Bab 18. Permintaan Lingga

1002 Words
Jingga selalu merasa bersyukur akan segera bersanding dengan seorang pria bernama Sadewa Putra Hutama. Ia merasa beruntung bertemu dengan pria tersebut. Pria matang yang berasal dari keluarga baik. Keluarga yang terkenal harmonis. Orang tuanya terkenal di kalangan pengusaha sebagai pasangan yang selalu romantis meskipun usia tak lagi muda. Tidak pernah terdengar isu perselingkuhan. Begitupun dengan kakak-kakaknya yang sudah menikah cukup lama. Mereka adem ayem dengan pasangan masing-masing. Hal itu yang menjadi alasan paling besar Jingga menerima pinangan Dewa. Dia benci perselingkuhan. Jingga membalas senyum calon suaminya. Langkah kakinya terayun masuk ke dalam ruang kerja dengan ornamen kayu yang menciptakan suasana hangat dan nyaman, namun tetap terlihat berkelas. Dewa beranjak dari tempat duduknya. Menarik langkah ke samping, lalu berjalan ke arah sang calon istri. “Istirahat dulu. Sudah waktunya makan siang,” ujar Jingga sambil mengangkat goody bag di tangan kanannya. Dewa mengambil goody bag dari tangan Jingga, lalu menunduk untuk bisa mengecup puncak kepala calon istrinya. “Terima kasih sudah repot-repot datang ke sini. Gimana acaranya?” “Lancar,” jawab Jingga. Tersenyum lalu berjalan bersama Dewa sambil bergandengan tangan menuju sofa yang terletak di sisi lain ruangan. Menoleh, Dewa tersenyum. Bangga pada sosok perempuan yang tak lama lagi akan menjadi istrinya. Jingga selalu berpenampilan feminim. Tampil cantik sekaligus anggun. Tapi … jangan tanya seperti apa penampilan Jingga ketika bekerja di lapangan. Jauh dari kata feminim. Jingga akan berubah 180 derajat saat sedang memakai helm proyek. Bisa ditebak pekerjaannya? Yes! Jingga adalah seorang arsitek. Mereka pertama bertemu ketika kebetulan ia sedang ikut kakak iparnya ke proyek. Di sana dia melihat sosok perempuan yang berbeda dari perempuan-perempuan lain yang ia kencani. “Bang Janu tidak memberimu proyek baru, kan?” “Kenapa memangnya?” tanya Jingga sambil duduk di sofa panjang. Wanita itu menoleh, menatap Dewa yang mengikutinya duduk. Ia kemudian membuka goody bag yang Dewa letakkan di atas meja. “Sebentar lagi kita nikah. Kamu pasti capek urus ini itu untuk acara nikahan kita, sementara kamu masih kerja.” “Oh ….” Jingga meletakkan satu tempat makan di depan Dewa. “Nggak masalah, kok. Urusan pernikahan kan sudah diurus Runa. Oh iya, besok kita jadi tes food, ya? Aku sudah kasih tahu mama Naya juga tadi.” Dewa menatap lekat sang kekasih. Tarikan napas panjang pria itu lakukan. Ia jadi mengingat apa yang sesaat lalu sedang ia lakukan. Tanpa sadar, pria itu menekan-nekan katupan rahangnya. Perasaannya belum bisa tenang sebelum mengetahui siapa ayah biologis anak itu. Ah, sialan. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Seandainya saja 10 tahun yang lalu ia tidak melakukan kesalahan, mungkin saat ini ia tidak akan khawatir. Mungkin saat ini ia bisa balas dendam sepenuhnya. “Ada apa?” tanya Jingga, membuat Dewa mengedip lalu menelan saliva. Dewa berdehem. “Tidak ada apa-apa. Ayo, kita makan dulu,” ajaknya, mengalihkan rasa penasaran Jingga. Jingga sempat menatap Dewa sesaat, sebelum akhirnya mengangguk kemudian membuka tempat makan di depannya. Keduanya terdiam–fokus dengan makan siang mereka. **** “Lingga minta maaf, Buma.” Mereka baru saja keluar dari gedung sekolah. Runa berhasil membuat orang tua Rafa menandatangani surat perjanjian. Jika sampai Rafa mengejek Lingga sekali lagi, mereka harus memindahkan Rafa dari sekolah. Dan jika Lingga sampai bermain tangan pada Rafa tanpa penyebab, maka ia yang harus memindahkan Lingga dari sekolah itu. Runa menghentikan ayunan kaki di samping motornya. Wanita itu menoleh, lalu menatap putranya yang sudah mendongak. Runa tersenyum lalu mengangguk. Wanita itu tidak langsung merespon dengan kata-kata. Runa justru mengangkat tubuh sang putra lalu mendudukkan putranya di boncengan motor. Sementara sang asisten rumah yang biasa mereka panggil bude, menatap keduanya dengan sepasang mata berkaca. Sedih melihat keduanya. Ia paham betul apa yang sudah mereka berdua lewati bersama. Tidak mudah menjadi Runa. Wanita itu memutar langkah ke arah lain hanya untuk mengusap air mata yang sudah menggantung di sudut mata. “Ternyata putra Buma sudah sebesar ini. Mungkin sebentar lagi Buma nggak akan kuat mengangkat tubuh Lingga,” ujarnya sambil mengusap pelan kepala putranya. Sepasang bola matanya menelusuri wajah Lingga. “Sakit, pipinya?” tanya Runa melihat warna merah di pipi sang putra. Lingga menggeleng, tidak mau mengakui jika sebenarnya ia kesakitan saat Rafa menonjok pipinya. “Besok lagi Lingga jangan berkelahi, ya? Berkelahi itu tidak baik, Sayang.” Runa mengingatkan sang putra. Dia tidak ingin menghakimi. Dia hanya ingin membuat putranya mengerti mana hal baik, dan mana hal buruk. “Tapi Rafa nakal.” Lingga memberikan alasan. Runa menggerakkan kepala turun naik. Meskipun begitu, Runa berkata, “Lain kali, kalau ada yang nakal, Lingga lapor saja sama bunda Lara.Biar bunda Lara yang menghukum anak nakal.” Sepasang matanya menatap lebih lekat netra bening putranya. “Lingga bukan anak nakal.” Bibir anak kecil itu mengerucut. “Memang bukan. Putra Buma ini anak baik. Anak manis.” Runa memeluk tubuh sang putra sebelum mengecup puncak kepala putranya. “Anak baik Buma pasti bisa belajar menahan diri. Belajar untuk sabar. Jangan mudah terpancing emosi.” Tangan Runa bergerak mengusap pelan punggung kecil putranya. Tarikan napas dalam wanita itu lakukan. Dia sungguh sudah berusaha sebaik mungkin berperan sebagai orang tua Lingga. Dia ingin memberikan semua yang terbaik pada putranya. Dia ingin putranya bahagia. Dia ingin Lingga bersyukur memiliki ibu seperti dirinya. “Buma … Lingga mau punya papa,” ucap Lingga tiba-tiba. Mendengar apa yang baru saja disampaikan sang putranya, gerak tangan Runa berhenti. Wanita itu mengernyit sebelum kemudian melepas pelukannya. Wanita itu menarik satu langkah ke belakang. Menatap sang putra dengan alis yang sudah berkerut. “Bukan bapak Tama, Buma. Bapak tama ada di surga. Lingga mau punya papa. Papa yang bisa Lingga peluk. Boleh kan, Buma?" pinta anak itu dengan polos. Lingga menatap penuh harap sang ibu. Dia ingin seperti teman-temannya yang lain. Bisa naik motor bersama kedua orang tuanya. “Lingga janji jadi anak baik, Buma. Lingga nggak akan berkelahi lagi sama Rafa,” janji Lingga, berharap sang buma meloloskan permintaannya. Kepala anak kecil itu menggeleng beberapa kali.“Lingga cuma mau punya papa. Biar Rafa tidak mengejek Lingga nggak punya papa,” tambahnya, berusaha meyakinkan sang buma.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD