Menginap di rumah sakit, membuat Sienna otomatis harus tidur di kamar yang sama dengan Galen -- meski tetap saja keduanya tidak berada di atas ranjang yang sama.
Mama Ilona sudah pulang sekitar satu jam yang lalu. Dan Beliau menugaskan putra tengahnya itu untuk menunggui Sienna di rumah sakit.
Sienna berdehem. Ia tidak tahu harus memulai percakapan dengan seperti apa. Ia ingin memainkan ponselnya lagi seperti sebelumnya. Namun, batrai ponselnya kian menipis, sedangkan ia tidak tahu di mana Mama Ilona menyimpan charger-nya.
“Ada apa?” Suara dingin itu menembus indera pendengaran Sienna, membuatnya sontak menoleh.
“It- itu… Kakak tahu di mana charger HP ku? Batrainya mau habis. Cuma tadi aku belum sempat tanya ke Mama,” jawab Sienna.
Gama meraih tasnya, kemudian mengeluarkan charger miliknya dan menyerahkannya pada Sienna.
“Makasih,” ungkap SIenna. Gadis itu kemudian turun dari atas tempat tidur. Kakinya sempat gemetar begitu menyentuh dinginnya lantai. Ia berjalan pelan menuju colokan yang ada di dekat nakasnya, kemudian men-charge ponselnya di sana.
“Kakak nggak mau cari makan malam dulu? Kakak belum makan, kan?” tanya Sienna. Ia senang Galen berada di sini. Namun, di sisi lain ia juga kurang nyaman dengan suasana canggung ini. Jika Galen mau pergi untuk mencari makan, mungkin Sienna bisa memanfaatkan waktu untuk berusaha tidur, supaya ketika Galen kembali, ia sudah dalam keadaan tidur, tidak harus terjebak semakin lama dengan kecanggungan itu.
“Kalau aku pergi dan tiba-tiba terjadi sesuatu sama kamu, bagaimana cara aku akan menjelaskannya ke Mama?” balas Galen sinis.
“Eh? Aku nggak papa kok. Lagian aku sudah baik-baik saja sekarang,” ucap Sienna. “Kalau Kakak mau keluar sebentar, nggak papa. Aku janji nggak akan bikin masalah selama Kakak nggak ada.”
Galen menatap Sienna dengan tatapan yang rumit. Kemudian, dengan raut wajah yang tampak kesal, pria itu bangkit dari duduknya.
“Baguslah kalau begitu. Kebetulan aku memang ada janji sama salah satu teman wanitaku buat dinner bareng dia,” ucap Galen dengan nada yang sangat angkuh.
Napas Sienna tercekat. Ia tidak mengerti, kenapa Galen harus memperjelas semua itu di depannya. Apa tidak bisa jika pria itu langsung pergi begitu saja tanpa harus mengumbar soal rencana pertemuannya dengan seorang wanita itu?
Sienna menghela napas panjang, lalu kepalanya mengangguk kecil. “Baiklah kalau begitu.”
Sienna tahu, dirinya tidak akan mungkin bisa menahan kepergian Galen. Ia pun akhirnya membiarkan Galen pergi dari ruangan perawatannya, meninggalkan dirinya seorang diri di dalam sana.
Bibir Sienna mengulas senyum miris saat netranya menatap pintu yang baru saja tertutup dari luar. “Bahkan aku sedang dirawat di rumah sakit saja dia masih kepikiran buat bikin janji sama perempuan lain,” gumamnya pilu.
Sienna menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya secara perlahan. Ia berusaha menata hatinya. Toh tak ada juga yang bisa ia lakukan. Ia sudah berusaha berbagai cara untuk merebut hati Galen, tetapi nyatanya ia tidak pernah bisa.
Saking sepinya ruang rawat yang Sienna tempati, ia bahkan sampai bisa mendengar detak jam yang bergerak. Tatapannya kosong, hingga seorang perawat masuk untuk mengecek kondisinya.
“Infusnya habis dan darah Anda kesedot ke atas. Apa tidak ada kerabat yang bisa menunggu?” tegur perawat tersebut.
Sienna menatap selang yang melekat di tangannya, hingga ia sadar jika cairan berwarna merah yang berasal dari tubuhnya sudah mulai mengalir semakin tinggi di selang itu.
“Ah… maaf,” cicit Sienna.
“Mbak nggak ada yang jaga, ya? Sebentar biar saya ambilkan ganti infusnya,” ucap perawat itu, lalu buru-buru pergi.
Tak lama, perawat itu kembali. Sienna terus memperhatikan ketika infusnya diganti. Perlahan, cairan merah yang mengalir di dalam selang itu pun turun kembali masuk ke tubuhnya.
“Keluarga Mbak nggak ada yang bisa jagain? Meski keadaan Mbak udah membaik, tapi namanya orang sakit ada baiknya ditungguin, Mbak. Supaya kalau ada sesuatu yang urgent ada yang bisa manggil bantuan petugas,” ucap perawat itu dengan hati-hati.
“Ada kok, Sus. Kebetulan suami saya cuma lagi keluar cari makan. Nanti juga balik lagi ke sini dia,” balas Sienna yang tidak ingin tampak terlalu nelangsa di mata orang.
“Ok, oke. Selama nggak ada yang nunggu, ini saya dekatkan ya, Mbak. Kalau Mbak ada perlu atau butuh bantuan, bisa pencet tombolnya biar petugas tahu.”
Sienna mengangguk. “Makasih ya, Sus.”
“Oh iya. Ini obat untuk malam harinya. Mau saya bantu minum sekarang atau mau menunggu suaminya saja?”
Kalau menunggu Galen, Sienna bahkan tidak yakin pria itu akan kembali sebelum tengah malam.
“Hmm… boleh minta tolong ambilkan air putih saja, Sus? Sepertinya di laci ada. Biar saya minum sekarang saja obatnya,” pinta Sienna.
Suster itu mengangguk, lalu segera mengambil air mineral untuk membantu Sienna meminum obatnya.
“Kalau tidak ada lagi yang perlu saya bantu, saya keluar dulu ya, Mbak,” pamit suster itu.
Sienna mengangguk. Sekali lagi, ia mengucap terima kasih sebelum perawat itu benar-benar keluar dari ruangannya.
Dan… tersisalah Sienna sendiri di ruangan ini. Awalnya, ia pikir dirinya akan sulit tidur mengingat ia sempat pingsan dalam waktu yang lama. Ia juga tadinya tidak merasa ngantuk sama sekali. Namun, mungkin karena efek obat, sehingga rasa kantuk itu dengan cepat datang padanya.
Tidur Sienna terusik saat seseorang menggerakkan bantalnya. Perlahan, mata Sienna pun terbuka. Ia tampak waspada saat melihat seorang pria di depannya. Ia pun segera berusaha untuk duduk, tetapi pria itu menahannya untuk tetap berbaring.
“Maaf kalau bikin tidur kamu terganggu. Saya cuma mau benerin posisi bantal kamu aja supaya kamu bisa tidur lebih nyaman,” ujar pria itu.
Setelah Sienna perhatikan, ternyata pria itu mengenakan jas dokter. Itu artinya, dia adalah dokter yang sedang visit malam ini.
“Oh, iya. Maaf, Dok. Saya nggak tahu kalau-”
“Tidak papa. Tadi saya juga sudah minta izin ke kamu. Tapi sepertinya kamu memang lagi lelap banget tidurnya,” ucap dokter itu sambil tersenyum hangat.
“Udah nggak pusing lagi?” Sienna menggeleng.
“Kepalanya juga udah nggak sakit, kan?” Lagi, Sienna menggeleng.
“Saya sudah nggak merasa kenapa-kenapa kok, Dok,” jawab Sienna.
“Bagus. Kalau begitu, besok pagi sepertinya kamu sudah bisa pulang,” kata dokter itu. “Kalau begitu, kamu lanjut lagi saja tidurnya! Istirahat yang cukup, ya!”
Dokter itu tampak berkemas, sebelum akhirnya keluar dari ruang rawat Sienna bersama seorang perawat yang mendampinginya.
Sienna sempat membaca name tag yang menempel di jas dokter tampan tadi. Kalau tidak salah mengeja, namanya adalah Shakala Wijaya. Dari caranya memperlakukan pasien, tampaknya dia memiliki kepribadian yang hangat dan ramah.
Perlahan, mata Sienna pun tertutup kembali. Ia bisa tertidur dengan begitu mudah, hingga tak sadar ketika akhirnya Galen kembali tak lama setelah Sienna memejamkan matanya.
Galen menatap Sienna yang sudah tertidur. ia memperhatikannya dengan saksama, untuk memastikan jika gadis itu sudah benar-benar tidur, tidak hanya sedang berpura-pura. Namun, bagaimana lagi? Ini hampir tengah malam. Bahkan jika sedang tidak sakit pun, Sienna juga pasti sudah tertidur kan jika semalam ini?
“Dia benar-benar bisa tidur segampang itu? Hhh…” Galen tampak kesal. “Setidak penting itu aku di matanya? Bisa-bisanya. Tahu begitu aku nggak usah kembali ke sini malam ini.”
Galen membanting tubuhnya dengan kasar di sofabed yang memang disediakan khusus untuk menunggu pasien di ruang VIP itu. Ia tidur dengan membelakangi Sienna. Namun, ia tak kunjung dapat menutup matanya. Lelaki itu bergerak resah, sampai akhirnya ia membalik tubuhnya hingga dirinya bisa melihat Sienna yang sedang memejamkan matanya dengan nyaman.
“Kalau bukan gara-gara dia, aku nggak akan tidur di rumah sakit seperti ini,” gumam Galen dengan kesal.
Meski demikian, untuk waktu yang cukup lama, Galen masih betah memandangi wajah jelita itu. Galen merasa, ada waktu di mata wajah itu mengingatkannya pada Stella. Saat matanya terpejam, bentuk kelopak mata dan alis Sienna sangat mirip dengan Stella. Mungkin itulah yang membuat Galen merasa betah memandanginya cukup lama malam ini, bahkan hingga menjadikan pemandangan tersebut sebagai pengantarnya terjun ke dunia mimpi.
“I really miss you, Stel. Harusnya kamu yang ada di sini. Harusnya kamu masih ada di depan mataku saat ini,” batin Galen, sebelum akhirnya ia harus mengaku kalah dengan rasa kantuknya.