Jleb
Matheus melotot, mulutnya sedikit mengganga. Dan kemudian dahinya mengkerut saat tau apa yang sedang terjadi dengan Rhea. Rupanya, kuku-kuku runcing itu sudah menembus bagian punggung Ratu Rhea. Darah keluar sangat banyak dari luka di punggung Ratu Rhea. "Ratu Rhea!" Teriak Bernardus. Matheus berlari menghampirinya dan hendak menghentikan Bernardus yang semakin menggila, ia sangat menikmati proses kematian Ratu Rhea dengan menyiksanya sedikit demi sedikit. Kemudian kibasan tangan Bernardus membuat Matheus terpental saat dirinya sudah berada dekat dengan Ratu Rhea.
Pengawal kerajaan manusia serigala itu bangkit. Ada amarah yang tersulut diantara ekspresi wajahnya. Ia berjalan sambil..
"Lepaskan dia Bernardus!" berteriak pada Bernardus yang sangat senang menyiksa Ratu Rhea. Ucapan Matheus diabaikanya. Bagi Bernardus, menyiksa Ratu Rhea lebih mengasikan dibanding ia harus mendengarkan atau menuruti perintah panglima besar kerajaan manusia serigala itu.
Kemudian Matheus meraih pedangnya, ia mengayunkan dan mengarahkan pada leher Bernardus, sayangnya Bernardus sudah lebih dulu mengetahui apa yang mau Matheus lakukan padanya. Ia membuka lebar-lebar telapak tangannya, ia arahkan pada Matheus. Seketika tubuh Matheus terpental lagi, kali ini tubuhnya beradu sangat keras kepohon besar, tertimpa salju hingga menutupi tubuhnya.
Senyum Bernardus terlihat sangat senang ketika ia ingin membunuh ikan kecil, ia justru mendapatkan ikan besar. Ia berhasil melukai ratu para manusia serigala yang sedang sekarat. Bernardus kemudian mengangkat tubuh Ratu Rhea yang sudah sangat kesakitan. Ia melempar tubuh Ratu Rhea, terseret hingga ketumpukan salju. Ia menahan sakit, tangannya terus membekap Hermes.
Matheus bangun dan keluar dari tumpukan salju itu. Ia melihat apa yang telah terjadi pada Ratu Rhea. "Ratuuu!!" Teriaknya menghampiri Ratu Rhea. Darah sudah tercecer di putihnya salju yang semakin lebat turun ke bumi. Ratu Rhea tidak menjawab, ia hanya sedang mengkhawatirkan anaknya.
"Ratu ... ratu, anda tidak apa-apa Ratu?" Tanya Matheus, ia sangat kuatir. Wajah cemasnya sangat terlihat, bahkan Matheus hampir menangis melihat keadaan Ratu Rhea yang menurutnya sangat baik. Ratu Rhea mulai menolehkan kepalanya, melihat Matheus dengan senyuman yang sangat getir dan dingin. Datar tanpa ekspresi. Walau Ratu Rhea memaksa untuk tersenyum, namun ada kesedihan yang tersimpan di balik rasa sakit dan juga senyuman itu. Tangannya menjuntai, menyentuh pipi Matheus.
"Ma-theus.. to-long.. se-la-mat-kan a-nak-ku!" Kata Ratu Rhea mulai melepaskan pelukannya pada Hermes dan menyerahkan pada Matheus.
"Gak ratu, ratu harus kuat! Ratu pasti bisa melewati ini semua ini demi pangeran!!" Ujar Matheus. Perasaannya bercampur aduk, antara marah, sedih, dan juga takut berbaur dan mengaduk di dalam hatinya.
"Wak-tuku tak a-kan la-ma la-gi! Ba-wa-lah a-nakku per-gi," pinta Ratu Rhea menggenggam lengan Matheus sangat erat. Salju yang terus berdatangan dari langit, membawa udara dingin yang kian semakin dingin. Ratu Rhea yang pucat semakim pucat. Bibirnya kini membiru, tangannya diangkat. Memberikan Hermes pada Matheus dengan pelan.
Matheus tidak dapat berkata-kata, ia hanya bisa memandang Ratu Rhea dan menerima anak dari raja dan ratu para manusia serigala. Memandang secara bergantian kearah Ratu Rhea dan Hermes. Memandang dengan iba anak kecil yang harus ditinggalkan kedua orang tuanya.
Bernardus tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bisa membunuh Ratu Rhea dan Matheus. Tetapi ia sudah lupa apa yang dikatakan raja Argos padanya agar tidak membunuh Ratu Rhea. Bernardus melesat cepat menghampiri Matheus dan Ratu Rhea. "Aku tidak akan membiarkan kalian hiduup!!" Teriak Bernardus kembali menyerang. Baginya, membunuh itu sangat menyenangkan.
"Ce-pat la-ri da-ri si-ni!!" Kata Ratu Rhea lagi sedikit memohon. Matheus menuruti dengan berat hati untuk meninggalkan Ratu Rhea dalam keadaan terluka sangat parah. Ia bangun dengan wajah yang masih terlihat marah. Selangkah demi selangkah kaki itu mulai meninggalkan Ratu Rhea.
Ratu Rhea berusaha bangun disisa-sisa tenaganya. "Aku akan menghalangi kamu, Bernardus!" Ujarnya berdiri, mungkin, sisa hidupnya tak akan lama lagi. Dan ia merasakan rasa sakit yang mulai menghantui seluruh tubuhnya. Keringat dingin tetap saja mengucur walau salju terasa sangat membekukan tulang belulangnya.
Dari kejauhan, Bernardus sudah semakin mendekat. Mendekat dan terus mendekat hingga sudah sangat terlihat walau pandangan matanya semakin berbayang. Ratu Rhea, ia mulai merubah dirinya sedikit demi sedikit. Kuku-kuku yang mulai meruncing, telinga yang mulai memanjang keatas. Lalu bulu-bulu putih mulai menutupi seluruh tubuhnya.
Kemudian..
Lolongan panjang pun terdengar sangat pilu walau sesaat tadi ia mengerahkan keberaniannya untuk melawan Bernardus. Matheus berhenti sebentar dan mendengar lolongan milik Ratu Rhea, hatinya terenyuh mendengarnya. Dan rasa sesal yang ia rasakan di dadanya, rasa sesal karena ia tidak bisa melindungi Raja dan ratunya. Kemudian ia menoleh pada Hermes, "Aku berjanji akan melindungi pangeran Hermes, Raja Cronos dan Ratu Rhea. Melindungi dengan segenap jiwaku," katanya berikrar pada dirinya sendiri.
Vampire-vampire anak buah Argos yang lain mulai mencium bau darah Ratu Rhea yang keluar terus menerus dari luka di punggungnya. Mereka mulai mendatangi tempat di mana bau darah itu tercium oleh imsting vampire mereka yang memang sangat menyukai darah.
Ratu Rhea berlari dengan tubuhnya yang selama ini ia sembunyinya. Bulu-bulu berwarna putih sudah memenuhi tubuhnya. Moncong dan kebrutalannya merubah wajah cantiknya dalam seketika. Bagi darah murni seperti Ratu Rhea dan Raja Cronos, perubahan fisiknya tidak lagi memerlukan waktu bulan purnama. Mereka yang berdarah murni kapan saja bisa berubah menjadi serigala bila keadaan mereka terancam. Lain dengan Matheus yang berdarah campuran, ia akan berubah bila bulan dalam keadaan sepenuh lingkaran.
Ratu Rhea mengayunkan tangannya, menyerang bagian wajah Bernardus. Namun dengan sangat cepat Bernardus menundukan wajahnya. Kemudian kuku-kuku runcing vampire itu melukai bagian perut Ratu Rhea. Bukan hanya itu, Bernardus juga membuat Ratu Rhea mundur beberapa langkah dengan tinju yang Bernardus layangkan. Bagian perut Ratu Rhea terlalu mudah buat diserang.
Ratu para werewolf itu tampak marah dan kesal. Ia melihat luka di tubuhnya bertambah. Menatap tajam kemudian kearah Bernardus yang bersikap biasa saja dengan ekspresi meledek.
Kemudian ia tertawa, seolah kemenangan sudah ia dapatkan dari bangsa werewolf yang hampir selurub rakyatnya sudah mati dibantai oleh bangsa vampire yang di bawah pimpinan raja Argos. "Kenapa Ratu? Apakah anda sudah kehabisan tenaga dan kekuatan anda itu?"
Napas Ratu Rhea terdengar kelelahan. Napasnya sangat menderu. Andai saja bukan untuk menghalangi Bernardus yang mengincar Anaknya di tangan Matheus, mungkin ia sudah menyerah dan ingin segera menyusul suaminya, Raja Cronos. Tapi, ia bertekad akan menyelesaikan pertarungan ini hingga titik darahnya yang terakhir.
Dan, satu persatu anak buah Argos mulai berdatangan. Ratu Rhea sudah terkepung dan terjebak dalam pertarungan licik para vampire-vampire pengkhianat.
Lalu, apakah Ratu Rhea mampu mengalahkan lima orang anak buah Argos? Dan dapatkah ia hidup dan menyusul Matheus yang sudah lebih dulu membawa anaknya, Pamgeran Hermes.
****
Bersambung..