Bab 1.2: Tabib dan mimpi buruk Taka

1274 Words
Hutan Sumatra bagian barat "Hey...Hey bangun" Ucap Danan yang terus menepuk nepuk wajah Taka namun Taka tetap dalam keadaan pingsan. "Dia sepertinya sangat kelelahan" suara seseorang dari atas dahan pohon. "Siapa di sana?" Jawab Danan sembari mengarahkan panahnya kepada suara itu berasal. Diatas dahan itu ternyata berdiri seorang pria menghadap Taka dan Danan, Orang itu kemudian melompat ke arah mereka berdua. "Kita tidak memiliki waktu, Cepat gendong dia dan ikuti aku" Ucap Pria itu kepada Danan. Danan kemudian menggendong Taka mengikuti orang itu, Orang itu mengarah ke sebuah Goa kecil. "Aku rasa disini aman, Kalian berdua cepat masuk biar aku yang di belakang kalian aku akan membentengi pintu goa ini" Orang itu lalu masuk mengikuti Danan yang sedang menggendong Taka. "Defend-Type: Tembok Ghaib seribu alam" Danan saat itu hanya terdiam, Ia tidak bisa berkata apapun karena ia tahu ilmu tersebut adalah ilmu tingkat tinggi. "Baiklah ku rasa kita aman disini" Ucap pria itu ia kemudian mendekati Danan dan Taka lalu duduk didepan Danan. "Bukankah ia terluka? Cepat turunkan biar ku sembuh" Lanjut pria itu ketika ia telah duduk. Danan kemudian menurunkan Taka di depan orang itu. "Baiklah nak aku tahu kau adalah seorang pengguna panah, Bolehkah aku meminta anak panahmu?" Ucap orang itu sambil menjulurkan tangan kanannya ke arah Danan. "Aku tidak akan memberikannya" Jawab Danan yang menolak permintaan orang itu. "Maaf Nak tapi kau telat" Ucap pria itu sambil menunjukan anak panah yang ia pegang di tangan kirinya. "Mungkinkah ketika aku masuk duluan ke Goa ini" Ucap Danan dalam hatinya. Pria itu kemudian mematahkan anak panahnya. "Fire Type" Dari tangannya muncul sebuah api lalu ia mendekatkan ujung anak panahnya pada Api itu, Ketika jadi sebuah penerangan Danan baru mengetahui pria itu "Bukankah kau?" Ucap Danan dengan muka terkejut. "Ya Betul aku adalah Tabib Mahesa dari Dunia Bawah Nusantara" Jawab pria itu sambil membuka Jubahnya. "Ahh kenapa hari ini aneh sekali" Jawab Danan dengan wajah heran. Ki Mahesa mulai mengobati luka Taka. "Hey Nak lihatlah ke luar goa dan jangan sampai se jengkalpun kau keluar dari sini" Ucap Ki Mahesa sembari mengobati Taka. Betapa terkejutnya Danan ketika ia melihat ternyata di luar Goa sudah banyak sosok orang-orang dan beberapa Mahkluk yang terus menatap Goa. "Ki makhluk apakah mereka?" Tanya Danan yang penasaran dengan makhluk di luar. "Mereka adalah Siluman Hutan, Tuyul Hutan, Pocong, Orang Hutan" Jawab Ki Mahesa sambil menancapkan obor ke tanah goa. "Jangan hiraukan mereka, Mereka tidak akan bisa masuk kesini" Ucap ki Mahesa sambil mengobati kembali Taka. Ketika sedang di obati Taka terus meronta-ronta ketakutan. Dalam mimpi Taka. Taka terduduk di dalam kegelapan hanya indera pendengaran yang ia bisa gunakan karena selain itu tidak berguna. Matanya tidak berguna karena ia hanya melihat gelap di sekililingnya, Penciumannya tidak berguna karena ia tidak meraTakan bau apapun, Dan indera yang lainpun demikian. "Kau hanyalah penghalang bagi Ratu kami, Kau harus mati hari ini juga karena ragamu saat ini bukan milikmu lagi melainkan milik Ibu Ratu" Ucap suara Pria yang menghantui mimpi buruk Taka. "Cepatlah berikan tubuhmu kepada anakku" Ucap suara wanita yang silih berganti di dalam mimpi buruk itu. Sedangkan Ki Mahesa terus menempelkan tangan kanannya di kepala Taka agar ia terbebas dari mimpi buruk itu. Selang beberapa menit barulah ki Mahesa baru berhenti lalu berbicara kepada Danan. "Temanmu nampaknya sudah baikan, Aku akan pergi namun sebelum aku pergi aku akan memberimu saran bahwa kau harus mengelilingi Pulau ini" Ucap Ki Mahesa pada Danan yang berada di belakangnya. Ki Mahesa lalu mengucapkan mantra "Energi Ghaib: Teleport" seketika ia menghilang dari gua itu dibarengi dengan munculnya asap. Dikarenakan badannya yang sudah capek danan pun lalu tertidur di dalam goa dalam keadaan bersandar ke dinding goa. Malam yang sama di tempat berbeda Ki Mahesa tiba di sebuah bangunan tua di sebuah bukit di dekat hutan itu, Ia menemui seorang pria. "Sudah aku laksanakan bos" Ucap Ki Mahesa di belakang orang itu. Orang itu berbalik menghadap Ki Mahesa. (Orang itu adalah yang membantu Taka serta Danan ketika mereka berdua di kepung). "Baiklah urusanmu sudah selesai Ki, Aku ucapkan terima kasih. Sekarang aku akan pergi menemui orang lain mau kau ikut denganku?" Tanya pria itu sambil berjalan di sebelah Ki Mahesa. "Tentu Tuan, Aku akan mengikuti anda kemanapun" Jawab Ki Mahesa. "Untuk sementara kita akan beristirahat disini" Ucap pria itu. "Biarkan aku berjaga tuan" Jawab Ki Mahesa. Pria itu tertidur sedangkan Ki Mahesa berjaga karena takut akan adanya serangan mendadak. ESOK HARI KOTA YANG SAMA. Seorang Petinggi Prajurit Nusantara mendatangi kota yang sudah luluh lantak itu. Sesampainya di gerbang kota tersebut Ki Brawijaya selaku Pemimpin pasukan itu berkata: "Suasana kota seperti ini mengingatkanku 18 Tahun yang lalu". Ucapnya. "Panggil siapa saja orang yang bertanggung jawab disini terutama kaptennya" Lanjut Ki Brawijaya. (Ki Brawijaya adalah satu dari 3 Jendral di Nusantara, tingkatnya di bawah 4 Jendral Besar). "Sebaiknya kalian Bereskan kekacauan disini, Aku akan pergi mencari informasi dan jangan lupa esok hari bawa orang yang bertanggung jawab kehadapanku" Ucap Ki Brawijaya yang kemudian berjalan pergi menuju sebuah bukit di ujung kota. Sesampainya di bukit itu Ki Brawijaya menuju sebuah bangunan yang dimana Ki Mahesa sedang beristirahat. "Gawat Tuan, Aku meraTakan Aura Tingkat tinggi menuju kesini" Ucap Ki Mahesa kepada Orang itu. "Tenang saja, Aku tahu itu siapa" Jawab orang itu. Ki Mahesa lalu melihat dari jendela depan. "Bukankah itu salah satu orang terkuat di Pemerintahan bagaimana mungkin ia tahu kita berada disini" Ucap Ki Mahesa dengan wajah sedikit terkejut. "Tenang saja biar aku yang tangani ini" Jawab orang itu yang kemudian berjalan untuk membuka pintu. "Indra! keluar Kau!" Teriak Ki Brawijaya. "Aku disini Ayah" Jawab orang itu. (Indra adalah nama samaran untuk orang tersebut, Ia adalah pemimpin gerakan bawah tanah nusantara). "Masih berani kau menyebutku ayah" Ucap Ki Brawijaya sambil memukul wajah Indra. Indra terlempar seketika ke belakang. "Sebaiknya kau pergi Mahesa, Seharusnya kau tahu seberapa kuatnya ilmu kebatinan yang ia miliki" Ucap Indra yang sudah berdiri di ujung bangunan. "Aku akan melihat dari kejauhan tapi apabila kau sudah terpojok maka aku akan membantumu tuan" Ucap Mahesa yang kemudian melompat ke sebuah dahan pohon. "Bukankah kau sudah berjanji Indra tidak akan m*****i dia dengan hal tidak berguna" Ucap Ki Brawijaya dengan nada tinggi. "Diam kau orang tua cerewet" Teriak Indra yang berlari ke arah Ki Brawijaya. Di lain tempat Taka serta Danan pergi dari goa itu dan berjalan ke arah matahari terbit (timur) mereka terus menyusuri hutan hingga siang hari. "Berhenti dulu Dan, Aku lapar" Ucap Taka di yang berada didepan Danan. "Apa yang harus kita makan?" Jawab Danan di belakang Taka. "Bukannya kau seorang pemanah coba cari kambing hutan" Jawab Taka. "Baiklah, Aku akan mencari kambing hutan dan kau harus mencari kayu bakarnya bila perlu carilah sungai" Jawab Danan yang kemudian pergi. Taka yang sedikit memiliki ilmu mata terawang kemudian coba menggunakan ilmu itu dengan cara memejamkan mata beberapa saat. "Ketemu" Teriak Taka yang kemudian mengambil sebuah kaleng kecil dari dalam sakunya. "Untung saja Danan memberikanku ini" Ucap Taka. -Percakapan di Telepon kaleng- "Danan? Danan?" Ucap Taka sambil memegang kaleng itu di depannya. "Apa Taka?" Jawab Danan di lain tempat melalui kaleng yang ia bawa. "Aku menemukan sungai di arah selatan" Jawab Taka. "Baiklah kau duluan nanti aku menyusulmu, Aku membawa kompas" Jawab Danan. "Kau dapat kompas darimana?" Jawab Taka. Danan kemudian melepas tombol yang ia tekan lalu memasukan kembali kaleng itu ke dalam tas kecil di pinggangnya. Taka lalu pergi ke arah sungai sesampainya di sana ia langsung mandi serta membersihkan pedang, keris yang ia bawa. "Mungkin kelak aku hanya memakai keris serta tangan kosong, Rasanya berat sekali aku memakai mu" Ucap Taka sambil terus membersihkan pedangnya dari darah. Setelah selesai mandi dan membersihkan pedangnya ia kemudian memakai kembali pakaiannya lalu membuat api unggun. Beberapa lama kemudian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD