“Setidaknya tolong pikirkan Lingga.” Runa mendesah. Wanita yang sedang bekerja di depan laptop itu menghentikan aktivitasnya. Menarik punggung ke belakang hingga menyandar, Runa mengangkat wajahnya. Menarik napas cukup panjang, lalu membelah sepasang bibirnya. Meloloskan karbondioksida sedikit demi sedikit. “Lingga maunya bapak yang bisa dipeluk.” Runa kembali menarik panjang napasnya kala mengingat apa yang putranya katakan. Runa paham putranya merindukan kasih sayang seorang ayah yang tidak ia dapatkan selama ini. Tapi, apa karena itu dia harus menikah lagi? Suara notifikasi pesan masuk membuat Runa menunduk lalu menarik ke depan punggungnya. Mengambil benda penghubung di atas meja yang baru saja memberitahu jika ada pesan masuk. Melihat nama pengirim pesan, Runa segera membuka pesa

