Bab 11. Perlindungan Seorang Ibu

1300 Words
Aruna tidak mengerti kenapa sikap Dewa begitu dingin. Awalnya dia pikir pria itu hanya dingin padanya karena dia seorang perempuan dewasa. Mungkin pria itu ingin menjaga dirinya, khawatir akan digoda perempuan asing. Namun, begitu melihat sikap Dewa pada putranya yang masih kecil pun tampak begitu dingin, Runa jadi bertanya-tanya. Apa salahnya, dan apa salah putranya. Pria itu boleh saja membencinya, tapi, tidak dengan putranya. Lingga bukan anak yang nakal. Putranya anak yang begitu manis. Belum pernah ada orang yang begitu terang-terangan memperlihatkan gelagat tidak suka ketika bertemu dengan putranya. Apalagi pada pertemuan pertama. Bahkan kembaran pria itu pun menyukai Lingga. Lalu, apa yang salah? Untung dia mengenal baik pemilik toko yang sudah menjadi langganannya setahun terakhir. Pria baik hati itu mengalihkan Lingga dengan banyak roti. Lihat saja sekarang putranya itu sedang sibuk makan roti ditemani pemilik toko. Sementara Jingga pamit ke toilet. Kain yang dibutuhkan sudah ia dapat. Runa memberanikan diri menghampiri pria yang sedang berdiri melihat-lihat kain dengan dua tangan terkait di belakang tubuhnya. “Maaf, Pak. Boleh saya bertanya?” Dengan sopan Runa membuka obrolan. Suaranya membuat seseorang yang sebelumnya masih fokus pada gulungan-gulungan kain yang ditata di rak besar itu memutar kepala sebelum kemudian memutar langkah kaki. Dua tangan yang terkait di belakang tubuh kini terlepas. Runa menelan saliva. Ujung lidahnya bergerak cepat membasahi bibir sebelum kemudian sepasang bibir itu terbelah. “Apa salah anak saya pada pak Dewa? Maaf, saya tahu Bapak tidak menyukai saya. Tapi, apa salah Lingga?” Kedua alis Dewa bergerak mengerut. Sepasang mata pria itu mengecil. “Memangnya apa yang saya lakukan ke anak kamu? Saya tidak melakukan apapun. Menyentuhnya pun tidak.” Runa mengedip. Wanita itu kembali menelan saliva. “Apa kamu melihat saya memukul, atau mencubit anak kamu?” Sebelah alis pria itu terangkat. “Kata-kata kasar pun tak keluar dari mulut saya. Jadi, atas dasar apa kamu menuduh saya?” Runa terdiam. Tarikan napas panjang wanita itu lakukan. Terlihat dari gerak d*da yang begitu kentara. Runa sempat mengalihkan pandangan beberapa detik sebelum kembali fokus pada pria di depannya. “Mungkin … anda tidak melakukan apapun, tidak juga mengatakan kata-kata kasar. Tapi … ekspresi wajah Bapak mengatakan semuanya.” “Ekspresi wajah?” Dewa tertawa sumbang. “Memangnya kamu pakar membaca ekspresi wajah?” Dewa geleng kepala. “Kamu harus belajar lagi supaya bisa membaca ekspresi wajah dengan lebih tepat.” Dalam hati Dewa mengumpat kemampuan Runa yang tidak ingin ia percayai. Bagaimana bisa Runa membaca ekspresi wajahnya dengan tepat, karena sebenarnya dia memang tidak menyukai anak itu. Mungkin sebentar lagi dia akan membenci anak itu. Sialan. Ibu dan anak itu sama-sama tidak bisa ia kelabui, batin kesal Dewa. Hembusan napas lolos dari celah bibir Runa. “Buma.” Sepasang bibir yang sudah hendak terbelah, urung terbuka. Runa menoleh. Melihat sang putra berdiri beberapa meter darinya. Tampak tidak berani menghampiri dirinya. Anaknya itu masih memegang satu roti yang terbungkus plastik. Runa akhirnya melupakan apa yang hendak ia sampaikan kepada Dewa. Tanpa mengatakan apapun, Runa berbalik lalu segera menarik langkah kakinya. Sambil tersenyum, Runa berjalan cepat menghampiri Lingga. Bola mata Lingga bergerak ke belakang tubuh sang buma. Sepasang mata anak itu menatap takut pria yang berdiri di belakang ibunya. Menunduk, Lingga mengerucutkan bibirnya. Dia tidak suka orang itu. Dia suka om Kala. Suara hentak heels terdengar ketika Jingga berjalan cepat. “Gimana, sudah selesai?” tanya wanita itu sambil berjalan menghampiri Runa yang berdiri bersama sang putra. Melihat kepala Runa mengangguk, Jingga tersenyum. “Syukurlah. Jadi bisa segera diproses ya, Runa? Berapa lama?” “Saya usahakan 3 bulan selesai, Mbak,” janji Runa. Pekerjaannya bukan hanya membuat gaun pengantin untuk Jingga. Dia masih menghandle pesta pernikahan klien lain yang hari pernikahannya lebih dulu dari Jingga. “Baiklah. Tidak masalah. Masih on track.” Jingga terkekeh. Wanita itu menepuk pelan punggung Runa. “Terima kasih banyak, Runa. Aku sudah tidak sabar melihat hasilnya dan memakainya.” Runa tersenyum. Wanita itu melingkarkan tangan ke tubuh sang putra ketika merasakan putranya memeluknya. “Besok saya kabari kalau sudah jadi. Oh iya, untuk makanan ... benar tidak pakai dari hotel saja, Mbak?” tanya Runa. Sesuai diskusi, tempat acara sudah ditetapkan di hotel Kanaya, dan Runa baru tahu jika hotel itu ternyata milik keluarga calon suami Jingga. “Ada beberapa yang akan pakai dari hotel, tapi sebagian lagi aku mau dari tempat lain. Nanti aku kasih menu yang dari luar hotel. Tolong carikan cateringnya, ya?” Runa menyanggupi dengan anggukan. “Baik, Mbak. Saya akan carikan catering yang selama ini sering dipakai klien kami dan mereka puas dengan masakannya.” “Oke. Kalau begitu, ayo kita makan dulu baru setelah itu pulang.” Jingga menurunkan pandangan mata. “Lingga pasti lapar. Dia baru pulang sekolah.” Jingga tidak perlu bertanya, melihat seragam yang masih melekat di tubuh Lingga, semua orang pasti tahu jika anak itu baru pulang sekolah. “Terima kasih tawarannya, Mbak. Tapi, tidak perlu. Kami langsung pulang saja. Kebetulen bude di rumah juga sudah memasak. Kasihan kalau tidak kami makan.” Mendengar kalimat penolakan Runa, raut muka Jingga seketika berubah kecewa. Wanita itu melirik Lingga yang masih memeluk perut ibunya. Tarikan napas panjang wanita itu lakukan. “Apa karena–” Buru-buru Runa menggelengkan kepala. Entah bagaimana dia paham apa yang akan Jingga katakan. Wanita itu tersenyum menenangkan. “Sama sekali bukan. Maaf kalau Lingga salah paham. Saya akan bicara dengannya. Anak ini memang sedikit sensitif.” Runa mengusap kepala sang putra sementara sepasang matanya masih tertaut dengan netra cantik Jingga. “Beneran, Mbak.” Runa kembali tersenyum, meyakinkan Jingga yang tampak begitu kecewa. “Sayang. Sudah selesai, kan?” Jingga mengalihkan pandangan mata begitu mendengar suara calon suaminya. Melihat sang calon suami, Jingga mendesah. Wanita itu menggulir kembali bola mata ke arah Runa. “Ya sudah kalau begitu. Ayo,” ajaknya. Runa mengangguk. Wanita itu meraih sebelah tangan sang putra. Mengedarkan mata mencari keberadaan pemilik toko yang ternyata sedang berbicara dengan anak buahnya. Beruntung pria itu mengalihkan tatapan hingga berakhir melihat ke arahnya. Runa mengangkat sebelah tangan. Kode sederhana yang membuat pemilik toko langsung berpamitan pada anak buahnya, lalu berjalan ke arah wanita tersebut. “Sudah mau pulang?” tanya pria berdarah India tersebut sebelum langkah kakinya berhenti di depan Runa serta Jingga. “Iya. Terima kasih banyak bantuannya. Saya bawa kainnya.” “Oke … oke. Kapan saja kamu butuh bantuan saya,” kata pria itu seraya tersenyum. Pria itu kemudian berjalan mendahului Runa serta Jingga yang mengikuti di belakang. “Semoga hasilnya besok memuaskan, dan semoga acaranya lancar.” “Aamiin.” “Terima kasih doanya.” Jingga tersenyum. Wanita itu menoleh ke arah Dewa. “Kami permisi duluan.” “Oh … silahkan.” Pemilik toko menoleh lalu menggerakkan kepala turun naik sambil mengulas senyum. Pria itu melanjutkan ayunan kaki. Berteriak meminta salah satu pekerjanya untuk mengambilkan kain yang dibeli oleh Runa. Runa menunggu sampai kemudian mendapatkan kain yang ia beli. Setelah itu, Runa langsung berpamitan. Sambil menggandeng tangan sang putra, Runa berjalan keluar dari toko. Runa pikir Jingga sudah pergi, namun ternyata tidak hanya Jingga, Dewa pun masih berdiri di luar toko. “Loh, kok masih di sini?” Refleks pertanyaan itu keluar dari mulut Runa. Jingga yang sudah memutar kepala ke arah Runa, tersenyum. “Nunggu mas Dewa lagi terima telepon dari mama.” “Oh ….” Runa malu sendiri. Dipikirnya mereka belum pergi karena dirinya. Ternyata bukan. “Kalau begitu kami pulang duluan,” pamit Runa. “Hati-hati di jalan, ya. Sampai jumpa, Lingga.” Jingga tersenyum lebar menatap Lingga. “Buma … Lingga kapan ketemu om Kala lagi?” Dewa menoleh dengan ponsel melekat di telinga kanan. Pria itu menatap tak suka anak kecil yang baru saja menyebut nama saudara kembarnya. Runa menarik tangan Lingga. Menganggukkan kepala saat bertemu tatap dengan Dewa. “Kok ada suara anak kecil. Kalian sama siapa, Dewa?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD