Bab 4 - Granny

1532 Words
Pertama kali Reine menginjakkan kaki keluar gedung dia menyadari kalau dunia ini memang berbeda. Langitnya masih biru seperti langit pada umumnya. Namun awan-awannya terlihat berwarna-warni. Tadinya dia pikir hanya warna hijau saja. Tapi ada warna merah muda, ungu muda dan kuning. Udaranya terasa segar seperti berada di daerah desa yang belum ramai. Pohon-pohon tinggi besar dengan daun yang berwarna-warni juga. Dia bisa mendengarkan suara serangga-serangga kecil di sini. Mereka berjalan sekitar lima belas menit untuk tiba di rumah nenek. Rumahnya terbuat dari kayu berwarna gelap model vila-vila yang pernah dia lihat di Bogor. Ada taman kecil di depan dengan bunga-bunga biru yang mekar. Seorang manusia bertelinga kucing sedang memotong pagar tanaman seakan dia sedang berkebun. Di sisi lainnya ada yang memenuhi pot dengan tanah sambil mengibas ekornya santai. Ada beberapa anak kucing yang sedang mengejar-ngejar serangga terbang, capung mungkin. Agak jauh ke kiri dia masih bisa melihat segerombolan anak bertelinga kucing bermain lompat tali. "Ayo masuk, masuk." Nenek membuka pintu lebar mengajaknya masuk. Baru satu langkah, kepala Reine hampir saja terkena lemparan bola. Bola itu berputar di sekeliling kepalanya beberapa kali sebelum menukik tajam ke atas dan berhenti kayu tempat jam besar bertengger. Reine heran sekaligus takjub melihat benda bulat itu bergerak sendiri. "Owi, kalau mau main bola di luar nak." tegus Nenek ke seorang anak kecil berambut pirang. "Kalau di dalam, nanti kena yang lain bagaimana? Kasihan kan kalau sampai ada yang luka." "Maaf Nek." katanya malu. Anak itu bersiul kecil. Bola yang tadi sudah nongkrong di atas kayu penyangga jam, kini melompat tinggi hingga sampai ke tangan anak itu. Owi menangkapnya dengan giginya sebelum berlari keluar. Tidak lama beberapa anak kecil lain keluar dari tempat mereka bersembunyi. Ada yang di kolong kursi, di belakang gorden, di dalam lemari dan di sela-sela piano. Mereka semua berlari keluar mengikuti anak bernama Owi. Reine hampir saja tertabrak anak-anak ini. "Anak-anak, selalu bersemangat. Padahal ini sudah waktunya tidur siang." kata Nenek sambil menggeleng pelan. Nenek masih mengajak Reine masuk ke bagian rumah lebih dalam. Masih ada anak kecil lain di sana. Ada yang menggarukkan kukunya ke dinding kayu, membaca buku, ada juga yang hanya tiduran malas di karpet anak. Rumah ini banyak sekali anak kecil. "Kamu bisa letakkan Yoyo di sana. Waktu tidur siang tidak lama. Jadi tidak perlu dibawa ke kamar. Sebentar lagi dia juga bangun dan ingin main." Nenek mengajak Reine pergi ke ruangan lain. Ruangan itu memiliki meja panjang dengan banyak kursi dengan beberapa kursi tinggi untuk anak-anak. Langit-langit atasnya diselingi genteng-genteng kaca yang membuat ruangan itu terang. Aroma makanan yang lezat dan kue-kue manis memenuhi ruangan itu. Nenek menyuruh Reine duduk. Lalu dia pergi ke satu pintu dan kembali dengan dua cangkir besar di tangannya. "Silakan." sambil menyodorkan gelas berisi teh. "Ah, terima kasih Nek. Maaf merepotkan." "Tidak, tidak sama sekali. Saya malah senang kamu datang. Sudah lama sekali tidak ada manusia baru di sini." Perkataan Nenek membuat Reine berpikir. Sepanjang jalan tadi memang dia tidak melihat manusia lain tanpa telinga dan ekor kucing selain nenek ini. Dia jadi sedikit takut. "Dari mana kita mulai ya. Oh bagaimana dengan perkenalan?" senyum Nenek ramah. "Nama saya Leala Rena. Tapi di sini orang-orang lebih banyak memanggil saya dengan Nenek Leala atau Nenek saja." "Saya Reine Liem. Biasa dipanggil Reine." katanya sedikit malu. Harusnya dia duluan yang memperkenalkan diri. "Ah nama yang bagus." sambil mengangguk. "Kamu pasti punya banyak pertanyaan. Silakan saja tanyakan. Nenek akan menjawab sebisa Nenek." Tentu saja banyak sekali yang ingin dia tanyakan. Semua hal di dunia ini terlihat tidak nyata. Dia tidak sedang ada di drama kan? "Ini di mana?" "Oh nak pertanyaanmu terlalu luas." kekehnya. "Jika kau bertanya rumah, tempat ini bernama Catyzokan. Rumah yang diperuntukan untuk mengasuh bayi-bayi dan anak kucing yang terlalu muda untuk masuk asrama. Jika kau bertanya kota, kita berada di kota kecil bernama Gerdinlix. Kota yang sebagian besar penduduknya berkebun dan mengelola tanaman hias. Gerdinlix adalah bagian dari Prefektur Cazo, salah satu dari empat prefektur di kerajaan Nekono Palais. Tapi jika kau bertanya keseluruhan kau berada di dunia apa. Kau berada di Nekoroyaume, dunia manusia kucing." Oke, jawaban Nenek Leala terlalu banyak untuk dicerna. Reine menarik napas berat dan meminum sedikit tehnya. "Oke, jadi... jadi ini di Cat.. Caty.." "Catyzokan." "Iya itu. Tempat ini untuk mengasuh bayi dan anak kucing?" "Ya." "Bagaimana mereka bisa ada di sini? Apa mereka anak-anak terlantar tanpa orang tua?" Nenek Leala diam agak lama sebelum menjawab. "Mereka berada di sini karena mereka mati muda saat di dunia manusia." Hal itu membuat Reine terkejut. Jantungnya berdetak cepat. "Mati muda?" "Kau pasti tahu nak betapa kejamnya dunia manusia terhadap hewan-hewan di jalanan. Bahkan tidak hanya di jalan, hewan peliharaan pun juga sering yang mati muda. Entah karena penyakit, perbuatan manusia atau kegagalan induknya saat merawat anak kucingnya. Rata-rata yang berada di sini adalah anak kucing dari umur nol sampai satu tahun dunia manusia. Untuk hitungan umur kucing berarti sekitar umur nol sampai lima belas tahun. Sebelum mereka pergi masuk sekolah khusus untuk belajar." "Apa semua kucing yang mati di dunia akan berada di sini?" pikiran Reine berputar cepat. 'Mungkinkah Milko ada di sini?' batinnya berharap. "Itu pertanyaan yang sulit nak. Nenek sendiri tidak tahu apakah semua kucing yang mati jiwanya akan dipindahkan ke sini. Nenek tidak pernah tahu."katanya sendu. "Tapi Nenek tahu di setiap daerah memiliki Catyzokan-nya masing-masing. Tidak mungkin tempat sekecil ini menerima semua jiwa anak kucing dari seluruh dunia." jawabnya halus. Wajah surut Reine terbaca jelas oleh Nenek Leala. "Kenapa nak? Apa ada teman kecilmu yang meninggal?" Reine tersenyum pahit. "Saya punya seekor anak kucing yang baru meninggal beberapa hari, sebelum saya... kecelakaan." dia menghela napas. "Itu kali pertama saya mencoba merawat bayi kucing di rumah. Saya belum mengetahui banyak hal soal merawat kucing. Keteledoran saya membuatnya..." Reine tidak ingin mengucapkannya. Hatinya masih sakit. "Apa dia sakit?" "Iya, Panleukopenia. Saya terlambat sadar. Saya kira dia hanya kurus karena bawaan dna. Saya tidak tahu kalau dia sakit. Saya sangat terlambat saat membawanya ke dokter." matanya sudah mulai berkaca-kaca lagi. "Oh, anak yang malang."ujarnya. "Panleukopenia memang salah satu virus yang berat. Banyak yang mati jika terkena virus itu. Penyakit yang sulit disembuhkan karena virusnya menyerang sel darah putih dan belum ada obat khusus untuk menyembuhkannya." Reine mengangguk tak berani bersuara. Setiap kali mengingat kucingnya dia akan menangis. Nenek menyodorkan sapu tangan padanya. Nenek juga mengelus pundaknya. "Tidak apa-apa. Kau sudah berusaha. Kau bahkan membawanya ke dokter kan." Reine mengangguk kecil. "Maaf kalau Nenek membuatmu sedih. Boleh nenek tahu berapa umurnya? Mungkin dia ada di sini." "Dia berumur lima bulan saat meninggal." "Lima bulan, sangat muda. Kalau di sini dia sudah hampir berumur sepuluh tahun. Siapa namanya?" "Milko. Namanya Milko." "Hm... Nenek tidak yakin ada di sini. Tapi nanti akan nenek cek di registrasi. Kalau memang tidak ada, kita bisa tanyakan ke Catyzokan lain." "Terima kasih Nek." Mereka minum teh dengan pelan. Nenek bahkan ke dapur lagi untuk mengambil sepiring biskuit. Mereka diam sambil menunggu Reine cukup tenang untuk berbicara. "Nek, saya masih bingung kenapa saya berada di dunia ini." "Oh, itu pertanyaan mudah. Apa saat kau berada di dunia kau suka mengasihi kucing-kucing?" "Um.. saya sering bawa makanan kucing kalau berpergian sih. Kalau ada kucing, saya akan kasih. Apa yang nenek maksud mengasihi seperti itu?" "Iya bisa yang seperti itu. Kau seorang Cat Fairy kalau begitu." Nenek mengangguk-angguk. "Manusia yang bisa datang ke sini adalah manusia yang suka mengasihi kucing, salah satunya Cat Fairy. Tapi tidak semua Cat Fairy akan bereinkarnasi ke sini. Hanya orang-orang terpilih yang akan dikirim Dewi Kucing untuk bereinkarnasi di Nekoroyaume." "terpilih?" "Iya. Umumnya seorang Cat Fairy akan datang setiap seratus tahun sampai seratus lima puluh tahun sekali. Tergantung keadaan. Ada juga beberapa dokter hewan yang muncul dalam dua puluh dan tiga puluh tahun terakhir. Tapi dokter hewan agak berbeda dengan Cat Fairy kan? Mereka dokter." "Wah, jadi nenek sudah lama ada di sini?" "Bisa dikatakan seperti itu. Umur di sini berbeda dengan umur di dunia manusia. Seratus tahun di sini tidak akan terasa sama dengan seratus tahun di dunia manusia. Sayangnya manusia yang bereinkarnasi ke sini umumnya tidak bisa menua. Mereka akan hidup seperti di umur mereka mati. Nenek meninggal saat umur nenek enam puluh lima tahun dan sekarang pun nenek masih seperti ini. Kecuali kalau Dewi Kucing berkehendak lain." jelasnya. "Ngomong-ngomong berapa usiamu nak? Kau terlihat sangat muda." "Saya dua puluh lima tahun." "Wah, nenek kira kau masih belasan tahun. Wajah mu masih seperti gadis SMA." "Nenek." ujarnya malu. Nenek terkekeh. "Jujur saja nenek kaget saat menemukan mu. Kau masih sangat-sangat muda untuk bereinkarnasi ke sini. Biasanya manusia yang datang berumur di atas empat puluhan." "Eh!" Reine sangat terkejut mendengarnya. Tidak mungkin kan dia manusia termuda yang ada di sini. Apa dia kasus tidak normal di tempat yang menurutnya tidak normal ini? "Nenek rasa Dewi Kucing melihat sesuatu di masa depan sehingga memutuskan mengambil jiwa anak muda ke sini. Persiapkan dirimu Nak. Nenek rasa akan ada sesuatu yang terjadi." "Nenek, jangan membuat saya takut." Reine tidak mungkin muncul ke dunia ini untuk menjadi Heroine seperti di game-game kan? Dia manusia normal. Manusia yang super duper normal dan membosankan. "Tidak perlu takut. Untuk sekarang bagaimana kalau bantu nenek memasak? Apa kau bisa masak? Kita bisa masak sambil ngobrol." "Saya bisa. Tentu saya akan bantu nek."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD