“Buma, ayo ikut Lingga masuk.” Runa menahan tangan kecil sang putra yang menariknya. Wanita itu membungkuk untuk mensejajari tinggi putranya. Runa menatap sang putra. Memastikan sang putra juga menatapnya, sebelum membuka suara. “Dengarkan Buma, Lingga Sayang. Buma harus bekerja.” “Cuma sebentar,” sahut cepat Lingga. Anak itu kembali menarik tangan sang buma, berharap sang buma segera ikut berjalan bersamanya. Akan tetapi, bumanya tak kunjung bergerak. “Sayang–” “Cuma sebentar, Buma. Sebentar saja,” ujar memohon Lingga. Membuat sang buma mendesah. Runa akhirnya menegakkan posisi berdirinya, kemudian mengikuti sang putra yang sudah kembali menarik sebelah tangannya. Wanita itu menatap putranya yang kini sudah tersenyum senang. Kepala wanita itu menggeleng perlahan. Dua minggu setelah

