4

1315 Words
Sudah dua hari berlalu sejak peristiwa perkelahiannya dengan Narcissa di Golden moon pack. Kini Lily tengah duduk manis di depan meja rias dan dirias oleh beberapa maid. Gadis itu sekarang terlihat sangat cantik dengan balutan long dress berwarna merah darah yang berlengan panjang dengan kerah berbentuk V dan punggung yang terbuka. Rambut gadis itu di sanggul rapi dengan bentuk yang sedikit rumit namun terlihat indah sehingga memperlihatkan leher jenjangnya. Ya, malam ini adalah malam penobatan Lily sebagai Alpha tunggal di Diamond Moon pack sekaligus acara ulang tahunnya yang ke delapan belas tahun LILY POV Aku sedang duduk di depan meja rias dan tengah di rias oleh beberapa maid di kamarku. Kini jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima puluh menit yang berarti sepuluh menit lagi acara akan dimulai. Jantungku berdegub lebih kencang dari biasanya. Aku sangat gugup, takut jika aku akan membuat kesalahan dan mempermalukan diri sendiri di acara yang sakral ini. "Sudah selesai Tuan Putri, Anda bisa melihat wajah Anda di pantulan cermin sekarang!" ucap salah seorang maid yang meriasku. Kuakui kerja mereka cukup bagus, aku terlihat sangat cantik malam ini menurut diriku sendiri pastinya. Aku mengucapkan terima kasih dan bergegas keluar dari kamar sementara mereka sedang membenahi alat make up. Di luar pintu aku sudah di sambut oleh ayah dan ibuku. Kami bertiga melangkah menuju taman mansion yang menjadi tempat penobatanku karena aku memilih konsep outdoor. Di taman sudah penuh dengan banyak tamu undangan. Di podium seorang Elder mempersilakan aku naik ke panggung untuk memulai upacara. "Terima kasih pada tamu undangan yang telah berkenan hadir pada acara malam ini. Hari ini adalah hari terpenting bagi hidup saya, acara ulang tahun serta hari penobatan saya sebagai Alpha tunggal di pack ini." Lily memberikan kata sambutan sebelum memulai upacara. Seluruh tamu kini mengalihkan atensi mereka pada gadis cantik nan menawan yang telah berdiri di atas podium. Mereka yang mendengarkan kata sambutan dari Lily langsung bertepuk tangan riuh. THIRD POV Seorang Elder menyalakan api suci di dalam sebuah wadah yang berbentuk menyerupai baskom, wadah itu terbuat dari silver, ia kemudian memberikan sebuah belati pada Lily. Lily mengambil belati tersebut dan mengiris telapak tanganya, membiarkan darahnya mengalir ke api suci. Tak ada perubahan warna pada api yang menandakan bahwa Lily memang tidak memiliki darah werewolf yang mengalir pada tubuhnya. Lily mengucap sumpah ia akan menjadi pemimpin yang adil, bijaksana dan bertanggung jawab pada pack yang akan di pimpinnya. Api suci padam. Namun sebelum benar-benar padam, sekilas api berubah warna menjadi putih dan tak seorang pun yang ada di sana menyadarinya. Di dalam wadah tadi terdapat sebuah tiara cantik dari silver dan diamond berwarna biru. Elder yang memberikan belati pada Lily tadi mengambil tiara tersebut dan memasangkan tiara pada kepala Lily. Kemudian Lily maju ke pinggir podium, ia berdiri dan menggumamkan sesuatu lalu mengangkat kedua tangannya ke atas. Beberapa saat muncullah cahaya berwarna merah yang meluncur ke atas dan menjadi kembang api yang meluncur dari telapak tangan gadis tersebut ke langit. Tamu undangan bertepuk tangan dan mengucapkan selamat satu persatu pada Lily. Beberapa tamu sudah ada yang menyantap hidangan yang telah disediakan. "Selamat atas penobatanmu menjadi pemimpin tunggal pack ini, Alpha." Lily yang sedang minum menoleh ke arah suara. Yang ia lihat saat ini adalah seorang pria tinggi dan tampan mengenakan setelan tuxedo berwarna hitam. Sungguh mempesona. Lily seperti pernah mengenal pria ini. Apalagi wangi maskulin dari pria di hadapannya tersebut terasa sangat familiar. "Terima kasih." Lily hanya tersenyum. "Tidak mengingatku?" Lelaki tersebut berucap. "Tentu saja aku masih mengingatmu, Aldrich," jawab Lily, ia mengedipkan salah satu matanya ke arah lelaki itu. "Ingin kutemani, Alpha?" ucap Aldrich sedikit menggoda. "Saya tidak keberatan Alpha," Lily balas menggoda. Mereka berdua terhanyut dalam pembicaraan yang seru dan terkadang mengingat pertemuan pertama mereka. "Ingin berdansa denganku?" tawar Aldrich kemudian mengulurkan tangan pada Lily dan disambut oleh gadis itu dengan senang hati. Mereka melangkah ke tengah lantai dansa dan berdansa di sana, menghiraukan tamu undangan yang menatap mereka. "Apa mate-mu tidak akan cemburu melihat kau berdansa denganku?" Lily memulai pembicaraan di tengah dansa mereka. "Aku seorang unmated wolf," jawab Aldrich. "I'am sorry, i don't know (maafkan aku, aku tidak tahu). Aku tak bermaksud." Lily merasa bersalah. "Well, no problem (tidak masalah). Kau tak salah." Aldrich tampak biasa saja. Lily dan Aldrich sudah tak berdansa dan kini duduk di meja yang paling ujung. Waktu berlalu sangat cepat malam itu. Para tamu undangan sudah mulai pulang satu persatu. ********** "Maafkan putraku yang tak bisa menghadiri acara penobatan ini. Kami tak bermaksud menyinggung kalian. Tapi ... sejak kejadian dua tahun yang lalu ia memang selalu memilih menyendiri." Renata berucap dengan nada sendu. "Tak masalah, Rena, aku tahu bagaimana perasaan putramu." Emily mengusap punggung Renata pelan. "Kupikir anak itu akan datang walau sekedar untuk menjemput kami." Emily terkekeh, sebelum ia berhasil mengucapkan satu patah kata pun ia beserta suaminya, Renata dan Arthur menoleh karena mendengar deru mesin mobil yang mendekat. Tak lama muncul seorang pria tinggi dan tegap memakai setelan jas hitam dan celana bahan berwarna senada, kemeja putih yang membalut tubuh atletisnya terlihat pas. Ia terlihat tampan dengan mata hitam pekat bak elang dan garis rahang yang kokoh. Pria itu berjalan mendekati mereka berempat. Pria itu berhenti sejenak dan memejamkan mata. Ia menarik napas panjang, menghirup oksigen dengan rakus, seolah ia akan mati karena kekurangan oksigen. UNKNOW POV Aku melajukan mobilku menuju Diamond Moon pack dan memarkirkan kendaraanku setelah sampai. Tempat itu cukup sepi, kurasa tamu sudah mulai pulang mengingat aku sangat terlambat datang. Aku berjalan menuju taman tempat acara di mulai. Aku tahu karena taman itu dihias dengan cantik, di d******i warna putih dan ungu yang menurutku lebih mirip acara ulang tahun dari pada upacara penobatan seorang Alpha. Baru beberapa langkah aku berjalan, aku berhenti dan memejamkan kedua mata. Aku menghirup udara sebanyak mungkin setelah mencium aroma yang memabukkan. Bau madu yang manis. "Apa kau merasakan itu juga Grey?" Aku me-mindlink wolf yang ada di dalam tubuhku. "Ya, aku juga merasakannya. Ini aroma .... mate!! akhirnya aku menemukan mate-ku," balas wolf-ku dan setelahnya ia melolong sangat keras hingga membuat kepalaku pusing dan hampir pecah. Aku dengan cepat menghampiri kedua orang tuaku sambil melihat ke kanan dan kiri mencari asal aroma ini. Aroma seorang mate. "Adrian, akhirnya kau sampai," ucap ibu padaku. Aku membungkuk pada tuan rumah menunjukkan rasa hormat. "Kalau begitu aku pamit Emily, James." Ibuku memeluk Luna Emily. "Tunggu sebentar, Ibu!" cegahku "Ada apa, Nak?" tanya ibuku dengan raut bingung. "Aku merasakan ada aroma sangat kuat yang berasal dari mate-ku di sini. Boleh aku mencarinya sebentar?" ucapku datar. Mata ibuku berbinar sepertinya ia sangat gembira mengetahuinya. "Kau boleh mencarinya, Alpha," ucap Luna Emily memberikan izin padaku. "Ibu, aku ingin langsung istirahat saja jika boleh. Aku sangat lelah." Aku mendengar seorang gadis yang mendekat kearah kami dan berucap, namun sialnya aroma madu tadi bertambah kuat, membuatku semakin terbuai. Semua orang di sana menoleh ke arah suara gadis bergaun merah itu dan dengan spontan aku berkata, "MATE!!!" kulihat gadis itu terkejut setelah mendengar penuturanku. "Jadi Lily adalah mate-mu?" ujar ibuku terharu. "Siapa kau?" Gadis tadi semakin mendekat ke arah kami, ia menatap ke arahku dan bertanya. "Adrian Rohan. Alpha dari Golden moon pack," jawabku datar. Dari dekat, aroma gadis itu semakin kuat. Bahkan Gray sudah meronta untuk keluar dan mengambil alih tubuhku, namun sebisa mungkin aku menahannya dan menatap gadis itu dengan tatapan datar. "Kukira Paman Arthur yang mempimpin pack dan apa yang kau bilang tadi, aku mate-mu? Apa aku tidak salah dengar?" Aku hanya menganggukkan kepala. "Aku ingin membawa mate-ku kembali ke Golden moon pack jika diperbolehkan, Luna," kataku pada Luna Emily. Gadis yang kini notabenya adalah mate-ku terkejut mendengarnya. Ia memelototkan kedua bola matanya ketika menatapku, namun aku mengabaikan hal itu. Lalu ia menatap ke arah ibunya, menggelengkan kepalanya pelan pertanda ia tidak ingin. Aku mengamati seluruh pergerakan gadis itu. Entah kenapa jantungku rasanya tidak karuan ketika memandang ekspresi wajahnya yang terlihat menggemaskan. to be continue ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD