Usia Gibran belum genap lima bulan waktu itu. Bayi itu masih ASI eksklusif. Berbekal bacaan di buku KIA yang menyatakan jika obat mujarab untuk bayi adalah ASI, maka kususui Gibran.
Sayangnya bayi prematur yang sudah mulai menggembul itu tidak mau menyusu. Suhu badannya masih tetap panas walau telah dikompres.
"Jam, sebaiknya bawa Gibran ke dokter deh. Kasihan dia gak mau nyusu," mohonku dengan penuh harap.
Jamie melihat waktu. "Oke. Masih ada waktu dua jam lagi. Semoga nanti setelah dikasih obat sama dokter jadi baikan," sambutnya setuju.
Persetujuan Jamie laksana hujan di alas yang kering. Menyejukkan. Tanpa buang waktu lekas kugendong Gibran.
Kami pergi ke klinik dengan mengendarai motor. Sebulan setengah kemarin Jamie baru mengambil kendaraan roda dua itu dari dealer. Dia merasa mampu untuk mencicil.
Karena memang sangat butuh, aku pun mendukung. Namun, konsekuensi yang kudapat adalah makin jarangnya Jamie di rumah. Hari-harinya dipenuhi untuk mencari uang. Jika ada waktu luang, kerjanya hanya tidur seharian.
Itulah mengapa dia sangat senang dengan acara reuni ini. Baginya semacam hiburan untuk hari-harinya yang melelahkan.
Dengan kecepatan lumayan tinggi, Jamie memacu sepeda motornya. Kami tiba lebih cepat sepuluh menit dari waktu biasa. Sayangnya poliklinik yang kami kunjungi sedang ramai.
Di ruang tunggu banyak pasien yang tengah menunggu diperiksa. Dari pasien bayi hingga pasien anak-anak. Sepertinya memang sedang musim anak-anak sakit. Naasnya, kami justru mendapat antrian terakhir karena datang terlambat.
Berkali-kali Jamie melihat jam tangannya. Lalu mulutnya berdecak gemas.
"Aduh ... bisa telat kita ini, Ki," keluhnya sambil mendengkus gelisah.
"Ya Allah, Jam. Anak sakit masih saja memikirkan reuni," sahutku ikut gemas, "ketemu teman kan bisa kapan saja," imbuhku rada senewen dengan tangan yang mengusap-usap rambut Gibran. Bayi itu tengah tertidur. Namun, suhu tubuhnya masih saja tinggi.
"Ini tuh mumpung ada waktu, Ki." Jamie menyahut tidak mau kalah, "hari-hariku itu hanya diisi nyari duit duit dan duit. Aku butuh hiburan," sergahnya sama sekali tidak peduli dengan keadaan Gibran.
Aku sendiri jika melihat Jamie sudah meninggikan suara lebih memilih diam. Kami masih sama-sama muda. Baru berusia sembilan belas tahun. Kalau menuruti ego, pertengkaran dan berantem akan sering terjadi. Beruntung aku punya Ibu yang selalu menasehati, bahwa salah satu dari kami memang harus ada yang mengalah.
"Bayi Gibran!"
Setelah satu jam lebih menunggu akhirnya Gibran dipanggil juga. Seorang dokter yang sudah beruban menanyakan keluhan apa. Kujelaskan selugasnya. Sementara Jamie hanya diam mendengarkan.
Gibran diperiksa. Dokter tua itu manggut-manggut, lalu menuliskan resep.
"Minum tiga kali sehari setelah minum ASI, ya!" titah dokter sambil menyerahkan catatan resep.
"Baik, Dok," sahutku sambil menerima catatan tersebut. "Terima kasih. Kalo begitu kami permisi," pamitku kemudian.
Aku dan Jamie kembali ke rumah. Di jalan kami berhenti di apotek guna menebus obat. Setelah itu baru meneruskan perjalanan.
Sampai di rumah Gibran masih tertidur. Namun, tetap kujejalkan p****g padanya. Bayi itu menghisap pelan. Ketika matanya terbuka obat dalam bentuk sirup itu kuberikan.
Jamie sendiri begitu sampai rumah langsung bergegas mandi. Dia mengenakan pakaian terbaik. Badannya yang masih terlihat kerempeng ia semprot dengan parfum. Rambut hitamnya ia sisir rapi. Penampilannya yang begitu menawan sering membuat orang salah tafsir. Banyak yang mengira jika dia masih bujangan.
"Kamu masih mau tetap berangkat, Jam?" tanyaku ketika Jamie tengah mengikat sneaker barunya.
"Iyalah. Gibran udah agak mendingan kan?" Lelaki muda itu mendekat, lantas membelai sekilas pipi putranya.
"Sepertinya sudah turun." Aku menjawab pelan.
"Yakin kamu gak ikut?" Jamie membingkai wajahku.
"Jam ...." Kulepas tangan Jamie dari wajah, "prioritas seorang ibu adalah anak. Jadi--'"
"Oke-oke." Jamie langsung menyela, "aku akan berangkat sendiri," lanjutnya cuek. Bibirnya mencium kening Gibran. Lantas beralih mengecup bibirku sekilas.
"Bye." Lelaki itu berlalu tanpa menengok lagi.
Sayangnya baru sekitar tujuh menit Jamie meninggalkan rumah, awan berubah gelap. Petir menggelegar dan air langit tumpah ruah seketika.
Mendengar bunyi guntur yang begitu gemuruh, aku dilanda takut. Kupeluk tubuh Gibran yang kembali terlelap.
Oh tidak! Kenapa suhu tubuhnya masih saja panas. Sepertinya obat yang kuberi tadi membawa perubahan. Atau memang belum bereaksi.
JEDERRR!
Petir kembali menggelegar. Kali ini terdengar sangat lantang. Membuat Gibran yang sedang tertidur terlonjak kaget. Bayi itu seketika menangis kencang.
"Cup ... cup ... cup, Sayang," ucapku menenangkan.
Kutimang-timang bayi yang kata banyak orang itu ganteng itu. Namun, tangisnya tidak juga mau berhenti. Hatiku kembali ketar-ketir karena panasnya Gibran kian naik.
Akhirnya, kuputuskan untuk memberikan obat lagi. Ternyata memberi obat pada bayi yang sedang menangis itu susah. Obatnya sampai keluar lagi karena terus menangis.
Bingung melanda. Sementara tangis Gibran juga tidak mau berhenti. Hati-hati kusuap obatnya.
UHUK UHUK
Gibran tercinta tersedak karena kuberi obat saat dia tengah menangis. Obatnya sampai keluar dari hidung. Tangisnya kian melengking. Aku sendiri bertambah panik.
Sambil menangis aku meraih ponsel. Nomor Jamie langsung kuhubungi.
"Ya halo ... Kira. Ada apa?" sapa Jamie di seberang sana. Suaranya terdengar agak terputus-putus. Hujan besar kendalanya.
"Gibran, Jam. Panasnya gak turun-turun. Dia tersedak."
"Kamu ngomong apa, Ki? Aku gak dengar. Nanti aku telepon lagi ya."
Aku ingin memaki saat Jamie memutus sambungan telepon. Namun, perhatianku tertuju pada Gibran. Ya Allah ... wajahnya kian membiru.
Mulut Gibran masih terbatuk-batuk. Namun, sudah terdengar lirih. Lebih mirip seperti orang tercekik. Entah kenapa hatiku berdesir takut.
"Gibran ...." Aku memanggil sambil menangis. Suara Gibran kian melemah. "Gibran Sayang bertahan ya."
Akhirnya, kuputuskan kuambil. Sembari menggendong Gibran aku menyambar payung hitam dan tas. Hujan deras aku terobos. Kakiku melangkah tergesa menuju jalan raya. Mencari tumpangan apa saja.
Ketika sedang setengah berlari angin bertiup kencang. Payung yang kubawa terbawa arus angin. Seketika tubuhku dan Gibran langsung basah kuyup.
"Astaghfirullah hal adzim ya Allah!" Aku berseru ketakutan. Beruntung ada taksi yang melintas. Tanganku langsung merentang bermaksud menghentikan taksi. "Pak, cepat bawa kami ke rumah sakit terdekat ya!" suruhku cepat.
"Baik, Mbak." Sang supir membalas sopan.
Perasaanku kian panik. Mata Gibran terpejam. Mulutnya juga sudah terdiam. Dan yang membuat hati ini dilanda panik, detak jantung Gibran terasa amat lemah. Jujur, aku bahkan tidak bisa mendengarnya lagi. Tidak! Tapi, Gibran masih hidup.
"Cepat, Pak, cepat! Anak saya sedang sakit!" pintaku dengan air mata yang terus berderai.
"Iya, Mbak, iya," balas supir masih ramah. Sayang hujan lebat membuatnya harus berhati-hati membawa kendaraan.
"Gibran sayang, bertahan ya!" pintaku pada bayi yang sudah membiru itu.
Rasanya mobil ini berjalan bagai siput. Makanya begitu kami sampai, aku langsung melompat turun. Apalagi hembusan napas Gibran sudah benar-benar susah kurasakan.
"Ibu tunggu di sini, ya!" pinta suster ketika Gibran dibawa masuk ke ruang IGD.
Walaupun sangat ingin menemani Gibran. Namun, aku mematuhi perintah perawat tersebut. Diri ini kutenangkan dengan duduk di bangku tunggu. Dengan tangan gemetar kuhubungi nomor ponsel Jamie.
"Jam ... kami ... kami ada di ... di rumah sakit," laporku terputus-putus karena Isak tangis.
"Rumah sakit? Emang kenapa?"
Nada polos dari Jamie membuat emosiku meledak. "Gibran sakit kamu masih bilang kenapa? MIKIR, JAMIE!"
Hening. Sementara aku masih terus tersedu-sedu. "Baik ... aku akan datang," pungkas Jamie terdengar lirih.
Begitu selesai menelepon Jamie, tangisku kian menghebat. Rasa dingin karena baju yang basah ini tidak kuhiraukan. Wajah membiru Gibran, serta nafasnya yang sudah tidak terasa, membuat aku dilanda frustasi.
Tiba-tiba pintu IGD terbuka. Aku langsung mengusap air mata ini.
"Dokter ... Dokter, bagaimana ... bagaimana keadaan anak saya?" tanyaku tidak sabar.
"Ibu yang sabar ya?" jawab dokter paruh baya seumur Ibu itu lembut.
"Kenapa? Kenapa dengan anak saya, Dok?" cecarku panik.
"Ananda Gibran telah berpulang--"
"Dokter jangan sembarang bicara!" sergahku marah sekaligus takut.
"Napasnya sudah tidak ada semenjak tiba di sini. Jadi Ibu ikhlaskan--"
"Arghhh ... Gibrannn!" Aku menjerit histeris. "Tidakkk, Gibranku masih hidup," teriakku pilu.
"Ibu ... Ibu yang sabar, ya."
"Gibrannn!" Lutut yang lemas membuat aku tidak kuat menopang berat badan. "Gibran ...."
Gelap. Aku tidak sadar.