Bab 37 - The Inn 2

1382 Words
Malam semakin larut. Suara jangkrik menemani bagai orkestra malam tanpa penonton. Angin malam lembah berhembus melewati sela-sela kayu yang berlubang. Hawa dinginnya membuat mereka merapatkan selimut hingga sebatas dagu. Reine berharap gelap ini mengantarnya tidur dengan mudah. Matanya sudah tertutup sekian lama. Tubuhnya bahkan pegal dan lelah berteriak minta istirahat. Tapi perasaannya tidak tenang untuk benar-benar menurunkan kesadaran. Ada sesuatu yang memaksanya tetap bangun. Dia merapatkan tubuh dengan Milko. Anak kecil itu sudah tertidur lagi karena lelah. Dia memang banyak tidur di mobil. Tapi duduk lama dalam perjalanan cukup menguras energinya. Reine hanya bisa membenamkan wajahnya di rambut Milko. Berharap eksistensi anak itu menenangkan dirinya. Perasaannya benar tidak nyaman. Dalam keadaan gelap gulita dia merasa ada yang memperhatikan. Seperti ada sosok yang berdiri di belakang punggungnya dan terus menatapnya dengan intens. Reine tidak suka perasaan ini. Tapi tidak bisa diabaikan juga karena terus terasa. 'Ku mohon... aku sedang tidak ingin melihat hantu. Tolong jangan menampakkan diri dihadapanku. Aku hanya mau numpang tidur di sini. Tolong jangan mengganggu karena aku juga tidak berniat mengganggu.' Reine berbicara dalam hati seakan dia berinteraksi dengan makhluk yang terus menatapnya. Dia membuka sedikit kelopak matanya. Hanya sedikit saja jadi pandangan blur yang terlihat. Ruangan masih sama gelapnya dari terakhir kali. Kosong, sepi, tidak ada tanda-tanda perubahan. 'Oke Reine, coba tidur, satu dua tiga tidur. Ayo kosongkan pikiran dan tidur. Ayo.' Sambil komat-kamit di dalam hati dia kembali memejamkan mata. Saat mulai tenang dia mendengar suara ketukan. Tubuhnya terlonjak sedikit. Duk Duk Duk Reine menelan ludah sulit. Dia menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Tangannya ditekan untuk menutupi telinga. Duk Duk Duk. Suara ketukannya pelan dengan jarak duk... duk... duk.... yang lama. Reine memejamkan mata semakin keras berharap suara itu cepat hilang. Dia bahkan memeluk Milko lebih erat saking takutnya. Setelah mungkin tiga menit, suara itu berhenti. Reine meresa sedikit lega. Dia coba merilekskan sedikit badannya lagi. Baru beberapa saat lega, hidungnya tiba-tiba mencium aroma wangi bunga. Wanginya semerbak seperti parfum yang baru disemprotkan. 'Apalagi Ya Tuhan.' batinnya ingin menangis. 'Oke hanya wangi. Tolong jangan yang aneh-aneh lagi' Kali ini dia merasa tengkuknya merinding dingin. Rasanya seperti ada tangan dingin yang mengelusnya. Reine ingin pulang. Saat kakinya terasa seperti ada yang megang, dia bangkit. "Argh, jangan ganggu!" teriaknya sambil duduk. Dia mengusap kaki dan tengkuknya dengan kasar. Selimutnya dia turunkan lagi hingga menutupi kaki. Ruangan memang gelap, tapi ada cahaya dari jendela yang kacanya kotor. Jendela dengan gorden tipis nyaris transparan. Dari cahaya yang tersisa dia melihat sesosok bayangan tinggi besar di depannya. Bayangan manusia itu menutupi pintu masuk. Reine meremas selimut yang dipegangnya. Matanya lurus memandang bayangan itu. Dia takut tapi juga tidak yakin untuk bergerak. Dia hanya bisa memandang seakan menunggu bayangan itu bergerak. Satu tangannya sudah memegang erat bantal yang dia gunakan. Bayangan itu menerjangnya. Reine melemparkan satu-satunya benda yang ada di tangannya pada bayangan itu. Namun benda itu menembus badan bayangan. Reine yang takut langsung menelungkupkan badannya di atas Milko, refleks melindungi anak itu. Tinggal beberapa inchi lagi bayangan itu menyentuhnya, sebuah cahaya ungu menyala di tembok lalu menyambar bayangan. Makhluk hitam itu berteriak keras. Suara srieknya bisa membangunkan seisi hotel. Makhluk itu mundur dengan sulit lalu keluar lewat selipan di bawah sela pintu. Aroma bunga tergantikan oleh bau hangus terbakar. "Reine?" Milko berkata dengan nada mengantuk. "Berisik." Reine menegakkan badan. Dia menoleh ke seluruh ruangan untuk memastikan makhluk itu hilang. Bernapas lega dia menyandarkan tubuh di kepala ranjang. Matanya melihat ke arah simbol yang dilukis Leonio di dinding. Simbol yang tadinya dilukis tinta merah itu kini hanya tersisa warna gelap saja. 'Aku harus berterima kasih padanya besok.' Reine sudah merasa tenang sekarang. Dia kembali rebahan. Di sebelahnya Milko sudah kembali tertidur. Tipikal anak kecil yang mengantuk. Cepat sekali tidur lagi. Reine baru mencoba kembali tidur saat suara tangisan perempuan. Reine buru-buru tutup telinga lagi. Setelah agak lama dia merasa aneh. Suara tangisannya teredam dan berasal dari lantai bawahnya. Tapi tidak ada hawa merinding seperti tadi. Malah rasa pengap yang ada. Reine bangun lagi. Kali ini dia turun dan berjongkok. Dia mengecek bawah tempat tidur. Kolongnya kosong.  Dibandingkan yang tadi, suara tangisan ini bukannya membuat takut. Tapi bikin Reine penasaran. Dia menempelkan telinganya ke lantau kayu. Suara tangisan teredam itu berasal dari sana. Apa ada ruang bawah tanah di sini? "Hng." gumam Milko. "Reine..." Dia pasti terbangun karena merasa kedinginan. "Maaf Milko. Kakak hanya penasaran dengan suara di bawah sini. Um, kau tidurlah lagi." Milko malah duduk di tempat tidur. Rambutnya acak-acakan dengan wajah mengantuk. Dia menurunkan kakinya dan ikut berjongkok. "Orang menangis?" tanya anak itu. "Iya, Milko juga mendengarnya?" "Un." Keberaniannya bertambah karena Milko ada di sampingnya sekarang. Reine memberanikan diri menempelkan telinganya. Dia mengetuk bahwa lantai dua kali. Suara itu berhenti sebentar. Reine jadi agak takut. Dia bisa mendengar suara ketukannya memantul seperti ada ruang kosong di bawahnya. Saat dia mengetuk kedua kali, suara teriakan minta tolong terdengar. Reine langsung menjauhkan kepalanya dari lantai. "Milko dengar itu?" "To.. long?" Reine mengangguk membenarkan. Lagi keduanya menempelkan telinga dan mengetuk. Suara minta tolong semakin keras. Diiringi suara gedoran pada benda keras. Jantung Reine berdetak kencang. Tiba-tiba dia membayangkan jika di bawah gedung ini ada ruang tersembunyi untuk menyekap orang. Reine melihat sekitar mencoba mencari suatu celah. Dia meraba setiap tempat di lantai. Lantai kayu itu sangat rapi. Reine kemudian melihat ke tempat tidur. Mungkin jika digeser akan terlihat sesuatu. "Reine..." Milko mengentikannya saat Reine berusaha menggesernya. "Jika ada seseorang di sana. Kita harus menolongnya." "Tapi kakak tinggi bilang jangan macam-macam." Reine mau membalas tapi tidak tahu harus berkata apa. Seingatnya Leonio memintanya untuk tidak berbicara macam-macam. Dia kan tidak berbicara. Dia hanya mau menggeser tempat tidur. Tapi jika ternyata ada sesuatu juga belum tentu aman. Jika ternyata orang jahat, Milko bisa berada dalam bahaya. Saat sedang ragu, suara-suara di bawah semakin mengecil. 'Aku tidak akan bisa tidur juga jika seperti ini.' "Milko, bisa kau minta Tuan hunter ke sini?" Milko mengangguk dan pergi keluar. Reine kembali menempelkan telinganya ke lantai. Dia mengetuk lantai lagi bermaksud memastikan. Bukan lagi suara minta tolong, digantikan suara batuk dari sana. Sepertinya memang bukan setan. Leonio datang tanpa jaket. Dia hanya memakai kaos dalaman hitam tanpa lengan dengan celana dan boots lengkap. Matanya terlihat mengantuk. "Ada apa?" Reine menariknya untuk duduk di lantai. "Ada seseorang di bawah. Dengar." bisiknya. Leonio menempelkan telinganya. Reine kembali mengetuk lantai. Ada suara menggedor tapi bukan langsung dari balik kayu lantai mereka. "Aku tidak bohong kan. Bisa kita tolong dia?" Leonio mengerutkan alis. "Apa dia minta tolong?" "Iya, tadi dia minta tolong dengan suara serak. Lalu batuk-batuk. Aku tidak yakin dia punya cukup energi untuk bersuara sekarang. Jika kau tidak percaya tanya Milko. Dia mendengarnya juga." Leonio mengusap wajahnya lelah. Dia juga ingin tidur malah dibangunkan untuk hal seperti ini. "Kita tidak tahu dia siapa dan kenapa ada di situ. Kenapa kau ingin ikut campur masalah yang bukan milik kita." "Kenapa kau berkata seperti itu. Jika ada orang yang butuh ditolong ya harus ditolong. Dia jelas-jelas minta tolong jadi pasti bukan keinginannya berada di situ. Kita tidak tahu sudah berapa lama dia ada di sana. Bagaimana kalau dia mati? Aku akan menyesal seumur hidup jika tidak menolongnya." "Apa kau tidak menangkap maksud ucapanku tadi? Bagaimana kalau dia pelaku kejahatan? Bukankah itu akan membuat masalah baru karena kita melepaskan penjahat?" "Tapi kalau penjahat tidak seharusnya dikunci di bawah kamar hotel seperti ini. Sangat aneh dan mencurigakan. Bagaimana kalau dia disekap karena alasan tidak baik seperti ada psiko yang menahannya? Kita harus menyelamatkannya!" "Kepalamu itu terlalu penuh fantasi nona. Baiklah akan aku periksa." Reine tersenyum penuh kemenangan. Leonio membalasnya dengan tatapan tajam. Hunter itu menarik pisau belati dari harnes gearnya. Dia menggores tangannya membuat sedikit luka di jari telunjuk. Kemudian dia membuat simbol di lantai. Reine tahu itu simbol pintu. "Dari bukit kami memilihmu. Dari hutan kami minta kepinganmu. Empat garis membentuk jendela. Empat sudut membentuk pintu. Berikan kami akses menembus bagianmu." Tangannya dipukulkan ke lantai. Empat sudut sebesar dua ubin ukuran enam puluh sentimeter terbentuk. Cahaya redup keluar dari sana. Sebuah pintu kecil terbentuk. Leonio dengan mudah menarik kenop. Ruangan di bawah terbuka. Gelapnya tempat itu membuat Reine memicingkan mata berusaha melihat. Orang di bawahnya bergerak liar. Dia berteriak tapi suaranya habis jadi batuk yang keluar. Leonio menyalakan sebuah bola kecil seukuran kelereng. Dia melemparkannya ke bawah. Kelereng kecil itu menerangi tempat di bawahnya. "Oh my..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD