Hidup di Catyzokan membuat Reine memiliki rutinitas baru. Dia bangun pagi membantu nenek membuat sarapan. Kemudian menemani anak-anak makan, memastikan mereka tidak jatuh tertidur ke mangkuk mereka. Baru setelahnya bersih-bersih. Kadang dia tidak ke gedung bayi karena sibuk menemani anak-anak bermain. Dia tidak ke gedung bayi karena di sana lebih banyak yang membantu menangani daripada di rumah utama.
Saat sore Nenek akan mengajak anak-anak ke kebun untuk menanam atau menyiram tanaman. Karena Catyzokan mereka berada di kota Gerdinlix yang terkenal dan hasil kebun dan tanaman hiasnya, jadi anak-anak kucing ini harus tahu bagaimana cara berkebun. Syukurlah kebanyakan anak-anak suka bermain dengan tanah jadi tidak sulit untuk menyuruh mereka kotor-kotoran. Hanya segelintir yang takut bulu mereka kotor. Setelah selesai bermain, Reine akan menggiring anak-anak untuk mandi.
Reine masih ingat betul saat pertama kali dia mencoba memandikan anak-anak di sini. Ada yang mengamuk tidak mau masuk kamar mandi. Reine harus menggendongnya dan masuk ke bak pemandian dengan pakaian lengkap agar dia mau mandi. Anak itu mulai diam dan tenang saat Reine membasuhnya dengan air hangat. Walau begitu anak manis itu tidak mau melepaskan pelukannya.
Karena kejadian itu, ada beberapa anak menjadi bersemangat mandi tanpa melepas pakaiannya. Dia pikir itu cara mandi baru yang menyenangkan. Reine sampai kesulitan karena jadi banyak baju basah. Kalau baju sudah basah mesti buru-buru dicuci agar tidak bau apek. Sama saja menambah kerjaan lagi. Nenek hanya tertawa melihat antusiasme anak-anak. Dia juga memuji Reine atas usahanya memandikan mereka.
Pada malam hari Nenek akan mengajari Reine membaca. Dia akan menyuruh Reine mengulang pelajaran hari sebelumnya baik tulisan dan lisan. Reine akan menghapal di kamarnya sebelum tidur. Kadang dia akan tertidur di atas buku tulisnya.
"Kak Reine, kak Reine, lihat Winwin gambar Kak Reine!" seru seorang anak kucing bertelinga abu-abu.
"Wah, Winwin pintar sekali menggambarnya." pujinya melihat gambar stik manusia dengan kepala besar dan rambut pendek. Ada tambahan senyum di kepalanya. "Kalau ini siapa?"
"Winwin!" jawabnya. "Winwin dan Kak Reine."
Reine memuji anak itu lagi sambil mencubit pipinya. Anak-anak lainnya mulai meminta perhatiannya sambil memanggil-manggil namanya. Reine akan mendatangi mereka satu-satu sambil memastikan anak lainnya tidak melakukan permainan berbahaya. Cukup sulit karena hanya dia yang berjaga di sini.
Dia sudah bertemu dengan anak-anak umur dua belas sampai empat belas tahun. Mereka tidak terlalu banyak bermain seperti yang lebih muda. Mereka lebih banyak belajar pelajaran dasar sebelum masuk sekolah khusus. Ada guru sendiri untuk mereka. Nenek Leala juga tidak banyak ikut campur dengan mereka karena anak-anak umur segitu sudah cukup besar dan bisa mengambil tindakan sendiri. Lagipula tetap ada batasan antara apa yang bisa dilakukan manusia dan apa yang tidak di Nekoroyaume.
Reine sudah seminggu di sini jadi dia sudah mulai hapal nama anak-anak di sini. Setiap jam main, semua anak berbaur dengan semangat. Owi suka memainkan bolanya dengan kemampuan sihirnya dan anak-anak lain akan mengejarnya. Winwin suka menggambar dan saling berlomba dengan temannya yang lain untuk membuat gambar paling bagus. Bagi anak yang suka membaca, mereka akan duduk di sudut ruangan dengan lingkaran biru di bawahnya. Lingkaran itu adalah lingkaran sunyi, lingkaran sihir agar suara dari luar tidak masuk ke dalam. Area itu sengaja dibuat jadi pengawas tidak kesulitan mengawasi semua anak saat bermain karena dulu ada yang celaka saat anak yang suka membaca terpisah dari yang lain.
Ada satu anak yang membuat Reine agak khawatir. Dia anak yang pertama kali Reine temui saat terbangun di Nekoroyaume. Yoyo, anak kucing yang pendiam dan terlihat jauh dari teman-teman lainnya. Dia selalu bermain sendiri dengan suara berbisik tidak jelas. Dia tidak ikut lari-larian ataupun bermain bola. Dia hanya bermain dengan mainan yoyonya dengan menggulirkannya.
Reine merasa khawatir jika Yoyo sebenarnya dijauhi anak-anak lainnya karena tidak ada yang mengajaknya bermain. Dia mencoba mendekatinya, tapi anak itu akan buru-buru pindah dari tempatnya dan bersembunyi di belakang sofa. Semoga saja anak itu hanya pemalu, bukan karena dibully yang lain.
Jam makan malam datang. Reine sesekali memperhatikan Yoyo yang makan dalam diam. Anak itu makan dengan rapi tidak seperti yang lainnya jadi tidak ada alasan bagi Reine untuk mendekatinya. Hati Reine masih merasa tidak tenang melihat sikap diam anak itu. Selesai jam makan, Reine mengantar anak-anak ke kamar mereka. Baru dia bebas dan bisa belajar dengan Nenek.
Nenek Leala sedang menelpon seseorang saat Reine sampai di ruang baca. Oh iya di dunia ini mirip sekali dengan dunia manusia sekarang. Ada listrik dan sambungan internet. Jadi bisa untuk menonton televisi atau game laptop. Nenek Leala memilih untuk tidak menaruh televisi di rumah ini agar anak-anak bisa bermain tanpa terpaku tayangan televisi. Jadi anak-anak bisa lebih aktif dan kreatif dalam kesehariannya.
Reine menunggu dengan sabar. Dia tidak bisa mendengar pembicaraan nenek karena suaranya lembut sekali. Kalau nenek akan bertelepon lama, Reine akan mulai belajar sendiri di kamar. Baru dia akan beranjak dari tempat duduknya, Nenek Leala kembali.
"Reine."
"Iya nek?"
Raut wajah Nenek tidak benar-benar baik. Seperti orang yang habis mendengar kabar buruk.
"Nenek baru di kabari dari Catyzokan di kota sebelah tentang anak bulu kamu yang namanya Milko. Tiga tempat menjawab mereka tidak memiliki anak dengan nama itu."
Nenek benar-benar mencari tahu di mana keberadaan Milko. Dengan berbekal nama, warna bulu dan perkiraan umurnya, nenek menelpon beberapa Catyzokan yang nenek tahu. Sesuatu yang sangat Reine apresiasi. Tapi sampai sekarang belum ada kabar baik. Reine hanya berterima kasih tidak tahu harus menjawab apa.
Dia hanya berharap bisa bertemu lagi dengan Milko. Katakanlah dia belum mengikhlaskan kepergiannya. Jadi harapan itu tetap ada. Nenek pernah menjelaskan bahwa dia tidak tahu pasti apakah semua kucing yang mati di dunia akan ditransfer ke dunia ini. Tapi tetap saja hati kecil Reine berharap dia ada.
"Kau sangat cepat belajar nak. Kalau kau mau nenek akan belikan buku yang lebih advance."
"Aduh jangan dulu nek. Reine masih jauh dari mengerti semua tulisan ini." melasnya.
Nekorogrif menggunakan kombinasi huruf, simbol dan gambar. Satu huruf cara bacanya dibaca dengan huruf vocal seperti cara membaca hiragana. Kemudian jika ingin menulis huruf vocal di awal kata, tidak boleh berdiri sendiri dan harus ditambah simbol lingkaran. Mirip dengan cara menulis hangeul korea. Gambar sendiri punya makna-makna. Seperti gambar yang memiliki gambar mata itu berarti berhubungan dengan penglihatan atau tempat di atas. Gambar pintu berarti sekat atau pelindung. Gambar matahari melambangkan cahaya dan masih banyak lagi.
"Nek Reine ingin bertanya"
"Hm?"
"Yoyo... apa dia anak yang sangat pemalu? Maksud Reine, Yoyo begitu pendiam dan tidak ikut bermain dengan anak lainnya."
"Oh, dia memang anak yang sangat pemalu nenek rasa."
"Bukan karena dibully kan? Aku hanya merasa khawatir dia mengalami sesuatu yang tidak berani dia ungkapkan. Aku bahkan tidak mendengar dia berbicara dengan anak lainnya. Tapi tiap aku mencoba mendekatinya, Yoyo malah kabur. Padahal dulu pertama kali bertemu dia menjilat pipiku Nek."
Nenek bergumam mendengar keresahan Reine.
"Nenek rasa nenek tahu kenapa Yoyo pendiam." wajahnya seperti orang merasa kasihan pada orang lain.
"Kenapa?"
"Karena Yoyo tidak bisa berbicara seperti anak-anak kucing lainnya."