" - tanya laki-laki yang berdiri tegap di balik meja resepsionis.-
"Oh.. Hai... Saya sudah pesan kamar atas nama Rania Gita Kirana" - kataku kepada resepsionis penginapan itu.-
"Sebentar coba saya cek dulu nggih" - jawabnya dengan logat Bali kental sambil melihat layar komputer diatas mejanya.-
"Ok. makasih Bli.." - jawabku sambil menatap sisa uangku karna terpaksa membayar taksi dengan harga cukup mahal untuk jarak yg tidak begitu jauh.-
"Atas nama Rania Gita Kirana nggih" -tanya Arya lagi memecah lamunanku.-
"Iya Bli.." -
"Kamarnya untuk 5 hari nggih, kamar sudah termasuk sarapan pagi, Ini kuncinya, kamar 12B, setiap pagi breakfast nya dari jam 7 sampai jam 10 pagi nggih kak, ada roti kopi dan nasi goreng, kalau butuh bantuan bisa panggil saya kami juga menyediakan penyewaan motor, mobil atau tour guide kami juga bisa bantu, silahkan tanya-tanya untuk harga dan lebih jelasnya nggih kak, mari saya antar kekamar kak" - jelasnya cepat.-
"Oh ok kak.. Eh Bli" - jawabku setengah tertegun karna tanpa sadar aku baru memperhatikan laki-laki dihapanku ini memiliki paras yang cukup tampan dengan tubuh tinggi dan kulit sawo matang dan senyum yang mempesona.-
"Mari saya bantu bawakan kopernya kak" - ucap Arya sambil meraih koperku yg lumayan berat juga.-
"Oh iya bli, makasih ya" -
Sesampainya didepan kamar, aku sudah membayangkan mandi air hangat lalu merebahkan badanku diatas kasur. Entah mengapa perjalanan kali ini benar-benar membuat ku sangat lelah.
Arya meletakan koperku didepan kamar
"Terimakasih kak, selamat beristirahat, jika butuh apa pun, tinggal panggil saya nggih, saya ada didepan" - ucap Arya sambil menangkupkan telapak tangannya didepan dadanya.-
"Oh iya iya Bli.. Terimakasih banyak ya" - jawabku sambil ikut menangkupkan telapak tanganku seperti Arya.-
Setelah Arya berjalan meninggalkan aku sendiri, dengan cepat aku membuka pintu lalu memasukan barangku ke kamar dan dengan segera menyelesaikan apa yang sudah aku bayangkan tadi.
"Akhirnya......" - ucapku lega sembari merebahkan badanku diatas kasur dalam benakku.- 'besok aku harus segera mencari pekerjaan dan tempat tinggal sekaligus, tapi apa, pembantu kah?'
Entah mungkin karna benar-benar lelah setelah aku merebahkan badanku diatas kasur aku pun langsung tertidur begitu saja..
Sampai bunyi notifikasi messenger mungkin lebih dari sepuluh kali mengembalikanku dari alam bawah sadarku. kulihat jam di ponselku menunjukan pukul 12.30 WITA. Ternyata Gadis yang mengirimiku pesan bertubi-tubi, dia teman sekantorku sebelum aku memutuskan untuk berhenti dan pindah ke sini.
"Kenapa Dis.. " - balasku singkat sebelum membaca semua pesan yang sudah ia kirim padaku.-