Fadil menyalakan lampu yang berada di ruang tengah lalu cepat-cepat menuju ke kamarnya. Ia membuka pintu kamar lalu menyalakan lampu kamar. Elma tidak berada di dalam kamar. Fadil menjadi panik. Ia membuka lemari baju, ia melihat baju-baju Elma tidak ada di dalam lemari. Ia bertambah panik. Ia merasa Elma sudah meninggalkan rumah mereka.
Fadil keluar dari kamar, tanpa sengaja ia melihat kamar kosong yang berada di sebelah kamar utama. Kamar itu sering digunakan oleh orang tua dan adik-adik Elma, ketika mereka datang berkunjung. Kamar itu terlihat gelap. Fadil membuka pintu kamar itu, namun pintu kamar itu terkunci. Biasanya pintu kamar itu tidak pernah dikunci. Fadil mengetuk pintu kamar itu.
“Elma.” Fadil memanggil istrinya. Tidak terdengar suara apa-apa dari dalam kamar.
“Elma.” Sekali lagi Fadil mengetuk pintu kamar dan memanggil istrinya. Namun, tetap saja tidak ada jawaban dari dalam kamar. Fadil merasa jika Elma berada di kamar tersebut dan tidak ingin bertemu dengannya. Fadil merasa tenang setelah mengetahui istrinya masih berada di dalam rumah. Fadil pun masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Tubuhnya sudah sangat lelah setelah mengantar mamanya dan Fitri berbelanja untuk acara seserahan nanti.
.
.
Suara dering alarm dari telepon seluler membangunkan Fadil. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima subuh. Sudah waktunya Fadil untuk bangun dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Fadil teringat dengan Elma yang berada di kamar sebelah. Fadil cepat-cepat beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar sebelah. Ia melihat lampu kamar itu menyala. Fadil bernapas lega ternyata benar Elma berada di dalam kamar itu.
Fadil mendekati kamar itu, sayup-sayup terdengar suara Elma sedang membaca Al Qur’an. Ia tersenyum mendengar suara istrinya yang sedang mengaji. Fadil membiarkan Elma mengaji. Lebih baik ia bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Hari ini adalah hari Senin perjalanan menuju ke kantor pasti sangat macet. Fadil memutuskan untuk berangkat lebih awal dari biasanya.
Setelah mandi dan sholat subuh Fadil membuat sarapan untuk ia dan Elma. Dengan bahan seadanya Fadil membuat nasi goreng. Setelah selesai memasak Fadil kembali menuju kamar Elma. Fadil mengetuk pintu kamar.
“Elma, makan dulu! Mas sudah membuatkan nasi goreng,” ujar Fadil.
Elma tetap tidak menjawab panggilan Fadil. Fadil merasa Elma membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Ia pun menuju ke kamar untuk bersiap-siap berangkat ke kantor.
Fadil keluar dari kamar membawa tas kerja. Sebelum berangkat Fadil kembali mendekati kamar Elma. Ia mengetuk pintu kamar Elma.
“Elma. Mas berangkat ke kantor. Kamu tidak usah kerja dulu. Istirahat saja di rumah! Assalamualaikum,” ujar Fadil. Fadil pun berangkat ke kantor.
Beberapa menit setelah Fadil pergi Elma keluar dari kamar. Ia sudah mengenakan pakaian rapih. Ia hendak pergi keluar. Elma berjalan menuju ke meja makan ia melihat nasi goreng buatan Fadil. Kebetulan perutnya sangat lapar sekali. Dari tadi siang ia belum makan apa-apa. Ia menangis terus meratapi nasibnya yang malang sehingga ia tidak merasa lapar. Sebentar lagi Fadil akan menikah dengan perempuan lain. Elma tidak ingin dimadu.
Elma duduk di kursi makan. Ia menuangkan nasi goreng ke atas piring. Ia memakan nasi goreng itu, rasanya tidak enak karena kurang bumbu. Namun, karena perutnya sangat lapar Elma menghabiskan nasi goreng yang berada di atas piring.
Setelah selesai makan Elma mengirim pesan kepada bapak mertuanya. Ia memberitahu kalau ia akan pulang ke rumah orang tuanya di Bandung. Bagaimanapun juga ia harus pamit, namun ia tidak ingin pamit kepada Fadil. Fadil pasti akan melarangnya pergi meninggalkan rumah mereka.
Beberapa saat setelah ia mengirim pesa,n tiba-tiba terdengar suara dering telepon seluler. Di layar telepon seluler tertulis Papa Angga calling. Elma ragu untuk menjawab, bapak mertuanya pasti melarang ia untuk pergi. Namun, telepon itu terus saja berdering. Terpaksa Elma menjawab panggilan Angga.
“Assalamualaikum,” ucap Elma.
“Waalaikumsalam.” Terdengar suara Angga di telepon.
“Kamu sekarang dimana?” Angga terdengar cemas.
“Masih di rumah, Pa,” jawab Elma.
“Jangan pergi dulu! Tunggu sampai Papa datang. Papa akan mengantar kamu pulang ke Bandung,” ujar Angga.
“Jangan, Pa! Nanti Mama marah,” kata Elma.
“Kamu tenang saja. Mama tidak akan tahu. Sekarang ini Papa sedang dalam perjalanan ke lapangan golf. Papa akan bermain golf dengan teman-teman Papa. Jadi Mama tidak tahu kalau Papa pergi mengantarkanmu,” ujar Angga.
“Baiklah, Pa.” Elma terpaksa menyetujui ide Angga.
“Sekarang Papa akan ke rumahmu. Assalamualaikum.” Angga mengakhiri pembicaraannya.
Setengah jam kemudian, Angga sampai di rumah Elma. Elma cepat-cepat keluar dari dalam rumah ketika mendengar suara mobil datang. Ia membuka pintu pagar.
“Assalamualaikum,” ucap Angga.
“Waalaikumsalam,” jawab Elma. Elma menghampiri Angga lalu mencium tangan Angga.
“Kamu sudah siap?” tanya Angga.
“Sudah, Pa,” jawab Elma.
“Kita berangkat sekarang,” ujar Angga.
Elma masuk ke dalam rumah lalu mengambil koper-koper dan tas travel bag miliknya. Elma membawa semua pakaiannya. Elma tidak memikirkan perabotan miliknya, yang terpenting dia bisa pergi dari rumah ini. Setelah semua koper-koper dan tas dimasukkan ke dalam bagasi mobil, merekapun pergi meninggalkan rumah itu.
Angga fokus menyetir mobil. Sesekali ia melirik menantunya yang duduk di sampingnya. Elma melihat ke depan sambil sesekali mengelap air matanya dengan menggunakan tissue. Angga menghela napas. Ia merasa kasihan kepada menantunya. Kebahagiaan rumah tangga putranya hancur berantakan akibat ulah istrinya.
“Papa minta maaf, El,” ucap Angga. Elma menoleh ke Angga.
“Gara-gara Mama ingin mempunyai cucu dari Fadil, kebahagiaan rumah tangga kalian jadi berantakan,” ujar Angga sambil fokus menyetir mobil.
“Tidak apa-apa, Pa. Mungkin ini sudah takdir Elma untuk berpisah dengan Mas Fadil,” jawab Elma. Ia pun menunduk, lalu memainkan tissue yang berada di tangannya.
“Mungkin kalian berdua ditakdirkan menjadi orang tua angkat untuk anak-anak yatim piatu. Itulah mengapa kalian belum dikaruniai anak,” ujar Angga. Pemikiran Angga berbeda dengan pemikiran Rika. Bagi Angga setiap masalah yang terjadi pasti ada segi positif.
“Dasar mama Fadil keras kepala! Dia tetap ingin cucu kandung tidak mau cucu angkat,” lanjut Angga.
Elma teringat sudah berapa kali ia dan Fadil ingin mengangkat anak, selalu saja dihalangi oleh ibu mertuanya.
“Untuk apa mengangkat anak? Tidak enak mengurus anak orang. Mereka itu hanya menyusahkan. Kalau sudah besar pasti akan selalu menimbulkan masalah. Lebih baik mengurus anak sendiri. Kalian berdua harus lebih berusaha lagi untuk bisa mendapatkan anak.” Begitu yang dikatakan oleh Rika. Elma menghela napas mengingat kejadian tersebut.
“Apa rencanamu ke depan?” Angga menoleh sebentar ke arah Elma.