Dua puluh delapan tahun hidup dengan sebagian besar memori yang hilang, sebenarnya terasa begitu menyiksa bari Runa. Ia merasa ada bagian dari jati dirinya yang hilang. Ia merasa tidak lengkap. Sebagian isi di dalam kepalanya terasa ... kosong. Selama ini ia bertahan dengan mengesampingkan perasaan kosong yang mendiami hatinya. Namun, lama kelamaan ia mulai merasa tersiksa. Ada dorongan untuk segera melengkapi kotak memorinya agar ia bisa merasa utuh. Runa ingin mulai mencari tahu, berharap bisa mengais memori yang terkubur. Ia ingin memulai dengan Tama. Sosok yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Ia percaya, mereka memiliki banyak kisah, banyak cerita yang mungkin bisa memantik memori lainnya untuk segera kembali. Runa menatap perempuan yang duduk di depannya. Mereka sudah keluar da

