BAB 20

1184 Words
            “David,” kedua daun bibir Lanna ternganga.             David maju beberapa langkah dan dia menyentuh pinggang Lanna ketika sampai di samping Lanna. Dia menatap tajam Lanna seraya berkata, “Besok kan kita ada acara sama Ron.” Kata David dengan isyarat mata melotot.             Tanpa disadari Lanna maupun David, Ramon menatap curiga mereka. “Kenapa Ron selalu ada urusan sama kalian? Kalian itu kan pengantin baru kenapa Ron harus ngintilin kalian sih?”             “Emmm, kita kan berbisnis dengan Ron.” Jawab David meremas erat pinggang Lanna hingga Lanna berjengit meskipun tanpa diingkari dia merasakan sensasi aneh di perutnya.             Mata Ramon tertuju pada tangan yang menggenggam pinggang Lanna. “Oh bisnis,” dia kembali menatap David. “Bukan bisnis prostitusi kan? Mengingat betapa mesumnya anak itu.” Ramon cekikikan.             “Ya enggaklah, Kak.” Sembur David.             “Okelah kalau begitu. Aku Cuma nawarin Lanna, kali Lanna bosen di rumah. Pengantin baru tanpa bulan madu seperti taman tanpa bunga.” Ramon bergumam seraya bangkit.             Setelah kepergian Ramon, Lanna melepaskan tangan David yang melingkari pinggangnya. Dia merasa sedikit sakit akibat remasan David. Dia memelotot pada suaminya.             “Apa?” tanya David menantang.             “Aku bosen ketemu Ron mulu.”             “Aku bohong kok.”             “Bohong?” dahi Lanna mengernyit.             “Iya, besok itu kita akan pergi berduaan.”             “Ke-ma-na?” tanya Lanna mendekatkan wajahnya pada wajah David.             “Ke Nep-tu-nus.” Kata David persis seperti nada suara Lanna.             Lanna memukul lengan David sebal. Dia berbalik badan dan lupa akan tujuan utamannya untuk minum. ***             Tidak ada Ron. Mereka pergi berdua hari ini. Entah kemana David akan membawa Lanna karena dari pagi dia hanya bilang akan pergi bersama Lanna tanpa memberitahu kemana tujuan mereka akan pergi.             “Sebenarnya kita mau kemana sih?”             “Muter-muter aja.”             “Nggak jelas banget!” Lanna kesal.             “Aku heran deh, kenapa Ramon selalu ngajak kamu pergi.” David menatap Lanna sekilas.             Lanna terbengong. Iya juga sih, perasaan Ramon lebih sering ngajak aku pergi.             “Dia kan kakak iparku. Mungkin dia kasihan lihat aku di rumah terus. Kamu kenapa malah heran gitu sih. Lagian Ramon ngajak aku juga pasti karena disuruh kakek.”             David tidak berkomentar. Dia hanya diam. Diam seribu makna.             Hening.             Hening lama.             Tidak ada yang mau memulai pembicaraan lagi sejak membicarakan Ramon. Lanna melihat kecurigaan pada David, karena apa yang dirasakannya juga mungkin sama dengan apa yang dirasakan David. Bukan soal tatapan-tatapan Ramon itu—tapi mungkin saja soal Ramon tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Lanna dan David? Mungkinkah?             David memilih berhenti di sebuah kafe berkonsep alam di Jalan Sudirman. Mereka duduk di bawah pohon rindang ditemani angin Jakarta.             “Kita harus berhati-hati, Lann. Aku takut kakakku tahu soal pernikahan kita.” Kata David dengan tatapan khawatir. Meskipun kalau Ramon tahu dia tak kan memberitahu keluarga besar mereka. Hanya saja David tidak ingin ada orang yang tahu soal pernikahan kontrak selain mereka berdua dan Ron.             “Jauhi kakakku.” Pinta David.             Lanna mendongak. Menjauhi Ramon? Tentu itu hal yang sulit karena Ramon secara tidak langsung sudah menyihir hatinya dengan tingkah dan sikapnya yang hangat, ramah dan lucu.             “Dan soal surat wasiat...” David menggantungkan kalimatnya.             “Kakek akan mendatanganinya saat kita sudah memiliki anak.” Ujarnya dengan suara lemas. Lanna nyaris terlompat dari tempat duduknya. “Kakek baru memberitahuku tadi malam saat kamu masuk kamar dan aku masih di dapur.”             “Maksudmu...”             “Lann, kita bisa berbohong kalau rahimmu lemah atau apalah. Aku yakin kakek bisa mengerti. Kamu jangan khawatir. Aku nggak akan menyentuhmu.”             “Tapi kalau sampai aku menyentuhmu, ingetin aku kalau di surat perjanjian kontrak aku nggak bisa nyentuh kamu.”             “Hah?” Lanna mengeluarkan kata ‘hah’ nyaring.             David terbahak. “Aku bercanda. Aku nggak akan nyentuh kamu. Janji, deh.” ***               Semenjak Lanna menikah, Kirana merasa kesepian. Tidak ada tingkah konyol Lanna saat Lanna masih tinggal di apartemennya. Rasanya Kirana seperti hidup sendiri lagi. Barangkali kalau dia bisa menyusul Lanna untuk menikah dia mungkin tidak kesepian. Biasanya setiap pagi Lanna membuatkannya teh atau kopi. Bikin nasi goreng dari nasi sisa kemarin atau mie rebus dengan telor setengah matang ditambah cabe ijo. Sekarang Kirana malah lebih suka sarapan di kantor.             Walaupun Lanna sudah menikah, tapi mereka masih bisa dengan mudah bertemu. Apalagi David adalah bos Kirana sehingga—tentu saja tidak masalah kalau Lanna sering bareng Kirana lagi. Dan lagi, mereka itu hanya menikah kontrak. Itu memberikan kebebasan pada Lanna untuk bergaul dan pergi dengan siapa saja selagi dia bisa menjaga rahasia pernikahan mereka.             Kirana melihat meja kosong milik David. Dulunya ruangan yang bersebelahan dengan ruangan David ini adalah ruangan Lanna tapi sekarang posisi Lanna digantikan olehnya dan untuk posisi akuntan diganti orang lain. David lebih suka kalau Kirana jadi sekretarisnya dibandingkan orang asing.             David mengiriminya pesan kalau dirinya akan datang ke kantor di jam siang dengan membawa Lanna. Agak mengherankan memang, karena Lanna akhir-akhir ini sering dibawa ke kantor. Kemarin saat ada Ron, David membawa Lanna ke kantor. Sayangnya dia punya tugas ke perusahaan lain sehingga tidak sempat bertemu Lanna.             Kirana membenarkan letak kacamatanya.             “Adem ya nggak ada kabar soal Anita.” Kirana tersenyum senang. Akhirnya wanita gila itu lenyap juga. Ya, mungkin karena sekarang David sudah menikah dengan Lanna sehingga Anita enggan kembali mendekati David.             Kirana menarik napas perlahan. Dia mengingat saat adegan Lanna menyuapi David es krim pada hari pernikahannya. Kirana sempat melihat Sarah menatap tidak suka David dan Lanna atau mungkin Sarah tidak suka pada Lanna. Dia melihat urat wajah jahat yang keluar dari Sarah. Kirana menggeleng.             “Mungkin itu Cuma pikiran jelek aku aja kali ya.”             Dia kembali memfokuskan diri menatap layar komputernya.             Tapi wajah urat jahat yang terpancar dari wajah Sarah menghantuinya lagi.             “Kenapa aku malah khawatir gini sih. Lagian Lanna dan David kan menikah kontrak. Mereka nggak cinta satu sama lain.” Kirana menggigit kukunya. Dia memiliki kebiasaan suka menggigit kuku saat panik atau memikirkan sesuatu yang buruk. ***             Ramon masuk ke kamar David tanpa sepengetahuan sang pemilik kamar. Dia mencari-cari sesuatu di kamar David. Dengan wajah masam—yang sama sekali tidak mengurangi kemanisan wajahnya, Ramon menggeledah dari satu laci ke laci lainnya.             Bukannya dia mau ikut campur urusan adiknya, tapi dia hanya tidak terima kalau David mempermainkan Lanna seperti ini. Menikahinya lalu menceraikannya seakan-akan Lanna tidak berharga sebagai seorang wanita. Oke, mungkin Ramon tidak akan peduli kalau wanita yang dinikahi adiknya bukanlah Lanna. Karena ya, karena Lanna gadis baik-baik dan polos. Karena Lanna berhak mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan. Karena Lanna bukanlah sebuah umpan untuk memancing ikan.             Karena ya... Ramon menyadari bahwa dia mulai jatuh hati pada adik iparnya. Bahwa dia juga meyakini hal demikian. Tapi dia tidak akan pernah mengatakannya perasaannya pada siapa pun kecuali pada Lanna. Kalau memang benar Lanna dan David menikah tanpa cinta. Tapi kalau keduanya saling mencintai, maka Ramon tidak akan pernah mengungkapkan perasaannya pada Lanna. Dia tidak akan mau merusak hubungan David dan Lanna. Dan David adalah adik satu-satunya. Adik yang disayanginya.             Ramon mengernyit ketika dia mendapatkan sebuah berkas yang berisi tanda tangan Lanna dan David di laci lemari paling bawah.             “Kepingan puzzle.” Gumamnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD