Bab 16. Cariin Aku Ayah

1157 Words
Tidak seorang pun bisa mengetahui seperti apa takdir yang akan menyapa mereka. Bahkan orang yang mengklaim dirinya sebagai peramal atau orang pintar sekalipun–tidak akan pernah bisa mengetahui takdirnya sendiri. Tapi ramalannya terbukti. Bullshi! Itu hanya tebakan dari bisikan setan yang kebetulan saja terjadi. Jangan pernah mempercayai dan menjadikan kita salah satu yang terjebak dengan dosa syirik. Menyekutukan Allah dengan yang lain. Ingat, tujuan akhir kita bukanlah dunia. Runa memperhatikan pergerakan sang putra yang sudah berjalan dengan semangat bersama seorang teman baru. Terlihat sekali dari langkah kaki mantap putranya. Keduanya tampak berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan. “Sepertinya mereka akan menjadi teman baik.” Runa menoleh. Fokus matanya kini beralih. Kaki wanita itu bergerak hingga akhirnya berdiri menghadap perempuan cantik yang sedang tersenyum. Runa menggerakkan kepala turun naik sambil tersenyum, membalas senyum tulus sosok cantik di depannya. Perempuan di depan Runa mengangkat tangan kanan. Seperti sang putra yang begitu sopan, wanita itu memperkenalkan namanya. “Saya Zahra. Ibunya Rain. Dia anak pertama saya.” “Oh ….” Segera Runa menyambut uluran tangan di depannya. “Saya Aruna. Panggil Runa saja. Saya ibunya Lingga.” Keduanya berjabat tangan, menyambut takdir yang mempertemukan mereka berdua. Dari dua orang asing, kini mereka saling mengenal nama. “Ayo, kita tunggu mereka di sana. Biasanya anak-anak kalau sudah bermain, lupa sama ibunya yang menunggu sampai bosan. Kita bisa ngobrol biar tidak bosan menunggu mereka berjam-jam.” Tidak menunggu waktu terlewat setelah menyelesaikan kalimatnya, wanita bernama Zahra itu menarik sebelah tangan Runa lalu mengayun kedua kakinya. Membuat Runa mau tidak mau ikut berjalan. Runa menoleh, menatap wanita yang kini berjalan bersamanya. Merasa aneh kenapa wanita ini terkesan seperti sudah mengenalnya lama. Padahal mereka baru kali ini bertemu. Caranya bicara seakan mereka sedekat itu. Runa heran. Dengan sendirinya bola mata Runa menyapu penampilan perempuan tersebut. Dia memang bukan orang dengan uang berlebih yang akan membeli pakaian, tas, dan benda-benda lainnya dengan merk luar negeri yang harganya sanggup membuat orang sekampung makan kenyang satu bulan penuh. Meskipun begitu, bukan berarti dia buta dengan merk Gucci, Dior, Louis Vuitton, Hermes dan lainnya. Sebagai seorang desainer, tentu saja ia akrab dengan merk-merk tersebut. Banyak desainer yang menjadikan merk mendunia itu sebagai kiblat desain mereka. “Nah, duduk sini … Runa.” Runa menarik kaku garis bibirnya. Wanita yang jelas berstatus sosial di atasnya itu menepuk samping kursi panjang yang ia duduki. Sekali lagi wanita itu tersenyum ramah. Runa mengangguk kecil kemudian duduk bersebelahan dengan perempuan bernama Zahra tersebut. “Ah … setidaknya aku bisa bersantai sejenak.” Runa memutar kepala ke samping. Menatap kenalan barunya yang tersenyum dengan pandangan mata ke depan. “Aku punya tiga anak. Rain–” Zahra mengedik kepala ke arah sang putra yang kini sudah asik bermain dengan teman barunya. "Dan dua anak perempuan kembar. Adiknya Rain. Fiya, dan Naila.” “Kembar perempuan? Pasti lucu sekali.” Akhirnya Runa membuka suara, berkomentar setelah mendengar jika perempuan yang bersamanya memiliki anak kembar. Sama seperti dirinya, meskipun kembaran Lingga sudah ada di surga. Zahra mengangguk keras. Wanita itu kini sudah menoleh ke arah Runa. Tersenyum mengingat kedua putri kembarnya. “Punya anak kembar memang menyenangkan. Apalagi adik iparku. Anaknya kembar sepasang.” Dua mata wanita itu terbuka lebih lebar, mengingat keponakan kembarnya. “Wah … kok bisa punya anak kembar semua.” Zahra kembali mengangguk keras. “Aku juga heran. Adik suamiku kembar laki-laki. Anakku kembar perempuan. Adik iparku yang perempuan anaknya kembar laki perempuan. Dan tahu tidak? Adik suamiku yang laki-laki, yang kakak bungsu, sebentar lagi juga akan punya anak kembar.” Runa terpana mendengar cerita menggebu teman barunya. Ah, boleh kan dia anggap perempuan ini teman barunya? “Cuma kak Mekka saja loh yang tidak punya anak kembar. Dia kakak suamiku beda ibu.” “Oh ….” “Sekarang adik laki-laki suamiku, yang kembar itu. Satu kan sudah menikah, tapi qodarullah belum dapat keturunan. Nah, kembar satunya sebentar lagi akan menikah. Aku penasaran apa mereka juga nanti akan punya anak kembar. Bisa dibayangkan seseru apa keluarga kami kalau sedang berkumpul.” Runa tersenyum lebar, membayangkan banyak anak kecil yang berkumpul di dalam satu ruangan besar. “Pasti kakek nenek mereka bahagia.” Zahra mengerjap. Sesaat kemudian dia membenarkan dengan anggukan kepala. “Iya.” Lalu wanita itu menarik napas dalam. Sepasang bibirnya mengerut, sebelum meluruskan pandangan mata ke depan. Wanita itu berucap. “Aku bisa membayangkan papa, mama pasti kesepian kalau tidak ada anak-anak dan cucunya yang datang ke rumah.” “Rumah mereka besar, tapi, sekarang sudah semakin sepi. Anak-anak sudah menikah dan tinggal di rumah mereka masing-masing. Rumah besar itu hanya dipenuhi asisten rumah.” “Kalau begitu, Mbak harus sering berkunjung ke rumah mereka. Menginap, supaya mereka senang.” “Kamu benar. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri. Terima kasih sudah menyadarkanku.” Zahra kembali menoleh ke samping. Dengan senyum tulus ia berterima kasih. “Bisa kita berteman?” “Hah?” Runa terkejut. “Maaf kalau aku mengejutkanmu.” Zahra tersenyum. "Bukankah kita bisa bertemu, dan anak-anak terlihat nyaman berteman adalah takdir? Bukan suatu kebetulan. Allah yang merencanakan." Melihat ekspresi wajah Runa, Zahra berdehem. “Kalau kamu keberatan–” “Tentu saja tidak. Justru saya berterima kasih.” Mendengar ucapan terima kasih Runa, Zahra mengernyit. “Um … Mbak kan … orang kaya.” “Astagfirullah. Kenapa mikir ke situ, sih? Apa berteman harus lihat-lihat kaya atau tidak? Aku bukan orang kaya. Yang kaya itu suamiku.” Zahra menghembus napas. “Lagipula, uang bukan segalanya. Hanya alat yang kalau kita pakai dengan benar bisa membawa kita ke surga, jika tidak–justru akan menjerumuskan kita ke neraka.” Runa diam mendengarkan. Dalam hati mulai mengagumi perempuan cantik yang baru saja memintanya menjadi teman. “Jadi, kamu mau kan berteman denganku?” Runa tersenyum lalu mengangguk. Menerima dengan senang hati tawaran tersebut. “Buma … lihat apa yang Lingga dan Rain dapat.” Runa dan Zahra refleks memutar kepala ke arah yang sama. Mengikuti pergerakan dua orang anak yang sedang berlari ke arah mereka. “Hati-hati, Hujan … nanti kamu bisa terpeleset dan jatuh.” Runa melirik ke samping kemudian tersenyum begitu paham panggilan Zahra pada putranya. “Mami … please jangan panggil hujan.” “Rain itu artinya hujan ya, Buma?” tanya Lingga seraya menoleh ke samping. Mereka berdua sudah berhenti berlari. Berdiri di depan kedua ibu mereka. “Kok kamu panggilnya Buma? Kenapa tidak mami saja sepertiku?” tanya Rain sambil sedikit mendongak lantaran teman barunya lebih tinggi darinya. Kalingga menggelengkan kepala. “Ini buma ku. Bunda Mama ku.” Kalingga tersenyum sebelum kemudian mengalihkan pandangan kepada sang buma. Sambil tersenyum, Lingga menarik langkah ke depan lalu memeluk sang ibu yang sedang duduk. Melupakan banyak tiket yang ia dapat bersama dengan teman barunya. "Lingga sayang Buma." Lingga memeluk lebih erat sang buma. "Kalau papi kamu, kamu panggil siapa, Kak Lingga?" Masih sambil memeluk ibunya, Lingga menoleh. "Bapakku sudah di surga. Hujan, kamu mau tidak, cariin ayah buat aku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD